Cerita dari Simposium Penyakit Infeksi Tropis

DSCF0897

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dua hari yang lalu, saya dan beberapa orang teman dari S2 Farmasi Klinis UNAND berkesempatan untuk mengikuti simposium yang diadakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar. Tajuknya adalah Penyakit Infeksi Tropis yang berfokus pada penggunaan antibiotik, demam tifoid, infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan infeksi virus Dengue. Acara diselenggarakan di Hotel Pangeran Beach, Padang, mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 dan memakan waktu 2 hari hingga selesai. Sebenarnya ada workshop yang bisa diikuti setelah simposium, tetapi pesertanya terbatas untuk dokter dan dokter spesialis.

Sebenarnya, sudah dari bulan Oktober saya dan seorang teman mengincar simposium ini. Kami menghubungi salah seorang contact person (CP), tetapi tidak memperoleh konfirmasi mengenai bisa atau tidaknya kami, mahasiswa S2 Farmasi, untuk menjadi peserta. Beruntunglah beberapa hari sebelum pendaftaran ditutup, ada teman yang menginformasikan tentang simposium ini karena mereka baru menyelesaikan stase praktek di Bangsal Anak. Harganya didiskon pula! Dari yang seharusnya Rp 300.000,00 dipotong menjadi Rp 225.000,00. Lumayan, ‘kan?

Singkat cerita, tibalah hari pertama simposium. Saya datang tepat pada pukul 08.00 dan untungnya acara tidak dimulai tepat waktu karena setiap peserta harus melakukan registrasi. Di meja registrasi, saya mengisikan beberapa data diri seperti asal institusi, alamat e-mail, dan nomor HP serta membubuhkan tanda tangan pada kolom yang disediakan. Saya mendapatkan kokarde, buku notes, tas batik cantik, brosur tentang BPJS kesehatan, dan buletin Forum Diagnosticum dari Prodia. Mendapatkannya saja saya sudah membayangkan betapa berkelasnya acara ini. Untuk menyediakan semua itu pastilah dananya tidak main-main dan butuh sponsor juga, bukan? Ah, sudahlah, mari kembali ke topik.

Setelah registrasi, saya bergabung dengan dua orang teman saya, duduk di barisan kedua dari depan. Posisi kami pas di tengah. Acara sendiri baru dimulai pukul 08.30, diawali dengan beberapa sambutan singkat dan dibuka secara resmi oleh Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis.

Materi hari pertama diawali dengan Farmakodinamik dan Farmakokinetik Antibiotik, Pemilihan antibiotik dan general approach to infection, Peran uji mikrobiologi dan tes kepekaan, serta Terapi antibiotik pada febrile neutropenia. Empat sesi materi tersebut ditutup dengan satu diskusi dan lunch symposium. Pada sesi ini lah kami terperangah, betapa dekatnya kami, para apoteker dengan topik antibiotik ini. Farmakodinamik dan Farmakokinetik antibiotik, kami telah mempelajarinya sejak S1, bahkan secara jauh lebih dalam dibandingkan dengan (maaf) materi yang disampaikan. Namun, kenapa justru dokter yang memberikan materi ini? Perlu introspeksi diri sebagai profesional farmasi. Ke mana saja kita selama ini?

Setelah sesi diskusi selesai, peserta dipersilakan untuk beristrirahat dan mengambil snack serta minuman (coffee break). Saya mengambil air mineral dalam kemasan gelas, serta risoles dan bolu pandan. Tidak tahu kenapa, malas saja untuk mengambil secangkir teh atau kopi. Setelah selesai mengudap makanan, kami segera berkeliling ke stan-stan farmasi, mengisi buku tamu serta mendapatkan stempel di belakang kokarde sebagai bukti. Di setiap stan, kami juga mendapatkan gimmick (pernak-pernik) yang lucu dan unik. Yang paling heboh adalah di stan Morinaga, semua orang berebut untuk mendapatkan sepasang boneka berwarna pink dan kuning, yang ternyata merupakan pengukur lingkar kepala dan gantungan stetoskop. Di stan lainnya, kami mendapatkan stiker yang ditetesi Vaporin®, campuran minyak esensial berkhasiat dekongestan, tas kain, dan map. Karena bukan dokter, saya juga tidak terlalu tertarik untuk bertanya-tanya kepada medical representative mengenai produk yang dipresentasikan di stan. Sebagai gantinya, saya hanya mengambil brosur dan leaflet berwarna-warni yang disediakan.

Cukup lama kami berada di area stan karena harus menunggu hingga semua kami selesai mendapatkan stempel. Sebenarnya, kenapa sih, harus mendapat stempel? Karena 4 buah stempel itu adalah bukti bahwa kami telah mengunjungi semua stan. Pada hari kedua, akan ada pengundian doorprize dan stempel-stempel tersebut menjadi prasyarat untuk mengambil hadiah. Lucu, ya?

Kami pun terlambat mengikuti sesi kedua. Untungnya, materi kelima masih berlangsung sehingga tidak terlalu ketinggalan. Materi kelima bertajuk Infeksi Streptococcus, diikuti Healthcare-associated infection, serta Pitfall pada demam tifoid. Ditutup oleh satu sesi diskusi lagi dan lunch symposium. Peserta kemudian dipersilakan untuk istirahat shalat dan makan siang.

