Nostalgia Masa SD

Oke, sebenarnya tidak ada yang menyuruh saya untuk menuliskan artikel ini, tetapi karena melihat tulisan di sini dan di sana, saya jadi tergoda juga *ups, tergoda….* untuk membuatnya.

SDN 04 Birugo

Pada tahun 1999-2002, saya bersekolah di SDN 04 Birugo, Bukittinggi. Ehm, sebenarnya, SDN 04 Birugo adalah gabungan dari SDN 04 Birugo, SDN 05 Birugo, dan SDN 07 Birugo. Waktu saya baru masuk, saya bersekolah di SDN 07 Birugo. Namun, beberapa waktu kemudian, SDN ini digabung dan menjadi SDN 04 Birugo. SDN 04 menjadi kelas A, SDN 05 menjadi kelas B, dan SDN 07 menjadi kelas C. Saya masih ingat waktu awal-awal sekolah, murid-murid berupacara di lapangan yang berbeda dan memakai baju muslim yang berbeda warna yaitu warna pink (SDN 04), warna biru (SDN 05), dan warna putih (SDN 07).

Masuk SD setahun lebih awal menyebabkan saya menjadi murid termuda di kelas. Kenapa saya bisa masuk lebih awal? Pertama, saya mogok melanjutkan TK B (setara dengan TK nol besar). Kedua, karena di sekolah itu ada teman nenek saya yang mengizinkan saya masuk asalkan saya lulus tes membaca. Tanpa mengalami kesulitan berarti, saya bisa membaca teks di buku pelajaran dengan lancar dan dengan demikian, saya diterima. Thanks to my grandma who taught me reading since I went to kindergarten, so I could read fluently at that time. 

Waktu bersekolah di SDN 04, saya sering diganggu oleh anak laki-laki yang agak nakal. Pernah pensil saya patah, penggaris hilang, miniatur rumah dari karton dirusak dengan memasukkan kotak pensil ke dalam celah jendela, jadi ketika kotak pensil saya ditarik keluar, miniatur itu sobek. Kemampuan saya dalam bermain bisa dibilang payah, sehingga saya sering menjadi anak bawang  yang tidak diperhitungkan keberadaannya dalam suatu permainan.

Namun, meskipun saya payah di bidang permainan dan olahraga, saya lumayan berprestasi di bidang akademik. Saya selalu menjadi juara I selama bersekolah di SDN 04 Birugo. Mungkin karena saya dulunya rajin..hehe. Selain itu, saya juga menjadi dokter kecil.

Wali kelas saya dulu adalah Bu Darina, Bu Wim, Bu Tati, dan Ibu… aduh, saya lupa karena saya hanya belajar di kelas IV C dalam waktu yang singkat, sebelum akhirnya saya pindah ke SDN 02 Percontohan.

SDN 02 Percontohan

Akhirnya, setelah melalui tes masuk kelas akselerasi, suatu nama yang dulunya asing bagi saya, saya bersekolah di SDN 02 Percontohan. Sekolah ini menawarkan berbagai hal baru bagi saya, dan merupakan sekolah dengan pengelolaan terbaik yang pernah saya rasakan, tanpa bermaksud merendahkan sekolah lain.

sdn02percontohan

SDN 02 Percontohan

Saya pertama kali menjejakkan kaki di sekolah ini waktu jalan pagi bersama orang tua dan adik saya di hari Minggu. Waktu itu, kami berjalan kaki sampai daerah Panorama, dan entah siapa yang berhasrat ingin ke kamar kecil, yang jelas kami menumpang di WC mushalla di sekolah ini. Saya kagum dengan bangunan sekolah ini yang megah dan bersih, dan sempat berandai-andai bersekolah di sini. Alhamdulillah, impian saya kesampaian.

Saya masih ingat, waktu itu tanggal 16 September 2002, kami, belasan siswa yang lulus tes dikumpulkan dalam suatu kelas yang sangat luas. Mejanya satu-satu, lantainya ubin, teman-teman baru yang pasti pintar-pintar, wahhh, demikian pikiran saya waktu itu. Penuh dengan semangat dan rasa optimis. Kami diminta untuk memperkenalkan diri, nama, asal sekolah, tanggal lahir. Sekali lagi, saya menjadi siswa termuda di kelas. Saya ingat, waktu itu saya kagum dengan salah seorang teman saya yang mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Jepang (ohayou gozaimasu, arigatou gozaimasu). Ia berhasil membuat saya iri. Namun, rasa iri itu tidak berlangsung lama karena kami mendapatkan pelajaran bahasa Jepang selama bersekolah di sana.

Sistem belajar di sekolah ini bisa dikatakan unik dan baru bagi saya.

Pertama, setiap kelas memiliki wali kelas, tetapi setiap pelajaran diajar oleh guru yang berbeda. Mirip dengan sistem di SMP dan SMA.

Kedua, pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan metode ceramah satu arah dan media papan tulis saja, tetapi juga dengan metode diskusi dan media lain, seperti OHP (yang merupakan barang baru waktu itu).

Ketiga, kami belajar beberapa muatan lokal, tidak hanya BAM (Budaya Alam Minangkabau) dan BTAM (Baca Tulis Arab Melayu) saja, tetapi juga PPHQ (Pengetahuan dan Pengamalan Qur’an Hadits) dan bahasa Jepang.

Keempat, selain sekolah, kami juga mengaji. Jadi, setelah istirahat, shalat zhuhur, dan makan siang, kami akan mengaji di bawah bimbingan guru khusus.

