Review PKP Bangsal Interne

Nah, mulai dari tanggal 29 April hingga 17 Mei 2013, kami bertransformasi dari ‘anak-anak’ menjadi ‘orang pedalaman’.  ‘Anak-anak’ merupakan julukan bagi mereka yang sedang menjalani siklus PKP di Bangsal Anak, sedangkan ‘orang pedalaman’ merupakan julukan bagi mereka yang sedang menjalani siklus PKP di Bangsal Interne/Penyakit Dalam. Sebutan ini berasal dari rekan-rekan PKP saya, dan memang sesuai dengan kenyataannya, ‘anak-anak’ pulang pkp lebih awal, sedangkan ‘orang pedalaman’ tinggal di bangsal interne yang terletak di bagian paling belakang pada bagian Instalasi Rawat Inap A RSSN.

Berbeda dengan Bangsal Anak, di Bangsal Interne, kami tidak lagi merasakan ‘dag-dig-dug’ karena ditanyai perseptor I saat bed side teaching (BST). Perseptor-nya terkesan cuek karena beliau memang dokter yang supersibuk. Suasana ini sangat mendukung untuk bermalas-malasan. Misalnya saja datang agak lebih lambat, dari yang biasanya harus standby di bangsal anak paling lambat pukul 07.00, kini boleh molor sedikit jadi pukul 08.00 pagi. Tidak masalah bila tidak belajar, karena tidak akan ditanyai. Boleh juga kalau malas lihat status pasien atau follow-up, toh nggak ada pasien yang menjadi tanggung jawab pribadi di sini. Tapi, ya, kembali pada pilihan masing-masing, mau belajar atau numpang muka doang. Saya pribadi sih lebih memilih pilihan pertama, walaupun kadang malasnya kumat juga. Sesekali terpaksa harus rajin followup karena ditegur perawat, abisnya kami lebih sering ‘terlihat’ duduk daripada bekerja. Meja tempat kami biasa mangkal juga kabarnya terlarang untuk ditempati oleh mahasiswa yang sedang praktek profesi ners. Bisa diambil sisi positif dan negatifnya, sih. Positifnya, mereka menghargai eksistensi mahasiswa program profesi apoteker. Negatifnya, larangan tersebut seolah merupakan sindiran bagi kami yang lebih sering duduk sambil ngerumpi dibandingkan bekerja.

Singkat kata, kami baru memperoleh kasus yang akan dipresentasikan pada hari Jumat (10 Mei 2013), sementara pasiennya akan pulang keesokan harinya. Barulah saya sadar dengan kewajiban yang seharusnya dilakukan, yaitu melakukan follow up, bukan sekadar membagikan obat, mengantarkan obat yang sudah dibeli pasien ke apotek rawat inap, atau memberikan informasi obat berkedok konseling. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur, kami harus mengangkatkan kasus tersebut, tidak peduli apakah kami siap atau tidak siap.

Setelah menjalani beberapa kali revisi, tibalah saatnya CRS. Nah, sialnya, kami belum pernah berdiskusi mengenai kasus ini dengan Perseptor I, bahkan hingga H-1 (22 Mei 2013). Beliau sih menjanjikan untuk berdiskusi keesokan paginya, beberapa jam sebelum presentasi kasus. Awalnya, saya sempat mengira bahwa beliau tidak akan sempat untuk berdiskusi dengan kami, tetapi dugaan saya salah. Beliau meluangkan waktu untuk kami setelah melakukan visite. Meskipun diinterupsi oleh ringtone ponsel milik beliau (yang mengindikasikan bahwa beliau memang benar-benar sibuk), diskusi berjalan lancar dan tenang. Kami menemukan beberapa kekeliruan dalam terapi, yang untungnya ditanggapi dengan positif dan jujur oleh beliau.

Pada saat presentasi, alhamdulillah, kelompok kami tampil dengan lumayan baik serta hampir semua pertanyaan dapat terjawab. Hanya saja, suasana diskusi masih kurang hangat. Sepertinya kami, para mahasiswa, butuh motivasi atau kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhan selama pkp di rumah sakit.

<Omong-omong, saya iri dengan rekan-rekan yang berkesempatan untuk pkp di RS Dr. Soetomo, Surabaya. PKP yang mereka jalani sepertinya lebih menyenangkan. Yah, ambil hikmahnya sajalah. :D>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s