[Review] Koin Terakhir

koin terakhir

Judul                    : Koin Terakhir

Pengarang           : Yogie Nugraha

Penerbit               : Bentang Pustaka

Cetakan               : Pertama, Juli 2013

Jumlah halaman : 304 halaman

Sinopsis:

Sebuah tugas besar diamanahkan kepada Zen Wibowo oleh Badan Intelijen Negara (BIN), institusi tempat agen andal itu bernaung. Begitu mendesak, bahkan jauh lebih penting daripada pernikahannya dengan Arcelia yang tinggal menghitung waktu. Lelaki itu diminta untuk mencari sebuah koin yang hilang dari Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Koin itu berisi data rahasia milik pemerintah, yang akan menyebabkan krisis keamanan nasional bila jatuh di tangan orang yang salah.

Zen diminta untuk mencari dan mengembalikan koin itu saja, tidak kurang, tidak lebih.  Lemsaneg akan mengurus sisanya.

Berjudi dengan waktu, begitulah Zen menyebutnya, membawanya berkeliling Eropa. Dari Paris hingga Rusia. Sungguh, misi ini sama sekali tidak mudah. Zen diuji hingga batas kemampuannya. Hingga titik terakhir yang tidak pernah dibayangkan olehnya.

Kali ini, apakah Zen mampu menyelesaikan misinya?

*****

Cerita yang menarik dan menambah wawasan saya dalam berbagai hal. Mulai dari institusi rahasia Negara yaitu BIN dan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), yang baru saya ketahui seluk-beluknya melalui novel ini. Lalu, detil mengenai beberapa negara di Eropa, yang beberapa di antaranya masih belum familiar bagi saya. Kemudian, sekilas mengenai filsafat dan tokoh-tokoh yang bergelut di bidang tersebut. Tidak ketinggalan, konspirasi beraroma politis yang bercokol di bumi Nusantara, penyebab terpuruknya Indonesia dalam penjajahan modern yang dilakukan oleh putra bangsa sendiri.

Karakter utamanya cukup kuat. Zen Wibowo, agen yang cerdas, tangguh, menguasai enam bahasa asing, dan tak pernah gagal dalam menyelesaikan misi apapun yang diembankan padanya. Reputasi yang sangat baik, ditambah penampilan fisik yang menawan mampu membuat Zen menjadi karakter yang pantas untuk mendapat porsi perhatian lebih. Karakter lainnya, Arcelia Nasution, meskipun digambarkan menjadi sosok yang begitu berharga bagi Zen, tetapi saya belum melihat kaitannya dengan cerita ini. Dan, entah karena kedua karakternya sama-sama (terlalu) cerdas, saya juga belum melihat sisi romantis dari penggalan kisah asmara mereka yang dipaparkan dalam novel. Namun, tidak masalah, saya cukup menikmati obrolan mereka yang sarat ilmu. Tokoh-tokoh lainnya dijelaskan dengan baik melalui bab-bab terpisah, tak peduli sebesar atau sekecil apapun porsi mereka dalam kisah ini.

Latarnya menarik dan tidak monoton. Indonesia, Paris, dan beberapa kota lain di Eropa. Setiap tempat digambarkan detil, membuat saya merasa seolah-olah berada di sana, atau setidaknya menyaksikannya dari jauh. Riset yang tidak main-main, ditambah dengan deskripsi yang jelas dan rapi, tentunya berperan penting dalam hal ini. Salut untuk penulis yang berhasil melakukan kedua hal tersebut dengan baik.

Dari segi penulisan, novel ini diceritakan dengan cukup luwes, meskipun tetap lugas. Cukup nyaman dan enak untuk dibaca. Hanya saja, ada kata ganti orang ketiga yang direpetisi beberapa kali dalam satu paragraf. Saya juga menemukan beberapa frase yang sering diulang dalam kisah perjalanan Zen di Eropa. Pukulan pertama, pukulan kedua, dan seterusnya. Tidak terlalu mengganggu, sebenarnya. Mungkin bisa lebih divariasikan lagi. Ada satu typo yang saya ingat, entahlah, rasanya saya menemukan dua atau tiga buah selama membaca novel ini.

Plotnya apik. Tidak terburu-buru, meskipun pergerakan Zen sangat cepat, tak ubahnya agen sejati. Ada kejutan-kejutan kecil yang menghalangi Zen untuk menemukan barang yang dicarinya dengan mudah. Lalu, ada kejutan besar di akhir pencarian, dan ada misteri yang lebih besar lagi di akhir cerita yang menunggu untuk terungkap. Penulis berhasil membawa saya untuk ikut merasakan emosi yang dialami oleh tokoh utama. Eksekusi finalnya pun cukup baik. Sebenarnya, saya mengharapkan adanya pergulatan menegangkan dari Zen melawan tokoh antagonis di akhir cerita, tetapi nyatanya, hal tersebut tidak terjadi. Kesan yang tertangkap oleh saya, Zen seolah diselamatkan oleh orang lain, sehingga rasa puas saya terhadap kemenangan Zen di cerita ini tidak terlalu besar.

Akhir ceritanya menggantung dan masih banyak pertanyaan yang menunggu untuk terjawab. Semoga novel berikutnya mampu memuaskan rasa penasaran saya.

Koin Terakhir merupakan novel spionase yang menarik dan menambah wawasan. Boleh Anda coba bila ingin menghabiskan waktu luang dengan kisah investigasi karya anak negeri.

Selamat membaca!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s