Farmakoterapi Hepatitis B

EPIDEMIOLOGI

— Area dengan prevalensi tinggi: Afrika sub-Sahara, Asia, Amazon, Eropa Timur dan Tengah.

— Ras dengan prevalensi tinggi: ras kulit hitam non-Hispanik disusul oleh ras Asia-Pasifik dan ras kulit putih non-Hispanik. Ras Hispanik memiliki prevalensi hepatitis B terendah.

—Hepatitis B Virus (HBV) ditularkan secara seksual, parenteral, dan perinatal.

— Penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, terutama darah dan komponen darah.

FAKTOR RISIKO

—Pelancong

—Pengguna obat suntik (IDU)

—Kontak seksual/tinggal serumah dengan penderita

ETIOLOGI

—HBV merupakan virus DNA, termasuk dalam famili Hepadnaviridae.

—Memiliki envelope, berukuran kecil dan mengandung DNA beruntai ganda parsial dengan 3200 pasang basa nitrogen

—DNA ini mengkode 3 protein permukaan: antigen permukaan (HBsAg), antigen inti (HBcAg), protein pra-inti (HBeAg); protein polimerase aktif yang besar; protein transaktivator.

—Ada 7 genotipe (A-H) yang tersebar di wilayah geografis tertentu.

— Masa inkubasi virus ini 1-6 bulan.

PATOFISIOLOGI

image

klik gambar untuk memperbesar

—HBV tidak patogenik terhadap sel, tetapi respons imun terhadap virus ini yang bersifat hepatotoksik.

—Kerusakan hepatosit menyebabkan peningkatan kadar ALT.image

MANIFESTASI KLINIK

Tanda-tanda dan gejala:

  • Mudah lelah, cemas, tidak nafsu makan, dan rasa tidak enak badan.
  • Asites, jaundice (kuning), perdarahan variseal, dan ensefalopati hepatik dapat timbul bersama dekompensasi hati.
  • Ensefalopati hepatik sering dikaitkan dengan hipereksitabilitas, gangguan mental, obtundation, bingung, dan koma.

DIAGNOSIS

—Pemeriksaan fisik:

  • Sklera, kulit, dan sekresi ikterik.
  • Penurunan bunyi usus besar, peningkatan lingkar abdomen, dan adanya pergerakan cairan.
  • Asterixis
  • Spider angiomata

—Tes laboratorium:

  • Adanya Hepatitis B surface antigen (HBsAg) minimal selama 6 bulan.
  • Peningkatan transaminase hati (alanine transaminase dan aspartate transmaninase) dan DNA HBV >105 kopi/mL.
  • Biopsi hati

PENCEGAHAN

—Dengan vaksinasi atau imunisasi (Hepatitis B imunoglobulin)

—Beberapa contoh sediaan vaksin di AS: Twinrix (kombinasi vaksin hepatitis A dan hepatitis B), Recombivax HB, dan Engerix-B.

TERAPI

—Tujuan terapi: meningkatkan seroklirens, mencegah perkembangan penyakit ke arah sirosis, dan meminimalkan kerusakan hati pada pasien.

—Terapi nonfarmakologi:

  • Konseling
  • Vaksinasi dan imunisasi
  • Hindari konsumsi alkohol
  • Ajak pasien untuk berkonsultasi sebelum menggunakan obat baru, termasuk obat herbal dan obat tanpa resep.

—Terapi farmakologi:

1. Interferon (IFN)

—Merupakan sitokin yang memiliki efek antivirus, antiproliferatif, dan imunomodulator.

—Pemberian IFN memerlukan frekuensi pemberian 3 kali seminggu, sehingga digantikan oleh pegylated-IFN (PEG-IFN)

—PEG-IFN memiliki waktu paruh yang lebih panjang daripada IFN, à dapat diberikan 1 kali/minggu.

—Efek samping:

kelelahan, demam, sakit kepala, mual, tidak nafsu makan, kekakuan, mialgia, artralgia, nyeri muskuloskeletal, insomnia, depresi, cemas/emosi labil, alopesia, reaksi di tempat injeksi.

—Dosis:

image

image

—Pertahankan dosis minimum selama 4-6 bulan kecuali dalam keadaan intoleran

 

2. Lamivudine

—Merupakan analog nukleosida

—Memiliki aktivitas antivirus pada HBV maupun HIV.

—Indikasi : Hepatitis B kronik.

—Dosis :

  • Dewasa, anak > 12 tahun : 100 mg 1 x sehari.
  • Anak usia 2 – 11 tahun : 3 mg/kg 1 x sehari (maksimum 100 mg/hari).

—Efek samping : diare, nyeri perut, ruam, malaise, lelah, demam, anemia, neutropenia,  trombositopenia, neuropati, jarang pankreatitis.

—Perhatian : pankreatitis, kerusakan ginjal berat, penderita sirosis berat, hamil dan laktasi.

—Interaksi obat : Trimetroprim

—Penatalaksanaan :

Tes untuk HBeAg dan anti HBe di akhir pengobatan selama 1tahun dan kemudian setiap 3 –6 bulan.

Durasi pengobatan optimal untuk hepatitis B belum diketahui, tetapi pengobatan dapat dihentikan setelah 1 tahun jika ditemukan adanya serokonversi HBeAg

—Pengobatan lebih lanjut 3 – 6 bulan setelah ada serokonversi HBeAg untuk mengurangi kemungkinan kambuh.

—Monitoring fungsi hati selama paling sedikit 4 bulan setelah penghentian terapi dengan Lamivudine.

 

3. Adefovir

—Merupakan analog nukleosida asiklik dari AMP (adenosine monophosphate).

—Mekanisme kerja: menghambat polimerase DNA HBV.

—Dosis: 10 mg/hari selama 1 tahun.

 

4. Entecavir

—Merupakan analog nukleosida dari guanosin.

—Mekanisme kerja: menghambat polimerase HBV.

—Lebih poten daripada lamivudine dan efektif pada HBV resisten lamivudine.

—Dosis: 0,5 mg/hari atau 1 mg/hari pada pasien dengan HBV resisten lamivudine

 

5. Telbivudine

—Merupakan analog nukleosida spesifik HBV.

—Mekanisme kerja: inhibitor kompetitif DNA polimerase.

—Lebih poten daripada lamivudine.

—Efek samping: ISPA

 

6. Tenofovir

7. Emtricitabine

 

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI

Depkes RI, 2007, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati, Jakarta, Depkes RI

DiPiro JT, et al, 2008, Pharmacotherapy. A Pathophysiologic Approach (seventh edition), New York: The McGraw Hill Companies

Gillespie, Stephen, Kathleen Bamford, 2009, At a Glance Mikrobiologi Medis dan Infeksi (Edisi Ketiga) terj. Stella Tinia H., Jakarta: Penerbit Erlangga

 

Semoga bermanfaat, kritik dan saran sangat diharapkan.

Sampai ketemu di episode selanjutnya >> Farmakoterapi Hepatitis C

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s