A Note from SDN 32 Bungo Pasang

DSC00425DSC00428

DSC00432 DSC00431

Kemarin, tanggal 19 September 2011, saya diajak Uti untuk mengikuti kegiatan simulasi gempa dan tsunami di salah satu SD di daerah Tabing. Kebetulan waktu itu, jadwal kami kosong karena dosen sedang berada di luar kota. Awalnya saya menolak karena pertama, yang saya bayangkan adalah benar-benar simulasi bencana, jadi bila saya mengikutinya, berarti saya harus berlari-larian ‘menyelamatkan diri’. Dan yang kedua, kami berdua harus menghadiri acara pengarahan untuk OFI (Olimpiade Farmasi Indonesia). Maka, dengan sangat menyesal, saya menolak ajakan Uti tersebut.

Rencananya, saya akan menghabiskan waktu di tempat kos teman saya, tetapi ternyata dia tidak bisa karena ada agenda yang harus dilakukannya. Saya pulang dengan langkah lesu, sambil membayangkan kalau saja saya menyetujui ajakan Uti tadi.

Saya pulang naik angkot, dan kira-kira 50 meter dari tempat kos saya, saya melihat angkot yang Uti tumpangi berada tidak jauh dari angkot yang saya tumpangi. Saat saya mengecek ponsel, ternyata Uti menelepon. Langsung saja saya katakan terus terang bahwa saya ingin ikut dengannya (ke Tabing). Dia setuju, lalu kami sepakat bertemu di depan kantor pos, tetapi kemudian tempat janjian kami berubah menjadi Pasar Baru.

Baru saja saya turun dari angkot di Pasar Baru, saya melihat Uti. Langsung saja kami menumpang bus kota. Di jalan, bus kota sempat ngetem beberapa lama, membuat Uti dan saya menjadi gelisah. Tetapi, jarak perjalanan yang jauh tidak terasa karena di sepanjang jalan kami bercerita tentang pengalaman Uti ‘menemani’ mahasiswa Waseda University berjalan-jalan ke Bukittinggi.

Kami turun di depan RRI, lalu kami menumpang bus kota arah Tabing. Kami menghabiskan waktu dengan bercerita, masih dengan topik yang sama. Namun, ternyata, kami diturunkan di jalan, beberapa meter dari Asrama Haji. Terpaksa kami harus menaiki angkot Tabing yang berwarna putih menuju stasiun Tabing.

Begitu turun dari angkot, Uti dengan percaya dirinya mengatakan bahwa SD yang kami tuju adalah gedung bertingkat yang terletak di belakang stasiun. Maka, dengan semangat ‘45, kami berjalan, menyeberangi rel kereta api (ini pertama kalinya saya menyeberangi rel kereta api  yang masih aktif) menuju gedung yang kami maksud.

Untuk memastikan letak SDN 32 Bungo Pasang yang kami tuju, Uti bertanya pada uni yang duduk di depan warung. Uni itu menjawab bahwa tidak ada SDN 32 Bungo Pasang di daerah itu. Yang ada hanya empat buah SD. Merasa penasaran, kami berjalan menuju bangunan yang kami duga sebagai SDN 32 itu. Ternyata, di sana tidak ada SD yang kami maksud. Dengan setengah panik, Uti menelepon rekannya, meminta bantuan arah. Sayangnya, ponsel Uti low-battery, sehingga kami tidak berhasil mendapat petunjuk yang memuaskan.

Tidak menyerah, kami bertanya pada bapak-bapak yang duduk di stasiun. Beliau mengatakan bahwa SD yang kami maksud masih jauh dan menyarankan kami untuk naik ojek saja. Dengan lesu, kami berjalan dan menyetop angkot, berharap agar kami mendapap petunjuk arah sekaligus mendapat tumpangan. Supir angkot pertama yang kami setop mengatakan bahwa kami tidak bisa menumpang angkotnya karena daerah yang kami tuju berada di luar trayeknya. Namun, supir angkot kedua menyatakan bahwa daerah Bungo Pasang berada di seberang jalan, lalu masuk ke dalam. Meskipun ragu, akhirnya kami menyeberang, apalagi seseorang mengatakan kepada kami bahwa daerah Bungo Pasang memang terletak di sana.

Sesampai di seberang, Uti bertanya kepada salah seorang bapak. Bapak itu bertanya pada pemuda yang berada di sekitar sana. Beliau menjelaskan bahwa SDN 32 Bungo Pasang berada di daerah perumahan dan memang terletak di dekat pantai. Ternyata, petunjuk yang dimiliki Uti juga tidak begitu jelas, sehingga mendengar kata ‘terletak di dekat pantai’, kami menjadi yakin bahwa itulah SD yang dimaksud. Kami tidak bisa menumpang angkot karena sekolah itu terletak jauh dari jalan raya. Maka, akhirnya, kami menumpang ojek dengan harga Rp 3.000,00 per orang.

