Cerita dari Case Pertama di Bangsal Obgyn: Plasenta Previa

Bismillahirrahmanirrahim…

Sudah satu setengah bulan masa kepaniteraan klinik yang saya jalani berlangsung. Sebelumnya, saya berada di bangsal bedah, tapi karena tidak ada cerita yang istimewa (atau tidak sempat menulis di blog?) saya lewatkan saja. Mungkin kapan-kapan saya jemput lagi cerita tentang itu.

Di Bangsal Obgyn, kami dituntut lebih disiplin oleh perseptor, salah seorang dokter spesialis di sana. Harus tanda tangan absen pagi dan absen siang. Harus berpencar di masing-masing bagian: Kamar Rawat, Ginekologi-Onkologi, dan Poliklinik Kebidanan dan Kandungan. Harus mencari satu kasus di masing-masing bagian dan mengumpulkannya menjadi satu makalah di akhir masa praktik. Harus mengangkatkan case di minggu kedua praktik.

Mau tak mau, kami yang biasanya agak ‘longgar’ di bangsal bedah jadi keteteran juga.Hampir setiap hari kami habiskan dengan memilah status yang dirasa bisa untuk diangkatkan menjadi laporan kasus. Saya sering mengerutkan dahi saat membaca kasus-kasus di sana, maklum, dulunya saya belum pernah PKPA di Bangsal Obgyn, pelajaran farmakoterapi di kampus juga tidak terlalu dititikberatkan untuk menanggulangi masalah-masalah yang terkait dengan obstetri dan ginekologi.

Singkat cerita, salah seorang teman saya menyerah untuk menyelesaikan kasusnya dengan alasan sulit fokus karena harus mengajarkan teman sekamarnya (teman sekelompok saya juga). Awalnya saya sedikit menggerutu juga, beban ini terlalu berat, apalagi perseptor kami kali ini orangnya kritis dan tidak main-main. Saya mengetahuinya karena sempat mengikuti sesi case kelompok lain yang lebih dulu berada di Bangsal Obgyn.

Kasus yang awalnya saya pilih adalah Pre Eklampsia Berat (PEB), suatu keadaan dengan karakteristik sebagai berikut: 1) tekanan darah melebihi 160 mmHg (systole) dan 110 (diastole); 2) proteinuria > 5g/24 jam atau +4 secara kualitatif; 3) oliguria < 500 ml/24 jam; 4) edema paru atau sianosis; 5) sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzymes, Low platelets). Pasien mandapatkan MgSO4, metildopa, dan deksametason. Beberapa hari telah saya habiskan untuk menelaah kasus tersebut untuk mengetahui apakah ada masalah yang terkait dengan obat-obat tersebut atau tidak. Namun, entah dasarnya saya yang malas atau lebih tepatnya, tidak bisa bekerja dengan baik bila waktu tenggat masih lama, saya memutuskan untuk mengabaikan kasus itu. Lagipula, dari beberapa literatus yang saya temukan, tidak ada masalah mengenai terapi pengobatan pasien tersebut, jadi kesannya tidak terlalu menarik untuk diangkatkan. Saya jadi kehilangan chemistry dengan kasus itu.

Waktu terus berlalu, dan teman saya mendesak agar kasus tersebut bisa diangkatkan paling lama hari Jumat karena salah seorang teman saya akan ujian pada hari Sabtu. Pusing dengan kasus PEB, saya mencari status lain di Kamar Rawat yang menjadi station saya selama minggu pertama dan menemukan kasus plasenta previa totalis (dimana plasenta menutupi jalan lahir secara sempurna, bila saya tidak salah). Pasien mendapatkan nifedipin, deksametason, seftriakson, serta asam mefenamat. Lagi-lagi, dari hasil studi literatur yang saya lakukan, tidak ada masalah dengan terapi. Yang perlu saya tulis dalam makalah tersebut hanya bukti-bukti yang mendukung bahwa penggunaan keempat obat tersebut aman, tepat, dan efektif.

