Dalamnya Laut Dapat Diduga, Dalamnya Hati Siapa Tahu?

Ketika kita melihat tindakan atau perilaku seseorang, apakah yang akan kita lakukan pada saat itu? Menerimanya begitu saja atau menghakiminya habis-habisan?

Saya pribadi senang memikirkan (jika tidak menganalisis) hal-hal yang saya temukan di sekeliling saya. Dalam melakukan proses tersebut, saya tidak bisa lepas dari proses menilai, yang saya akui kadang tidak begitu objektif. Saya hanya berusaha untuk tetap kritis dan tidak serta merta menerima sesuatu begitu saja, bahkan penilaian sementara yang saya buat pun biasanya akan saya kritisi belakangan.

Continue reading “Dalamnya Laut Dapat Diduga, Dalamnya Hati Siapa Tahu?”

Advertisements

New Force, Perhaps?

Beberapa bulan belakangan, saya merasa semakin sering berpikir (dan memendam pertanyaan-pertanyaan seorang diri) dan semakin jarang menulis. Ada hal-hal krusial yang sayangnya baru terpikirkan sekarang dan saya menyesalinya karena itu. Namun barangkali saya tak perlu sedemikian menyesal karena agaknya inilah takdirnya. Bahwa saya, pada tahun ini, harus menghadapi riak-riak, masalah-masalah, dan kejutan-kejutan yang sedikit banyaknya dipengaruhi oleh apa-apa yang saya pilih sebelumnya.

Baiklah, mudah-mudahan tidak terdengar terlalu depresif.

Barangkali yang saya syukuri adalah kedatangan orang-orang baru di tempat saya bekerja. Sebenarnya tidak terlalu baru juga jika dihitung dalam ukuran hari, minggu, bahkan bulan. Mereka yang datang dari berbagai latar belakang datang sebagai orang yang masih segar pemikirannya, dengan segala karakteristiknya masing-masing, ikut mewarnai kehidupan kerja saya yang sebelumnya lumayan membuat stres. Memang hasilnya tidak serta-merta membuat beban pikiran saya hilang, tetapi kedatangan mereka disusul dengan diskusi-diskusi, kegiatan-kegiatan, dan gagasan-gagasan yang beresonansi dengan idealisme saya. Saya merasa diyakinkan sekali lagi bahwa idealisme tak serta-merta mati begitu seseorang menginjak dewasa dan mengakhiri pendidikan sarjananya. Mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan justru punya kesempatan yang lebih banyak untuk mempertahankan nilai-nilai yang seharusnya dipegang teguh, alih-alih menyerah begitu mudah pada keadaan, pada tuntutan pihak luar yang dapat mencederai esensi suatu proses pendidikan itu sendiri.

Saya merasa beruntung dengan kehadiran mereka, sebuah kekuatan baru, kalau boleh saya menyebutnya. Mudah-mudahan semakin hari saya semakin dikuatkan untuk menghadapi tantangan yang menanti di depan.

Ciao!

Selintas Pikiran Selepas Ramadan

Lama tidak menulis (lagi) setelah postingan sebelumnya membuat saya merasakan sesuatu yang mengganjal. Saya mengira saya bisa melewati hari-hari dengan berpikir dan mengendapkan semuanya dalam diri sendiri, tetapi ternyata perkiraan saya salah. Meski saya tidak merasakan dampaknya secara langsung, saya merasakan suatu ancaman sedang menggerus diri saya perlahan-lahan. Menulis tidak lagi menjadi suatu hal yang menyenangkan dan dapat secara spontan dilakukan, tetapi justru rangkaian prosedur yang rumit dan aaya elakkan dengan seribu alasan. Alasan perangkat, alasan manfaat, alasan waktu, alasan entah apa lagi.

Ramadan baru saja berlalu beberapa hari lalu, tetapi saya masih merasa duniawi sekali meski telah berupaya menyeimbangkannya perlahan-lahan.

Idulfitri kali ini terasa lebih solemn dibandingkan biasanya. Ada banyak hal yang saya pikirkan dan mudah-mudahan bisa tertuang menjadi tulisan.

Selamat Idulfitri!

Selintas Pikiran Selepas Ramadan

Lama tidak menulis (lagi) setelah postingan sebelumnya membuat saya merasakan sesuatu yang mengganjal. Saya mengira saya bisa melewati hari-hari dengan berpikir dan mengendapkan semuanya dalam diri sendiri, tetapi ternyata perkiraan saya salah. Meski saya tidak merasakan dampaknya secara langsung, saya merasakan suatu ancaman sedang menggerus diri saya perlahan-lahan. Menulis tidak lagi menjadi suatu hal yang menyenangkan dan dapat secara spontan dilakukan, tetapi justru rangkaian prosedur yang rumit dan aaya elakkan dengan seribu alasan. Alasan perangkat, alasan manfaat, alasan waktu, alasan entah apa lagi.

Ramadan baru saja berlalu beberapa hari lalu, tetapi saya masih merasa duniawi sekali meski telah berupaya menyeimbangkannya perlahan-lahan.

Idulfitri kali ini terasa lebih solemn dibandingkan biasanya. Ada banyak hal yang saya pikirkan dan mudah-mudahan bisa tertuang menjadi tulisan.

Selamat Idulfitri!