Itu pertama kalinya saya menumpang motor ojek sekaligus membonceng motor di jalanan ramai seperti di kawasan Tabing itu. Padahal, dalam hati, saya berjanji untuk tidak menumpang motor selama beberapa waktu karena mendengar salah seorang teman sekelas saya kecelakaan motor. Apalagi saat itu saya tidak mengenakan helm. Tapi saya berpikir positif saja, semoga Allah meridhai perjalanan kami, sehingga perjalanan kami dimudahkan dan tidak terjadi apa-apa.

Kami diantarkan sampai di depan gerbang SDN 32 Bungo Pasang. Ongkos saya dibayarkan Uti dulu, daripada saya merogoh-rogoh saku tas untuk menemukan lembaran seribu rupiah. Setelah mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek, kami berjalan ke dalam SD. Ternyata acaranya sudah dimulai. Kami merasa tidak enak untuk masuk karena kami sudah terlambat satu jam (mungkin lebih), apalagi Nakata-san sedang menyampaikan materi di dalam kelas. Tetapi ternyata kami malah diminta untuk masuk ke dalam kelas, malah Uti sempat-sempatnya memanggil Shiori-san sambil memperkenalkan saya sebagai temannya.

DSC00425

Yang sedang berdiri (memakai baju putih) adalah Nakata Yasuhiro,  di sebelah kirinya berturut-turut adalah Iandre Bumbunan Torang, lalu Taro Yamamoto (berbaju hitam), berikutnya Shiori Tanabe. Yang sedang berdiri di depan pintu, maaf, saya tidak tahu namanya.

Di dalam kelas, kami diminta untuk membantu melakukan demonstrasi ‘perbandingan rumah yang ramah gempa dengan rumah yang tidak ramah gempa’. Shiori-san menyerahkan alat peraga kepada kami, berupa miniatur kerangka rumah sederhana dari karton, beserta  dua pasang stik yang juga terbuat dari karton. Kami bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan alat peraga ini. Uti bertanya kepada Shiori-san, dan Shiori-san meminta bantuan Bang Iandre untuk menjelaskan kepada kami. Jadi, yang harus kami lakukan adalah menggoyang-goyangkan miniatur rumah tersebut, seolah-olah gempa benar-benar sedang terjadi. Kemudian, kami harus memasang stik dari karton itu, membentuk posisi silang (X) di masing-masing lantai rumah. Dengan susah payah karena kelas yang padat, akhirnya saya sampai di bagian belakang barisan siswi-siswi SD.

Berikut adalah foto miniatur rumah yang kami peragakan.

DSC00427

Rumah yang tidak ramah gempa. Bila digoyangkan, rumah ini mudah sekali rebah

(sudut kemiringannya hampir mendekati 180 derajat)

DSC00426

Setelah dipasangi kerangka berbentuk X ini, rumah ini jauh lebih ramah gempa.

(lebih stabil terhadap goncangan gempa sehingga memungkinkan penghuni untuk menyelamatkan diri keluar rumah)

Seorang siswi yang memperhatikan saya terlihat terkesima.

Kak, kenapa rumahnya bisa tidak goyang?

Saya bingung, jujur, saya tidak begitu memahami konsep bangunan tahan gempa. Setelah berpikir sejenak, saya mencoba menjawab dengan kemampuan analogi yang pas-pasan.

Coba adek bayangkan sebuah kursi, kalau kakinya cuma dua pasti lebih mudah roboh kan? Coba kalau kakinya empat, pasti lebih tahan. Atau kalau adek berjalan dengan satu kaki, pasti goyang-goyang kan? Coba kalau adek berdiri dengan dua kaki, pasti tidak mudah jatuh.

Anak itu hanya mengangguk-angguk. Semoga saja ia mengerti.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran video tentang tsunami Jepang, lalu berikutnya adalah sesi tanya jawab. Anak-anak itu bebas bertanya apa saja, dan anggota WASEND akan menjawabnya. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan mereka.

Apakah kakak senang datang ke sekolah kami?

Senang sekali (Shiori Tanabe)

Apakah kakak trauma dengan gempa di Jepang kemarin?

Ya, saya takut sekali. Tetapi saya tidak trauma, malah saya semakin bersemangat untuk mengadakan kegiatan seperti ini, berbagi informasi tentang gempa dan tsunami serta apa yang harus dilakukan pada saat bencana. (Shiori Tanabe)

Waktu itu kakak sedang dimana?

Saya sedang di rumah (Shiori Tanabe)

Saya sedang berada di kampus teman saya. Dan waktu itu saya menginap di kampus karena tidak bisa pulang (Taro Yamamoto)

Apakah rumah kakak rusak?

Tidak, tetapi banyak sekali barang-barang yang pecah dan berjatuhan.

Agama kakak apa?

Buddha (Taro Yamamoto) <waktu itu ia berpikir cukup lama sebelum menjawab>

Apakah ada anggota keluarga kakak yang meninggal?

Saya punya keluarga di daerah Miyagi, salah satu daerah yang terkena tsunami, tetapi semuanya selamat. Teman bermain sepak bola bersama saya waktu kecil meninggal dunia. (Taro Yamamoto)

Kakak suka olahraga apa?

