Catatan buat mahasiswa

Waktu itu, saya menghadiri ceramah subuh di mesjid yang terletak di depan rumah bako (rumah keluarga ayah) saya. Nah, kebetulan sekali, ceramah yang diberikan oleh si ustadz itu sangat menyentil saya sebagai seorang mahasiswa.

Ehm, beginilah kira-kira isi ceramahnya (dengan sedikit improvisasi)….

Di Indonesia, jumlah siswa SMA dan sederajat yang melanjutkan pendidikan ke universitas hanya 14%. Di Amerika, jumlah itu berkisar 60%, sementara di Korea Selatan, lebih tinggi lagi, yaitu 90%.

Rata-rata mahasiswa Indonesia mengambil > 20 SKS per semesternya, sedangkan di Amerika, mahasiswa hanya mengambil mata kuliah yang setara dengan 4, 6, atau 8 SKS. Kenapa? Karena setiap mahasiswa ditugaskan untuk membaca buku sebanyak ‘sekian’ lembar (saya tidak ingat pasti, yang jelas cukup banyak dan memberatkan) per minggunya, lalu mereka harus membuat ringkasan buku tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia? Saya yakin, tidak banyak yang melakukan hal serupa (termasuk saya).

Frekuensi kunjungan mahasiswa Amerika ke perpustakaan sangat tinggi (dan saya yakin, mereka melakukan hal yang bermanfaat di sana), sementara mahasiswa Indonesia hanya pergi ke perpustakaan bila ada tugas dari dosen, itupun sekadar meminjam buku, lalu bukunya dibawa pulang (alias tidak betah berlama-lama di perpustakaan). Saya juga termasuk salah satunya.

Amien Rais sanggup berada di perpustakaan 18 jam per harinya. Sedangkan mahasiswa Indonesia? Mungkin hanya sanggup 12 jam/bulan, atau malah mungkin per tahunnya.

Mahasiswa Indonesia sangat menyukai buku-buku ringkasan, rangkuman, pokoknya buku-buku tipis yang sudah mencakup semua materi kuliah. Kalau perlu, mereka akan memfotokopi diktat dosen, atau bahkan menanyakan model soal kepada dosen. Lagi-lagi, saya juga termasuk di dalamnya.

Nah, bagaimana dengan kalian, para mahasiswa? Merasa tersindir, atau ‘tertohok’?

Well, saya benar-benar tertohok setelah mendengar ceramah ustadz tersebut. Pantas saja mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di luar negeri begitu maju, sementara kita jauh tertinggal, terseok-seok, di belakang mereka.

Dan apa komentar mama saya setelah ceramah?

Mama: Kayaknya ustadz itu tahu kalo ada mahasiswa yang pulang kampung

(Saya: nyengir)

Mama: Kalo pas jaman mama kuliah dulu, soal ujian itu kebanyakan essay, jadi susah buat nyontek dan harus menguasai bahan. Kalo objektif? Tinggal baca-baca sekilas aja cukup.

Oya, berapa buku yang sanggup kamu baca per hari?

(Saya: kalo ada tugas baru baca buku)

Mama : …….????

Sepulang saya dari masjid, saya kembali merenungkan ceramah ustadz tersebut. Pantas mahasiswa di sini ga maju-maju. Udahlah makanannya hanya buku ringkasan dan diktat dosen, pas mau ujian nanya tipe soal (kalau perlu soalnya sekalian), jawaban dicocokin sama apa yang diajarin dosen, kadang pake nyontek pula lagi.

Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian… semoga kita menjauh dari sifat sedemikian… (lagu Bimbo mode: on)

Mohon maaf kalo ada yang merasa tersinggung, saya cuma menyampaikan informasi yang saya peroleh dan Insya Allah bermanfaat buat kita, para mahasiswa Indonesia yang berjuang menuntut ilmu untuk memajukan agama, bangsa,dan negara (cailahhh).

Hidup mahasiswa!

Advertisements

3 thoughts on “Catatan buat mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s