Farmakoterapi Hepatitis C

EPIDEMIOLOGI

—Faktor risiko: transfusi darah, hemodialisis, penggunaan obat suntik (IDU), kontak seksual atau perinatal.

—Skrining HCV perlu dilakukan pada:

—Pengguna obat suntik

—Penderita HIV

—Menerima transfusi darah/transplantasi organ sebelum tahun 1992

—Menerima faktor pembekuan darah sebelum tahun 1987

—Pernah/sedang menjalani hemodialisis

—Pasien dengan peningkatan kadar ALT/penyakit hati

—Tenaga kesehatan setelah paparan di lingkungan kerja

—Anak yang lahir dari ibu positif virus hepatitis C

—Imigran dari negara dengan prevalensi hepatitis C tinggi

ETIOLOGI

—Virus hepatitis C (Hepatitis C Virus = HCV) merupakan virus RNA berantai tunggal dari famili Flaviviridae.

—Virus ini bereplikasi di dalam hepatosit dan tidak merusak sel secara langsung.

—Waktu paruh dalam serum: 2-3 jam

—HCV dikelompokkan ke dalam 6 genotip (1-6) yang terdistribusi di seluruh belahan dunia.

—Masa inkubasi: 2 minggu- 6 bulan

image

PATOFISIOLOGI

image

—Kadar apoptosis rendah menandakan virus masih bertahan, sedangkan kadar apoptosis yang tinggi menandakan tingkat kerusakan hepatosit.

—Mutasi gen HCV terdeteksi 1 tahun setelah infeksi.

 

MANIFESTASI KLINIS

1. Tahap akut

—Kebanyakan pasien tidak menampakkan gejala dan tidak terdiagnosis setelah infeksi HCV akut.

—RNA HCV terdeteksi dalam 1-2 minggu setelah infeksi dan meningkat dengan cepat.

—Kadar RNA HCV stabil pada 105 – 107 IU/mL menyebabkan peningkatan kadar ALT dan timbulnya gejala-gekala hepatitis.

—Gejala timbul pada 7 minggu setelah infeksi dan berlangsung selama 3-12 minggu.

—Gejala-gejala yang dapat timbul:

  • Kelelahan
  • Hilang nafsu makan
  • Lemah
  • Jaundice /kuning
  • Nyeri perut
  • Urin berwarna gelap

—Infeksi akut akan berkembang menjadi kronis pada 85% pasien, dapat dilihat dari RNA HCV yang menetap selama 6 bulan.

2. Tahap kronis

—Pada tahap kronis, kadar RNA HCV dan ALT serum dapat berfluktuasi, bahkan tidak terdeteksi/kembali normal.

—Gejala yang dapat timbul pada infeksi kronis:

  • Kelelahan
  • Nyeri perut bagian kanan atas
  • Mual
  • Nafsu makan hilang/menurun

—Hepatomegali dapat terlihat dari pemeriksaan fisik.

3. Tahap lanjut

—Gejala yang dapat timbul:

  • Spider nevi
  • Splenomegali
  • Eritema pada telapak tangan
  • Atropi testis
  • Caput medusae

—Inflamasi hati kronis dapat menyebabkan fibrosis pada hati.

—HCV kronis kadang dikaitkan dengan manifestasi ekstrahepatik, misalnya cryoglobulinemia.

—Cryoglobulinemia adalah pengendapan kompleks imun yang dapat menyebabkan vaskulitis.

—Gejala-gejalanya adalah: kelelahan, ruam kulit, purpura, artralgia, gangguan ginjal, dan neuropati.

—Gejala yang lebih jarang: limfoma non-Hodgkin sel B, sindrom Sjögren, glomerulonefritis, artritis, tukak kornea, penyakit tiroid, neuropati, dan porphyria cutanea tarda.

DIAGNOSIS

—Kadar transaminase abnormal yang bertahan selama beberapa waktu.

—Reactive enzyme immunoassay for anti-HCV

TERAPI

—Tujuan terapi: menyembuhkan infeksi HCV dan memulihkan kondisi jaringan tubuh.

—Terapi nonfarmakologi

  • Vaksin anti hepatitis A dan B
  • Diet gizi seimbang
  • Hindari alkohol
  • Berhenti merokok
  • Olahraga teratur

—Terapi farmakologi

—Standar terapi: injeksi PEG-IFN 1x seminggu dan Ribavirin oral 1x sehari

—Ribavirin merupakan analog guanosin sintetis, mekanisme kerja belum diketahui.

