Sebuah Pengalaman, Sebuah Pelajaran

Long time no write!

Hmm, sebenarnya ngga juga sih. Gara-gara sibuk main di istana kedua, Town of Stories, menggarap cerita bersambung yang berjudul Yuki The Series.

Akhirnya, setelah melihat tulisan-tulisan baru di blog tetangga, saya jadi ingin menulis juga di sini.

Pengalaman apa yang ingin saya ceritakan kali ini? Jawabannya, pengalaman kartu ATM tertelan di mesin ATM.

Ya, tanggal 2 Desember lalu, kartu ATM Shar-e saya tertelan di mesin ATM BNI di sebelah gedung PKM UNAND Limau Manis. Panik? Ya, tapi sedikit. Sepertinya ambang rasa panik saya cukup tinggi. Padahal itu pertama kalinya kartu ATM saya tertelan.

Saya langsung berpindah ke mesin ATM lain, menarik sejumlah uang dari kartu ATM BNI mahasiswa, lalu keluar. Saya langsung masuk ke kantor BNI di dalam gedung PKM yang untungnya, sudah buka. Padahal waktu itu jam belum menunjukkan pukul 8 pagi.

Saya langsung disambut dengan ramah oleh petugas bank. Kemudian, saya menjelaskan hal yang baru saja terjadi, lalu satpam menyarankan saya untuk menelepon nomor tertentu, yang kemudian saya sadari, sepertinya itu nomor BNI ATM Center.

Kemudian, saya mengucapkan terima kasih, lalu segera menelepon nomor yang dimaksud. Petugas Customer Service yang berada di seberang telepon menanyakan nama dan kronologis kejadian yang baru saja saya alami, juga jenis kartu ATM saya. Saya menjawabnya dengan lengkap, lalu petugas tersebut mengatakan akan mengonfirmasi paling lambat pukul 3 sore.

Saya lega, walaupun was-was juga. Setelah menelepon, saya bergegas ke kampus, karena ada jadwal kuliah pagi itu.

Pukul 5 sore, saya selesai kuliah. Saya baru teringat dengan masalah kartu ATM saya, karena itu, saya menelepon nomor yang sama untuk menanyakan nasib kartu ATM saya. Ternyata kartu ATMnya sudah ada di pihak BNI, tetapi untuk memintanya perlu surat pengantar dari Bank Muamalat karena kartu ATM saya adalah kartu Shar-e (non BNI). Setelah itu, saya dapat menjemput kartu ATM saya ke BNI Dobi.

Karena jadwal kuliah yang cukup padat, saya baru mengurus surat pengantar ke Bank Muamalat kemarin (7/12). Tentunya setelah melakukan riset kecil-kecilan, dan hasilnya saya mengetahui Bank Muamalat terletak di Jl. Rasuna Said. Sementara letak BNI Dobi sudah saya ketahui sebelumnya. Masalahnya hanya satu, saya belum pernah menempuh perjalanan dari daerah Rasuna Said ke Dobi. Hmm, ya sudahlah, nanti saja dipikirkan.

Sesampainya di Bank Muamalat, saya disambut oleh satpam yang menanyakan tujuan saya datang ke bank. Saya menjelaskan bahwa saya ingin meminta surat pengantar untuk menjemput kartu ATM yang tertelan. Satpam tersebut mengambilkan nomor antrian untuk saya dan meminta saya untuk duduk di kursi tunggu.

Setelah beberapa menit berselang, saya melihat nomor tunggu saya sudah muncul. Saya langsung duduk di depan petugas Customer Service  yang kebetulan laki-laki. Petugas tersebut mengucapkan salam, memperkenalkan diri, lalu menanyakan nama saya, dan bertanya, “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Saya langsung menjelaskan permasalahan yang saya alami. Petugas tersebut menanyakan waktu dan lokasi kejadian, yang saya jawab dengan jelas.

Sambil mencari data yang dibutuhkan, petugas itu bertanya pada saya apakah saya memiliki KTP. Saya menjawab belum punya dan baru beberapa waktu lalu saya mengurus e-KTP. Lalu beliau menanyakan kartu identitas saat membuat ATM Shar-e, dna saya jawab waktu itu saya mengurusnya di sekolah, jadi belum ada kartu identitas, hanya ada pengisian form. Saya juga menjelaskan bahwa saya hanya memiliki KTM dan beliau meminjamnya sebentar. Kemudian, beliau meminta saya untuk menunggu sebentar.