Antrean peserta sangat panjang ternyata, untuk mendapatkan tempat duduk pun tak kalah susah. Untung ada teman yang mau menjaga tempat duduk di dekat pintu belakang, sehingga kami bisa melihat pemandangan yang bagus di tepi pantai dan kolam renang. Lauk dan sayur yang disediakan sangat menggugah selera, rendang, ikan bakar, sayur gulai paku campur udang, perkedel kentang, kerupuk, dan sambal lado hijau. Saya sebagai anak kos sejati tentunya tidak mau melewatkan kesempatan langka seperti ini untuk variasi menu sehari-hari. Juga disediakan buah potong segar (semangka, melon, pepaya) serta soto daging. Pulang-pulang langsung kenyang. Alhamdulillah… 😀

DSCF0907   DSCF0906

Pemandangan kolam renang dan pantai di belakang Hotel Pangeran Beach

 

1002050_610043199033251_555478590_n

Narsis sejenak setelah makan siang

Hari kedua, topik yang diangkat adalah Penularan Penyakit dari Ibu ke Anak (PPIA), Tatalaksana infeksi HIV pada bayi, anak, dan remaja HAART, serta Tatalaksana infeksi oportunistik pada HIV. Materi ini sangat menambah pengetahuan saya terkait HIV karena jujur saja, selama kuliah, infeksi HIV tidak banyak dibahas, obat-obatnya saja terdengar asing. Lalu, disusul oleh sesi diskusi dan sesi industrial symposium. Kemudian, seperti kemarin, peserta dipersilakan untuk coffee break dengan batas waktu yang ditentukan, berkaca dari pengalaman kemarin sepertinya. Snack yang disajikan adalah lemper ayam dan rainbow cake. Akhirnya kesampaian juga mencoba cake yang sempat fenomenal ini.

1459200_610320002338904_1273774194_n

Narsis lagi waktu coffee break

Tidak seperti kemarin, hari kedua, saya kembali ke tempat duduk pada waktu yang tepat. Materi selanjutnya bertajuk Fever without source, Diagnosis klinis dan laboratorium infeksi dengue, dan Tatalaksana Infeksi Dengue. Para dokter  antusias bertanya pada sesi diskusi karena infeksi dengue banyak ditemukan di Indonesia, juga merupakan salah satu penyakit yang butuh penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi dan kematian. Selama materi berlangsung, saya teringat masa-masa praktek kerja profesi apoteker (PKPA) di bangsal anak. Dokter perseptor kami sangat disiplin. Kasus demam berdarah dengue juga merupakan salah satu kasus yang sering ditemui selama masa PKPA dan saya yang awalnya tidak begitu paham dengan tatalaksana penyakit ini menjadi mengerti di akhir masa PKPA.

Pada hari kedua, saya juga bertemu dan bersalaman dengan perseptor saya ini. Sudah saya duga beliau akan datang, dan mungkin saja beliau akan mengajarkan ilmu baru yang diperoleh selama simposium dan workshop kepada rekan-rekan saya yang masih PKP di RS Stroke Nasional Bukittinggi.

Sesi diskusi dilanjutkan dengan lunch symposium bertajuk Infeksi Rotavirus. Pas sekali materi ini diletakkan di penutup karena penyampaiannya paling nendang bila dibandingkan dengan sesi industrial symposium maupun lunch symposium di hari sebelumnya. Materi ini disampaikan oleh dr. Kiki Madiapermana, Sp. A(K), M.Kes. Beliau menekankan pentingnya vaksin rotavirus di tengah anggapan yang beredar luas bahwa untuk menangani diare yang disebabkan oleh virus ini, terapi dehidrasi lebih tepat digunakan karena lebih murah. Padahal, kenyataannya, infeksi rotavirus tidak hanya menyebabkan diare. Diare hanyalah salah satu gejala dari infeksi. Infeksi ini sendiri bisa menyebabkan kerusakan otot jantung yang berujung pada kematian.

Setelah sesi lunch symposium selesai, panitia mengadakan pengundian doorprize. Sayang sekali saya tidak mendapatkan apa-apa, tetapi teman yang duduk di sebelah saya beruntung mendapatkan powerbank. Lumayan, ada perwakilan dari Farmasi :D. Kemudian, saya dan dua orang teman bergegas mengejar makan siang, tetapi sialnya, tempat duduk penuh semua. Kami kembali ke meja registrasi untuk mengambil sertifikat dan CD materi. In shaa Allah, materinya akan saya bagi di blog ini dalam waktu dekat karena saya belum meng-copy-nya ke laptop sampai sekarang.

Kami kembali mendapatkan tempat duduk di dekat pintu belakang seperti kemarin. Menu konsumsi hampir sama dengan kemarin, ada soto paru dan buah segar. Yang berbeda adalah lauknya, dendeng dan ayam batokok, gulai ikan kakap, urap, dan bakwan udang. Selain itu, juga disediakan es rumput laut. Lengkaplah sudah sesi petualangan kuliner ala anak kos ini.

Intinya, tidak ada yang sia-sia selama mengikuti simposium ini. Dapat ilmu langsung dari pakar yang kompeten di bidangnya, dapat pernak-pernik, dapat sertifikat, dan dapat makanan yang enak serta mengenyangkan. Semoga semuanya barakah 🙂

Dan semoga saya berkesempatan untuk mengikuti simposium seperti ini selanjutnya. Dari IAI Sumbar, mungkin? Saya akan sangat menantinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s