Selintas Pikiran Selepas Ramadan

Lama tidak menulis (lagi) setelah postingan sebelumnya membuat saya merasakan sesuatu yang mengganjal. Saya mengira saya bisa melewati hari-hari dengan berpikir dan mengendapkan semuanya dalam diri sendiri, tetapi ternyata perkiraan saya salah. Meski saya tidak merasakan dampaknya secara langsung, saya merasakan suatu ancaman sedang menggerus diri saya perlahan-lahan. Menulis tidak lagi menjadi suatu hal yang menyenangkan dan dapat secara spontan dilakukan, tetapi justru rangkaian prosedur yang rumit dan aaya elakkan dengan seribu alasan. Alasan perangkat, alasan manfaat, alasan waktu, alasan entah apa lagi.

Ramadan baru saja berlalu beberapa hari lalu, tetapi saya masih merasa duniawi sekali meski telah berupaya menyeimbangkannya perlahan-lahan.

Idulfitri kali ini terasa lebih solemn dibandingkan biasanya. Ada banyak hal yang saya pikirkan dan mudah-mudahan bisa tertuang menjadi tulisan.

Selamat Idulfitri!

Advertisements

Selintas Pikiran Selepas Ramadan

Lama tidak menulis (lagi) setelah postingan sebelumnya membuat saya merasakan sesuatu yang mengganjal. Saya mengira saya bisa melewati hari-hari dengan berpikir dan mengendapkan semuanya dalam diri sendiri, tetapi ternyata perkiraan saya salah. Meski saya tidak merasakan dampaknya secara langsung, saya merasakan suatu ancaman sedang menggerus diri saya perlahan-lahan. Menulis tidak lagi menjadi suatu hal yang menyenangkan dan dapat secara spontan dilakukan, tetapi justru rangkaian prosedur yang rumit dan aaya elakkan dengan seribu alasan. Alasan perangkat, alasan manfaat, alasan waktu, alasan entah apa lagi.

Ramadan baru saja berlalu beberapa hari lalu, tetapi saya masih merasa duniawi sekali meski telah berupaya menyeimbangkannya perlahan-lahan.

Idulfitri kali ini terasa lebih solemn dibandingkan biasanya. Ada banyak hal yang saya pikirkan dan mudah-mudahan bisa tertuang menjadi tulisan.

Selamat Idulfitri!

Life, Lately

Sudah berlalu tiga bulan dari awal tahun 2018 dan saya mulai merasa baal dengan mimpi-mimpi yang sempat saya tuliskan di buku waktu itu. Hmm, tapi cerita itu biar saya simpan sendiri saja. Kali ini, saya ingin mematahkan asumsi sesat yang saya buat sendiri: bahwa saya agaknya mampu bertahan tanpa menulis hingga berminggu-minggu lamanya, yang ternyata tidak benar. Dalam beberapa alinea berikutnya, saya barangkali akan bercerita semi melantur. Silakan tinggalkan postingan ini kapan pun Anda merasa tidak berkenan.

Continue reading “Life, Lately”

Panggilan Jiwa

sunset-2451905_1920

Tadi pagi, alhamdulillah saya beserta dua orang rekan kerja mendapat kesempatan untuk menghadiri acara silaturahmi dengan pimpinan Kopertis Wilayah X. Dalam acara tersebut, ada banyak hal yang beliau (Koordinator Kopertis Wilayah X) sampaikan, tetapi intinya adalah pentingnya meningkatkan kualitas sebagai seorang tenaga pendidik (awalnya saya salah baca judul pada slide; saya kira tenaga kependidikan, yang mana kurang relevan dengan pekerjaan saya). Barangkali hal ini tak lebih dari petuah klise. Saya pun tak memungkiri hal itu karena pada beberapa kesempatan, saya kerap mendengar para pakar menyeru dosen untuk meningkatkan kualitas mereka.

Namun, mengapa dosen harus meningkatkan kualitas mereka?

Continue reading “Panggilan Jiwa”