Satin Merah – Aku Cuma Ingin Jadi Signifikan

Satin-Merah3Sudah lama saya ingin mengulas novel ini di blog,tetapi baru kesampaian. Itupun setelah menonton film Kokuhaku, yang sedikit memiliki kemiripan dengan novel ini.

Novel ini ber-genre drama-thriller (menurut saya) dengan mengusung tema unik, yaitu sastra Sunda. Mungkin terdengar hampir mustahil, mengingat keduanya bagaikan langit dan bumi, yang satu modern, sementara yang lainnya tradisional. Dan apa tadi? Sastra Sunda? Dimana-mana, topik sastra daerah dianggap membosankan dan tidak menarik, terutama oleh generasi muda. Ayolah, kenapa harus membaca novel seperti ini sih?

Percayalah, prasangka buruk itu langsung sirna karena begitulah yang saya rasakan saat membaca halaman demi halaman novel ini. Kelihatannya, novel ini terkesan sangat biasa. Tokoh utama biasa, Nindhita Irani Nadyasari (Nadya), siswi kelas 12 SMA. Latar biasa, kota Bandung. Konflik juga tak kalah biasa, seorang siswi yang menginginkan signifikansi melalui lomba bergengsi tingkat kota. Lebih remeh lagi, si tokoh utama hanya ingin diakui dan dianggap oleh orang tuanya yang selama ini lebih memperhatikan adiknya. Yap, seperti subjudulnya, aku cuma ingin jadi signifkan, sesederhana itulah konflik dalam cerita ini.

Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Karena perjuangan menuju signifikansi tidak berjalan mulus. Banyak tantangan yang harus dilalui, banyak hal yang harus dikorbankan. Pengorbanan dan tantangan, itu adalah hal biasa dalam perjuangan meraih mimpi (atau dalam novel ini, ambisi). Akan tetapi, apakah hal itu masih dianggap biasa ketika hal yang dikorbankan itu adalah nyawa dan kepercayaan dari orang-orang terdekat?

Perjalanan Nadya, si tokoh utama, dalam mencapai ambisinya inilah yang menjadi inti cerita ini. Ia telah memilih jalan yang sulit dengan memilih sastra Sunda sebagai topik makalah ilmiah. Ia telah dicibir oleh sahabatnya karena topik itu dianggap tidak booming dan berpotensi kecil untuk menang. Namun, demi signifikansi, ia terus menempuh perjalanan yang berat itu, walau akhir perjalanannya tidak seindah yang ia duga.

Novel ini tidak sulit untuk diikuti karena menggunakan bahasa yang ringan dan latar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama dengan kehidupan remaja. Tokoh-tokoh film ini juga dekat dengan dunia maya. Mereka tidak canggung dengan mesin pencari Google, telah akrab dengan social networking dan blogging, dan tidak gagap mengirim kabar dengan bantuan e-mail. Novel ini berhasil membuktikan bahwa kolaborasi antara teknologi dengan sasta daerah sama sekali tidak mustahil.

Kekurangan novel ini hanya sedikit, hanya masalah inkonsistensi dalam tokoh figuran. Itu saja.

Akhir kata, selamat menikmati! Selamat berpetualang dalam perjuangan menggapai ambisi seorang Nadya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s