Bahkan hingga malam menjelang hari-H pun, saya belum tertarik untuk menggarap bagian terpenting dalam makalah laporan kasus, yaitu diskusi (pembahasan). Saya bukan tipe orang yang suka memaksakan diri, kecuali keadaan telah betul-betul mendesak. Karena itu saya lebih memilih untuk tidur dan berharap bisa bangun lebih pagi. Alhamdulillah, saya dimudahkan untuk bangun lebih awal, sehingga bisa menulis bab tersebut dengan pikiran yang segar. Beberapa kali pula saya mengalami kebuntuan karena kurang referensi. Saya masih ingat betul sang perseptor mengingatkan kami agar menyelesaikan kasus dengan lebih baik dari teman-teman kami sebelumnya dan dianalisis dengan lebih mendalam. Masalahnya, saya buntu saat membahas asam mefenamat, sulit mencari referensi yang terkait dengan dosis dan jangka pemakaian yang dapat menyebabkan perdarahan pada ibu hamil atau yang melahirkan. Karena tidak ada waktu lagi, saya membahasnya dengan satu-satunya literatur yang tersedia mengenai hal itu. Kasus saya selesai pukul tujuh pagi lewat, tetapi masalahnya sekarang, saya belum sempat editing. Menyusun daftar pustaka serta menambahkan sumber rujukan di belakang kalimat yang saya kutip dari literatur juga memakan banyak waktu. Belum lagi tabel follow-up yang masih berantakan. Akhirnya, pada pukul setengah delapan lewat, saya menyelesaikannya. Setelah mandi kilat dan mempersiapkan semuanya, saya berangkat … ke tempat nge-print. Printer-nya sempat ngadat, saya harus menunggu beberapa menit lagi. Temans aya sudah menelepon, ia melihat perseptor kami di RS dan bertanya apakah saya sudah menyelesaikan makalah kasusnya. Saya jawab sudah, tetapi saya belum membuat powerpoint presentasi. Ia mengatakan akan membicarakannya lagi nanti, yang penting saya segera sampai di rumah sakit.

Saya sampai di Bagian Ginekologi dengan napas ngos-ngosan. Setelah bertemu teman-teman saya, saya menandatangani absen. Kami pun akhirnya sepakat untuk menemui perseptor, menanyakan jadwal untuk case. Ternyata, dokter perseptornya menyanggupi untuk case sekarang juga di perpustakaan SMF Obgyn. Dengan terburu-buru, saya membuat presentasi seadanya untuk ditampilkan nanti.

“Bapaknya datang!” seru teman saya sambil melihat ke kamera CCTV yang terpasang di ruang perpustakaan. Mati, pikir saya. Untunglah, pada saat yang bersamaan dengan masuknya dokter perseptor, saya berhasil menyelesaikannya.

Persentasi dimulai, dan jujur saya akui bahwa persentasinya tidak terlalu bagus, bukan hanya dalams egi visual, tetapi juga dari segi performa. Ya sudahlah, toh dokternya lebih fokus pada makalah kami. Sesi yang horor pun dimulai, kami ditanyai satu-satu karena teman saya kelepasan menjawab bahwa kasus ini kami garap bersama. Nyatanya, ini adalah kasus saya dan saya garap sendiri, sesuai dengan tugas yang diberikan perseptor di awal pertemuan. Tentu saja mereka agak kesulitan karena baru membaca kasus ini beberapa menit sebelum persentasi. Dokter perseptor lalu marah dan kecewa karena pembahasan kami pada kertas kerja farmasi terlalu dangkal, padahal hampir semua jawaban dari pertanyaan beliau bisa dibaca pada bagian diskusi. Namun, sepertinya, beliau tidak membaca bagian itu, mungkin karena terlalu banyak teks. Tidak ingin memberikan kesan buruk tentang penampilan kami, saya pun mencoba menjawab semampunya sambil mencuri-curi lihat pada makalah case di laptop. Ternyata jawaban saya cukup tepat sasaran, meskipun tidak semua pertanyaan bisa saya jawab karena ada yang belum saya cari pembahasannya. Untungnya, pada akhir sesi, perseptor kami terlihat sedikit lunak dan menutup pertemuan kami dengan kesan yang baik (sepertinya). Kami hanya diminta untuk menambahkan pembahasan agar makalah ini lebih sempurna lagi.

Akhirnya, case pertama berakhir. Meskipun lega, kami masih punya utang yang harus diselesaikan. Belajar lebih baik dan menganalisis lebih baik lagi, karena kami sudah berada di jenjang pendidikan strata-dua.

Semangat untuk rekan-rekan setimku di Obgyn. Case berikutnya harus lebih baik lagi.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s