Tour de Parahyangan (Day 3)

Cerita sebelumnya: Tour de Parahyangan (Day 2) – Last Half

Mungkin para pembaca yang sempat nyasar di cerita ini merasa geregetan saking lamanya menunggu. Andaikan lumut juga ikut menunggu, bisa dibayangkan berapa tebal dan luasnya lapisan lumut yang tumbuh di bebatuan atau di dinding tembok.

Sebelumnya saya mohon maaf karena keterlambatan yang begitu keterlaluan ini. Bayangkan, hampir setahun jarak antara Day 2 – Last Half dengan Day 3. In shaa Allah saya akan berusaha menyelesaikannya dalam minggu ini. Semoga tidak banyak hal yang terlupakan.

Jadi, intinya, delegasi UNAND tidak ada yang masuk babak final. Itu artinya kesempatan kami untuk jalan-jalan terbuka lebar! πŸ˜€

Hari kedua kami tutup dengan janjian untuk berkumpul pukul setengah delapan pagi besoknya (kalau saya tidak salah).

Dan hari ketiga pun datang. Sedikit molor karena yah, kami cukup ramai. Ada delapan orang dan hal pertama yang kami keluhkan di pagi hari itu adalah: lapar. Yes, kami lapar dan di manakah kami sebaiknya mengisi perut? Sebenarnya di depan MESS BKKBN tempat kami tinggal ada penjaja makanan kaki lima, menjual nasi dan aneka lauk. Namun, saya lupa, entah siapa yang mencetuskan ide bahwa kami bisa makan di MESS ini. Lalu, dengan pedenya, kami masuk ke ruang makan, mengambil nasi goreng yang warnanya pucat, telur, dan kerupuk. Kami makan di meja bundar, menikmati sarapan pagi sambil cekakak-cekikik, tanya-tanya golongan darah, dan memperbincangkan hal-hal yang sebagian besar tidak begitu penting.

Lalu, tiba-tiba, saat kami selesai makan, seorang ibu-ibu bertanya kepada kami dengan nada suara lembut tapi cukup keras untuk didengar oleh semua orang yang berada di sana.

β€œSiapa yang menyuruh kalian makan di sini?”

Glek.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hening.

Kami minta maaf dan langsung ngacir dari ruangan tersebut. Ada satu (atau dua orang?) yang tinggal, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan serius, itu kejadian yang paling memalukan selama saya berada di negeri orang.

β€œIbu itu minta uang ganti telur aja.”

β€œYa, tapi harusnya nggak ngomong di depan orang banyak, dong?”

Ehm, yah, sedikit adu mulut di pagi hari. Maklum, kami berbeda kultur. Di kampung halaman kami, ranah Minang, orang begitu menjunjung rasa malu. Saking demikiannya, tidak perlu marah secara lugas untuk mengingatkan orang Minang yang berbuat salah. Cukup dengan menyindir, biasanya yang bersangkutan akan malu sendiri dan meminta maaf. Atau, cara yang lebih arif, panggil salah satu di antara kami, lalu minta ia untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Ya sudahlah. Toh, kami juga yang berada di pihak yang salah.

Kemudian, kami berjalan keluar dari MESS dengan hati yang semikusut, menyeberang, lalu, menaiki angkot warna hijau atau kuning gitu. Pokoknya kami turun di Pasar Baru. Suasana pasar masih sepi dan masih banyak toko yang belum buka. Dan untuk pertama kalinya saya melihat oncom secara langsung. Bentuknya balok, mirip tempe, tapi berwarna oranye.

Saya berpikir,”Ngapain juga ke Pasar Baru pagi-pagi buta begini?”

Akhirnya kami berjalan dan terus berjalan, melewati kantor pos, Masjid Raya Bandung, kantor BRI, dan Jl. Cikapundung. Ada lapak yang menjual buku dan majalah bekas, pemandangan yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya. Ketahuan siapa yang suka baca dan siapa yang tidak begitu gila buku. Mata saya langsung terpaku pada majalah National Geographic edisi Indonesia yang dijual dengan harga Rp 15.000,00. Langsung saya beli dan simpan di dalam tas. Rencananya sih, saya akan melihat-lihat saja setelah ini, tidak akan membeli lagi.

04112012(001)

Masjid Raya Bandung

DSC04363

Kantor Pos Bandung

DSC04367

BRI Bandung

DSC04372

Lapak buku

Tapi!

Di lapak tetangga, ada ensiklopedi bertajuk TIME. Sudah jadul, sih, tapi isinya menarik. Saya tanya ke penjualnya, harganya Rp 60.000,00. Nggak tahu kalap atau kenapa, saya membayarnya begitu saja. Untung bapak penjualnya bilang Rp 100.000,00 dapat dua buku. Langsung Rizka maju dan mengacungkan buku pilihannya tentang Pikiran. Sip. Satu buku lagi masuk tas. Dan masih pagi begini saya sudah menghabiskan uang sebanyak Rp 65.000,00. Baguuus.

Setelah puas melihat-lihat buku dan kelompok teater yang sedang bersiap-siap. Oh, saya hampir lupa, selama kami berada di sana, ada kelompok fotografer yang berburu foto juga, lho. Sepertinya hidup sekali suasana Bandung pada Minggu pagi. Setiap orang bebas menyalurkan hobinya yang bermanfaat.