Kelima, setiap guru sangat berdedikasi dalam melakukan tugasnya. Beliau mengajar kami dengan metode yang menarik. Misalnya, ada guru saya yang menyusun diktat sendiri, membuat kopian latihan soal yang jumlahnya banyak, sampai-sampai harus dijilid. Ada juga guru saya yang mengajar IPS dengan metode yang lucu. Beliau mengajarkan sejarah nasional dengan metode drama monolog, berjalan mondar mandir di depan kelas, lalu menirukan percakapan tokoh-tokoh nasional.

Dan masih banyak lagi, rasanya akan menjadi sangat panjang bila ditulis satu-satu.

Teman-teman sekelas saya bisa dibilang ‘gila’. Kami kompak bermain ‘buka toko’ di dalam kelas saat waktu istirahat. Beberapa anak laki-laki memainkan gasing dari neraca timbangan saat kami belajar di kelas yang memiliki alat-alat lab. Alhasil, kami ditegur karena banyak alat lab yang rusak.

Oya, di kelas saya, kami punya semacam tutor sebaya yang bisa menggantikan tugas guru. Beberapa orang teman saya memiliki keahlian di bidang masing-masing. Misalnya, ada yang pintar Matematika, IPS, IPA, dan lain-lain. Oya, waktu itu, Buku Pintar adalah ‘buku wajib’ yang dimiliki sebagian besar siswa laki-laki (dan saya), serta mungkin juga beberapa siswa perempuan.

Salah satu hal yang tidak terlupakan bagi saya adalah soal latihan IPA waktu kelas 5 atau 6 SD. Waktu itu, ada soal yang menanyakan otot pada paha dan otot yang menggerakkan bola mata. Soal yang sangat sulit menurut kami sekelas *ya iyalah, mana sampai pengetahuan kami ke arah sana*. Akhirnya, setelah bertanya pada ayah saya yang seorang dokter, saya tahu jawabannya. Ada gluteus maximus, dan lain-lain.

Ada juga teman sekelas saya yang unik. Ia membawa nasi dengan rantang aluminium ketika hampir semua siswa membawa nasi dengan kotak plastik dan membawa tangkelek (bakiak), sementara hampir semua siswa membawa sandal karet.

Hal lain yang unik adalah musim orji  dan binder, terutama di kalangan anak perempuan. Mereka membeli orji/binder bukan untuk ditulis, melainkan sebagai sarana koleksi kertas berwarna-warni (misalnya motif Pink Erica, Disney Princesses, Hello Kitty,  dan lain-lain).Bahkan salah seorang teman laki-laki membuat binder sendiri dari buku isi 40 yang dilubangi dan diberi ring. Saya tergoda dan ingin memilikinya, tetapi tidak diizinkan oleh orang tua saya karena tidak ada manfaatnya. Jadilah saya (dan adik saya) hanya mengoleksi kertas-kertas bermotif tersebut. Kami baru mendapatkan binder setelah binder itu tidak musim lagi sebagai wahana tukar kertas. Hmm, ya sudahlah, apa boleh buat. Diterima saja.

Oya, satu lagi, dulu, mereka yang memiliki binder biasanya hobi menulis biodata, menempel kliping majalah atau koran, menggambar, menulis lirik lagu, atau menulis puisi di binder mereka. Jadi, hobi saya dulu adalah meminjam binder teman saya lalu membaca isinya.

Banyak hal yang saya alami waktu SD, terutama ketika bersekolah di SDN 02 Percontohan (bukan bermaksud mengesampingkan SDN 04 Birugo). Saya belajar banyak ilmu, belajar bersosialisasi dan mengenal banyak teman yang unik dengan kepribadian masing-masing.

Terima kasih untuk semua guru yang telah mengajarkan kami ilmu pengetahuan dan budi pekerti yang bermanfaat. Semoga Allah melimpahkan pahala yang berlimpah untuk ibu/bapak guru semua.

Terima kasih juga untuk teman-teman yang telah memberikan begitu banyak kenangan.

P.S.:

Entah kenapa, saya merasa bahwa siswa/mahasiswa laki-laki lebih enak diajak berdiskusi tentang pelajaran dan pengetahuan umum dibandingkan siswa/mahasiswa perempuan. Kebanyakan mereka memiliki wawasan yang luas. Yah, tetapi tergantung pribadi masing-masing. Namun, hal ini terbukti saat SD dan kuliah.

Oya, buat pembaca yang tertarik membuat tulisan serupa di blognya, silakan….

Advertisements

4 thoughts on “Nostalgia Masa SD

  1. Bagus! 😀

    Wuih, di Surabaya dulu kok gak ada ya SD percontohan? 😦
    Coba, teman2 seangkatan saya dulu di SMP atau SMA kayaknya gak ada yang SD melompat… kalo adik angkatan satu atau dua tingkat di bawah, ada. 🙂 Yaaah, itupun mereka yang aksel SD dan SMP memang pintar, bahkan jenius, tapi bagi kami orang biasa ini kadang kami anggap “aneh”. 😆

    Like

    1. kalo sekarang ada sd percontohan ga bang? hehe 🙂

      iya, kadang anak aksel dianggap aneh padahal biasa aja sih, pinternya juga biasa, kadang malah pinteran anak kelas unggul atau internasional

      Like

  2. wah, kita ada miripnya ternyata. an jg gak TK dulu mi, krna bs baca tulis (n juga diajari sjak kecil oleh alm.grandma) jd lgsg lulus tes masuk SD d usia 5 tahun, n an jg murid paling kecil wkt itu. tapi ya..an gak juara2 amat ky ami.haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s