Kemudian, petugas tersebut kembali ke tempat semula, bertanya tentang beberapa hal. Beberapa saat kemudian, beliau, dibantu rekannya, mengetik surat pengantar. Kemudian, beliau menge-print surat tersebut dan menandatanganinya. Saya diminta menunggu lagi dan petugas itu pergi ke ruangan khusus staf. Setelah itu, beliau kembali, membawa surat pengantar, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyerahkannya kepada saya.

“Nanti menjemputnya pakai KTM aja ya.”

Saya mengangguk paham.

“Ada yang bisa saya bantu lagi?”

“Hmm, kalau dari sini ke BNI Dobi yang cepat pakai apa ya?”

“Naik bus kota aja.”

“Dari sini atau dari seberang?”

“Dari seberang.”

Saya mengangguk lagi. Kemudian, petugas itu mengucapkan terima kasih dan salam. Tentu saja saya membalasnya.

Karena ragu, saya memutuskan untuk bertanya kepada teman saya via SMS. Ternyata, teman saya juga tidak begitu tahu, tetapi ia menyarankan saya untuk mencari angkot ke Tarandam atau Pasar Raya, lalu menaiki angkot merah yang melewati Pondok.

Sesuai saran petugas tadi, saya menaiki bus kota. Ternyata bus sepi penumpang, dan penumpang terakhir turun di Jl. Sudirman. Saya nekat untuk bertahan di bus sampai perhentian terakhir. Kemudian supir bus menanyakan tujuan saya. Saya malah balik menanyakan angkot apa yang harus saya naiki untuk pergi ke BNI Dobi. Pak supir menjawab bahwa saya harus naik angkot merah. Saran yang sama dengan yang dijelaskan teman saya.

“Dari sini atau seberang, Pak?”

“Dari sini.”

Setelah membayar ongkos, saya turun dari bus. Menunggu angkot merah ternyata lumayan susah. Untung, akhirnya, saya bisa naik angkot merah setelah mengonfirmasi bahwa angkot tersebut melewati BNI Dobi.

Angkot berhenti di depan BNI Dobi. Saya senang karena sebentar lagi, kartu ATM itu akan kembali ke tangan saya. Namun, saya bingung harus berurusan ke bagian mana. Awalnya, saya melihat plang bertuliskan BNI ATM Center, tetapi saya ragu. Karena ragu, saya memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang petugas. Ibu itu menyarankan saya untuk ke ATM Center di bagian samping gedung, tempat yang sudah saya duga sebelumnya.

Saya masuk ke BNI ATM Center, dan di sana, ada tiga orang petugas wanita. Saya bingung mau duduk di mana. Akhirnya, saya duduk di depan petugas yang tersenyum kepada saya. Petugas tersebut menanyakan nama dan keperluan saya. Saya menjawab bahwa saya ingin mengambil kartu ATM saya yang tertelan di ATM BNI Unand. Kemudian, petugas itu meminta surat pengantar dan kartu identitas. Setelah saya menyerahkan kedua barang tersebut, petugas itu mengambil sesuatu di dalam laci, dan ternyata itu adalah kartu ATM saya! Rasanya saya sangat lega. Setelah menuliskan nomor induk mahasiswa saya di sebuah buku, petugas itu meminta saya untuk menandatangani buku itu, sepertinya sebagai bukti bahwa saya telah mengambil kartu ATM saya. Kemudian, petugas itu mengembalikan kartu ATM dan KTM saya, lalu mengucapkan terima kasih. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada petugas tersebut.

Cukup rumit, ya? Namun, itulah prosedur yang harus saya jalani untuk menjemput kartu ATM saya yang tertelan. Dengan total ongkos Rp 11.500,00 mulai dari kampus-kantor pos Sudirman-Bank Muamalat-Jl. Sudirman-Dobi-Jati-Pasar Baru, saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Semoga cerita ini membantu pembaca yang belum pernah mengalami hal yang sama dengan saya, tetapi ingin tahu apa yang harus dilakukan seandainya hal itu terjadi.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah:

  1. Malu bertanya, sesat di jalan
  2. Berikan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen

Berurusan dengan petugas customer service di Bank Muamalat dan BNI membuat saya berpikir bahwa tidak ada salahnya kita, sebagai calon petugas kesehatan, belajar untuk bersikap ramah kepada pasien yang nantinya akan kita hadapi.

Masa’ petugas kesehatan kalah sama petugas bank?

Alhamdulillah, Allah telah memudahkan urusan saya. Terima kasih kepada petugas Bank Muamalat, BNI, teman saya, Nesia, dan supir bus kota yang telah membantu saya kemarin.

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Pengalaman, Sebuah Pelajaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s