Futsal dan sepak bola (Taro Yamamoto)

Berapa kekuatan gempa waktu itu?

9 skala Richter.

Coba nyanyikan lagu dalam bahasa Jepang.

<Mereka berbaris di depan kelas, menyanyikan lagu Doraemon dalam bahasa Jepang,sementara anak-anak SD bernyanyi dalam bahasa Indonesia>

Coba nyanyikan lagu Naruto

<Mereka tampak kebingungan karena tidak tahu lagunya (atau tidak hafal)>

Lagu shinchan?

<Mereka tidak hafal lagunya>

Kalau begitu, lagu yang kakak hafal saja.

<Keenam mahasiswa Waseda University yang berkebangsaan Jepang mulai menyanyikan lagu kebangsaan mereka, Kimigayo, dengan hikmat.>

Setelah itu, siswa-siswa SD dibagi dalam kelompok beranggotakan sepuluh orang. Masing-masingnya diminta untuk berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan di rumah setelah mendapatkan pelajaran barusan.

Dan dari hasil diskusi yang dibacakan oleh anak-anak SD tersebut, saya mendapatkan beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk meminimalkan kerusakan dan menyelamatkan diri saat gempa.

          1. Jangan meletakkan barang-barang yang berat di atas lemari.
          2. Letakkan barang-barang yang berat di bagian bawah lemari.
          3. Ganjal lemari dengan karpet berpermukaan kasar.
          4. Jangan meletakkan barang di dekat pintu.
          5. Jangan mengunci pintu saat gempa.
          6. Jauhi benda-benda tajam saat menyelamatkan diri.
          7. Tutup jendela dengan gorden untuk mencegah pecahan kaca yang berhamburan saat gempa.
          8. Gantungan dinding (seperti lukisan, cermin, jam), harus dipakukan pada dinding dengan kuat supaya tidak mudah jatuh.
          9. Beritahu informasi ini pada orang tua dan orang terdekat

 Kemudian, acara dilanjutkan dengan foto bersama per kelompok dan berikutnya staf pengajar di SDN 32 Bungo Pasang.

DSC00428

Lalu, anak-anak itu bersalaman dengan seluruh anggota WASEND.

DSC00432 DSC00431

Dan saat anak-anak itu meninggalkan ruangan, giliran kami, mahasiswa UNAND yang beraksi. Uti ‘mempromosikan’ saya untuk berfoto bersama Shiori-san.

DSC00433

<Horeeee!!!>

Sayang sekali, kami harus meninggalkan lokasi lebih awal karena harus menghadiri pengarahan OFI. Padahal kami masih ingin berbincang-bincang lebih lama dengan anggota WASEND. Apa boleh buat.

Dan yang paling tak terduga adalah ini.

PIC_11-09-20_20-42-36 PIC_11-09-20_20-41-41

Buat yang penasaran, gambar di atas adalah suvenir dari WASEND berupa kipas (yang sepertinya buatan sendiri :)). Kipasnya satu, tapi anggap saja yang kanan adalah side A, dan yang kiri adalah side B.

 Terima kasih buat Bang Iandre yang sudah memberikan suvenir tersebut. Pakai acara merendah pula “Mungkin ini tidak seberapa”… aduh, malah saya yang jadi malu. Datang terlambat, tidak kerja, eh, pulang dapat suvenir. Terima kasih banyak!

Sebelum pulang, Uti menyempatkan diri untuk pamit kepada Shiori-san dan Koichi-san.

We: Sorry, we must leave..

Koichi: Why?

We: We must go to campus.

Koichi: Ah.. ok. See you later.

We: See you later.

<Maaf, saya tidak ingat persis percakapan dengan Shiori-san, yang jelas kami mohon diri untuk pamit. Dan yang saya ingat adalah Shiori-san mengucapkan terima kasih atas bantuan kami. jadi malu…>

See you later? Well, I hope so. I hope we will meet again.

Di perjalanan pulang, Uti bertanya pada saya.

Uti: Ami ngga nyesal kan ikut uti?

Saya: Ngga kok.

Uti: Ami menikmati acaranya kan?

Saya: Yap, sangat menikmati malah. Yah… walaupun ga bisa ngobrol lama.

Tidak terasa, inilah saat perpisahan saya dengan mereka. Semoga kita bisa bertemu lagi.

See you next time and success for you, all! Have a great time in Indonesia!

P.S. :

  • Maaf kalau tulisan kali ini membosankan dan terkesan terburu-buru.
  • Maaf kalau banyak yang kelupaan, karena acaranya udah lewat dan saya tidak punya catatannya sama sekali
  • Maaf kalau banyak foto narsis, bukan bermaksud pamer kok
  • Maaf kalau fotonya LQ (Low Quality)
  • Buat Uti, mana janjimu? Cepat bikin blog, trus tulis catatan perjalanan ke Bukittinggi waktu itu. Awas kalau ngga ditulis.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s