Tour de Parahyangan (Day 2) – First Half

Maaf menunggu lama. Jadi, sampai mana cerita kita waktu itu? 🙂

Hari kedua kami awali dengan misorientasi waktu. Saya baru terbangun pukul setengah lima dan masih malas-malasan karena biasanya di Padang, adzan Subuh terdengar pada pukul 04.45. Mau shalat di kamar tidak tahu arah kiblat, mau shalat di mushalla atau masjid terdekat tidak tahu tempatnya di mana. Akhirnya, pukul 05.12 saya mengirim sms kepada salah seorang rekan saya yang menginap di kamar lain. Dia mengatakan bahwa dia sudah shalat di mushalla. Iseng, saya liat langit di luar yang ternyata sudah terang, seperti langit pukul 05.45 kalau di Padang. Oh, tidak, saya baru menyadari bahwa ini Bandung yang waktu matahari terbitnya lebih cepat daripada kami yang bermukim di daerah pesisir barat Sumatera. Segera saya kabur ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu’, kemudian shalat Subuh di kamar karena arah kiblatnya sudah saya ketahui.

Setelah shalat Subuh, saya berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi ke ITB karena kata panitianya, registrasi sudah dimulai pukul 06.30 dan berakhir pukul 07.30. Pukul 06.10, kami yang perempuan sudah siap semuanya. Bahkan, sembari menunggu teman kami yang belum siap, saya sempatkan diri untuk berfoto. 😀

DSC04354  coba tebak, saya yang mana? 😀

Ternyata, rekan-rekan kami yang menginap di kamar lainnya belum ada satupun yang siap! Iya sih, sekitar pukul 06.00 mereka meng-sms salah seorang di antara kami, mengatakan bahwa mereka ketiduran dan belum ada satupun yang siap. Padahal mereka hanya bertiga dan setiap kamar dilengkapi dengan dua kamar mandi, apa salahnya salah satu di antara mereka ini mandi dan bersiap-siap, kemudian membangunkan dua rekan yang lain. Ternyata ditunggu sampai 15 menit kemudian, mereka belum juga siap. Tentu saja kami kesal, harusnya mereka yang menunggu kami, kami lebih pantas untuk terlambat. Belum lagi transpor ke ITB yang tidak kami ketahui pasti. Katanya sih, ada yang akan menjemput, tetapi tidak ada satupun diantara mereka yang mengkonfirmasi.

Akhirnya, pukul 06.30, mereka baru siap setelah berkali-kali kami hubungi agar sedikit lebih cepat, karena orang yang menjemput kami sudah menunggu lama. Saya kesal, bisa-bisanya mereka bersikap santai di saat genting seperti ini. Kalau nanti terlambat bagaimana? Untung saja tidak harus naik angkot.

Akhirnya, kami tiba di ITB sekitar pukul 06.50. Kami melakukan registrasi di Aula Student Center Timur. Saya sendiri merasakan aura nostalgik karena sudah lama tak berkunjung ke ITB (pantas saja saya merasa familiar dengan gedung-gedungnya). Setelah melakukan registrasi ulang, kami sarapan di depan gerbang. Ada banyak penjaja makanan dan kami memutuskan untuk makan soto ayam lamongan. Sembari menunggu makanan datang, mata saya terpikat pada gerobak yang menjual lumpia basah, yang sayangnya belum buka karena penjualnya masih bersiap-siap. Saya bertekad untuk mencobanya nanti.

Saat sedang asyik-asyiknya makan, satu sms datang dari paman saya. Beliau berdomisili di Dago dan mengatakan akan datang pagi ini untuk mengantarkan makanan. Kira-kira pukul 07.20 beliau datang mengantarkan nasi kuning dan gorengan, sementara perut saya sudah terlanjur kenyang. Akhirnya, saya hanya memakan satu buah risoles, berharap makanan lainnya tidak basi saat saya pulang nanti.

Setelah selesai makan, kami kembali ke ITB. Masih sempat-sempatnya kami berfoto, padahal acara dimulai pukul 08.00.

IMG_2358

Setelah berfoto, kami bergegas ke aula dan ternyata kursi peserta sudah hampir penuh, sementara acaranya sudah dimulai. Panitianya tepat waktu, saya acungkan jempol untuk itu :D. Kami duduk di barisan kursi arah kiri belakang yang ternyata berujung reunian! Salah seorang teman saya (dia angkatan 2008) yang melanjutkan pendidikan profesi apotekernya di ITB datang menghampiri dan dia duduk di sebelah saya. Kami bercerita banyak selama acara berlangsung. Tentang paradigma para pengajar yang berbeda, tentang sistem kuliah yang berbeda, dan tentang hal-hal lainnya.

Ruangan tempat dilaksanakannya acara Studium Generale ini pun membuat saya kagum karena saya tidak pernah menemukan gedung bergaya serupa di UNAND. Gedungnya serba putih dengan gaya minimalis, serta penerangannya mengandalkan kaca-kaca lebar. Setting tempatnya pun dibuat seperti talkshow dan moderatornya menggunakan pakaian ala MC professional, blazer hitam dengan bawahan hitam. Cara membawakan acaranya santai, tetapi tetap elegan. Mungkin kelak bisa diaplikasikan saat kami kembali ke kampus tercinta, Universitas Andalas.

Jujur, saya tidak terlalu menyimak para pembicara yang menyampaikan materi. Saya hanya terfokus pada panggung saat acara beralih pada sesi hiburan. Hiburan pertama berupa duet penyanyi yang membawakan lagu SNSD – Run Devil Run, yang terkesan elegan karena diiringi gitas akustik, belum lagi suara penyanyinya yang bening, membuat para penonton mendecak kagum. Hiburan kedua, masih penampilan akustik dengan formasi pemain yang agak berbeda. Hiburan terakhir… jejejeng… dance! Penampilan yang jarang sekali saya saksikan secara langsung. Saya terpukau, dan ikut mendesah kecewa saat penampilannya usai.

Akhirnya, sesi Studium Generale berakhir dan tiba saatnya detik-detik menjelang kompetisi konseling. Bahkan nasi timbel yang menjadi hidangan makan siang saat itu tidak bisa saya nikmati dengan baik.

Apa yang terjadi saat kompetisi konseling berlangsung? Tunggu episode berikutnya, ya 😀

Advertisements

2 thoughts on “Tour de Parahyangan (Day 2) – First Half

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s