—Indikasi Ribavirin:

Hepatitis C kronik pada pasien penyakit hati >18 tahun yang mengalami kegagalan dengan monoterapi Interferon α-2a atau α-2b

—Indikasi Ribavirin dengan Peginterferon α-2a atau α-2b :

Hepatitis C kronik pada pasien > 18 tahun yang mengalami relaps setelah mendapat terapi dengan Interferon α.

—Kontraindikasi:

Wanita hamil dan suaminya, pasangan yang berencana memiliki anak kandung, mempunyai reaksi alergi terhadap Ribavirin, kit jantung berat 6 bulan yang lalu, haemoglobinopathy, hepatitis autoimun, sirosis hati yang tidak terkompensasi, penyakit tiroid, adanya penyakit atau riwayat kondisi psikiatrik berat, terutama depresi, keinginan atau ada upaya bunuh diri.

—Perhatian :

  • Wanita subur dan pria harus menggunakan kontrasepsi aktif selama terapi dan 6 bulan sesudahnya, tes kehamilan harus dilakukan setiap 6 bulan selama terapi.
  • Lakukan tes darah lengkap sejak awal terapi
  • Riwayat penyakit paru atau diabetes mellitus yang cenderung ketoasidosis, gangguan pembuluh darah/mielosupresi berat.
  • Tes daya visual dianjurkan pada pasien DM atau hipertensi.
  • Monitor fungsi jantung pada pasien dengan riwayat gagal jantung kongestif, infark miokard dan aritmia.
  • Dapat menimbulkan kekambuhan penyakit psoriasis.

—Efek samping:

Hemolisis, anemia, neutropenia, mulut kering, hiperhidrosis, asthenia, lemah, demam, sakit kepala, gejala menyerupai flu, kekakuan, berat badan menurun, gangguan GI, artralgia, mialgia, insomnia, somnolen, batuk, dispnea, faringitis, alopesia, depresi.

— Interaksi Obat : Zidovudine, Stavudine.

—Dosis:

Ribavirin dengan Interferon α-2b

Interferon α-2b : 3 x 10^6 (baca: 10 pangkat 6) unit SC 3x seminggu dan Ribavirin per hari berdasarkan berat badan:

< 75 kg, Ribavirin 400 mg pagi

> 75 kg, Ribavirin 600 mg pagi dan sore hari

Ribavirin dengan Peginterferon α-2a

Peginterferon α-2a 180 mcg SC 1x seminggu dengan Ribavirin per hari berdasarkan berat badan dan genotip HCV

Genotip 1,

< 75 kg, 400 mg pagi dan 600 mg malam hari.

>75 kg, 600 mg pagi dan malam hari

Genotip 2 dan 3, 400 mg pagi dan malam hari

Ribavirin dengan Peginterferon α-2b

Peginterferon α-2b : 1,5 μg/kg SC 1 x seminggu dan Ribavirin berdasarkan berat badan :

•< 65 kg, SC Peginterferon α-2b 100 μg 1 x seminggu, oral Ribavirin 400 mg pagi dan malam hari.

•65-80 kg, SC Peginterferon α-2b 120 μg 1 x seminggu oral Ribavirin 400 mg pagi dan 600 mg malam hari

•>80-85 kg, SC Peginterferon α-2b 150 μg 1 x seminggu, oral Ribavirin 400 mg pagi dan 600 mg malam hari.

> 85 kg, SC Peginterferon α-2b 150 μg 1 x seminggu, oral Ribavirin 600 mg pagi dan 600 mg malam hari

—Penatalaksanaan :

• Ribavirin tidak efektif jika digunakan tunggal.

• Ribavirin dengan Peginterferon α untuk infeksi genotip 1.

• Ribavirin dengan Peginterferon α atau Ribavirin dengan Interferon α untuk infeksi genotip 2 dan 3.

• Peginterferon α tunggal bila kontraindikasi terhadap Ribavirin

• Terapi untuk infeksi 1 dan 4 selama 48 minggu.

• Terapi untuk infeksi 2 dan 3 selama 24 minggu.

PENCEGAHAN

—Tidak ada vaksin untuk HCV.

—Pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah kontak dengan darah atau mukus pasien HCV

—Penderita HCV perlu diberikan konseling agar mereka tidak mengajukan diri sebagai donor darah atau organ.

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI

Depkes RI, 2007, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati, Jakarta, Depkes RI

DiPiro JT, et al, 2008, Pharmacotherapy. A Pathophysiologic Approach (seventh edition), New York: The McGraw Hill Companies

Gillespie, Stephen, Kathleen Bamford, 2009, At a Glance Mikrobiologi Medis dan Infeksi (Edisi Ketiga) terj. Stella Tinia H., Jakarta: Penerbit Erlangga

Advertisements

2 thoughts on “Farmakoterapi Hepatitis C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s