IMG_2409 Bersiap untuk teater (sepertinya)

 

Lalu, tibalah kami di Museum Konperensi Asia Afrika. Awalnya sih cuma foto-foto alay di depan tiang bendera. Ada banyak tiang dan kami berdiri di masing-masingnya, berpose.

 

04112012(006)

Rasanya hampir tidak bisa dipercaya. Benarkah ini? Apa saya tidak sedang bermimpi? Secara, selama ini saya hanya melihat gedungnya dari buku IPS dan buku Sejarah. Dan, melihatnya langsung di depan mata serasa, wow!

Hmm, museumnya buka, nggak, ya? Ternyata buka! Dan gratis. Dan museumnya keren sekali. Tata letak dan display-nya terlihat modern, jauh dari kesan suram. Kalau saya tinggal di Bandung, mah, udah dari dulu daya berkunjung, kali, ya?

04112012(008)

04112012(009)

Patung Presiden Soekarno dan pemimpin dari beberapa negara pencetus Gerakan Nonblok

 

Kami menulis nama di buku tamu, lalu berkeliling. Eh, ternyata ada bapak petugas yang dengan baik hati mengantarkan kami ke ruang konferensi. Megah sekali. Bisa dibayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya berada di masa lalu, saat ruangan itu berisi delegasi dari berbagai negara Asia dan Afrika, berdiplomasi dan menyampaikan pendapat. Bapak itu lalu menceritakan sejarah singkat ruang konferensi, yang katanya dulu merupakan ruang pesta orang Belanda. Konferensi Asia-Afrika sendiri diselenggarakan pada masa pemerintahan Soekarno. Beliau juga menceritakan betapa hebatnya kekuatan diplomasi pemimpin Indonesia waktu itu sehingga Kota Bandung bisa menjadi saksi sejarah pertemuan penting. Hotel Savoy-Homann waktu itu menjadi hotel yang paling mewah di Indonesia (kata beliau) dan menjadi tempat menginap para tamu dari berbagai negara. Dan banyak cerita lainnya yang beliau ungkapkan dengan begitu emosional hingga saya ikut tersentuh dan menitikkan air mata dibuatnya.

P9280036

Ruang Konferensi

Kemudian, kami diajak untuk melihat video dokumentasi. Maaf saya lupa tentang apa, kalau tidak salah terkait dengan KTT Nonblok. Setelah selesai, kami berpencar dan berkeliling, melihat berbagai display informasi, mendengar reka ulang percakapan Presiden Soekarno dengan Presiden Yugoslavia, berbelanja suvenir. Tidak terasa, sudah hampir siang dan kami keluar dari museum setelah puas berfoto-foto dan mengucapkan terima kasih kepada bapak itu.

04112012(011)

Ada semacam komputer yang memutarkan video terkait dengan tokoh yang dijelaskan di masing-masing box.

Makan di mana? Naik angkot apa?

Serahkan pada Vanji sang negosiator. Akhirnya, kami naik angkot warna hijau muda yang membawa kami ke ITB. Teman-teman saya shalat Zuhur di Masjid Salman, saya tidak ikut karena sedang halangan. Begitu melihat penjaja lumpia basah, saya langsung ikut antre. Oh, ternyata ini yang lumpia basah. Terima kasih untuk teman saya, Ching, atas informasinya. Sayang kita tidak bisa bertemu waktu itu.

Dengan harga lima ribu rupiah, saya bisa mendapatkan lumpia basah yang gendut dan padat berisi toge dan berlapis saus gula aren. Panas dan nikmat. Saya melahapnya sambil menunggu teman saya selesai shalat. Setelah shalat, kami makan di kantin Masjid Salman. Pengalaman yang berkesan karena sistemnya swalayan, ambil sendiri nasi, lauk, sayur, minuman, lalu bayar di kasir. Dan harganya murah! Saya mengambil nasi, rolade, kwetiauw, sayur cap cay, dan sebotol air mineral, kena Rp 9.000,00 saja. Kalau di Padang, harga segitu baru dapat nasi goreng atau minas. Belum termasuk minuman. Sebenarnya ada jus dan yoghurt juga, tetapi saya mau berhemat, jadi terpaksa ditahan saja.

Setelah makan, kami berjalan menuju Aula Center Timur, tempat babak final PCE dilaksanakan. Agak terlambat sebenarnya karena kami hanya menyaksikan tiga kontestan Beginner terakhir, lalu satu orang kontestan Advanced. Suasananya cukup menegangkan dan saya sadar dengan kemampuan saya yang masih cetek sehingga tidak layak untuk masuk babak final, bahkan babak semifinal. Belum selesai acara, teman saya sudah kebelet jalan-jalan. Alhasil, sore itu, selepas Ashar, kami pergi ke Pasar Baru.

Awalnya, saya mengira di Pasar Baru hanya ada pusat pertokoan biasa yang terdiri dari beberapa lantai. Ternyata, yang kami masuki itu adalah ITC Kebon Kelapa yang punya eskalator dan lift! Saya merasa seperti orang udik yang kesasar di kota. Namun, memang dasarnya saya tidak berniat untuk belanja baju dan tidak tertarik, serta tidak begitu suka berbelanja, saya hanya mengikuti ke mana teman saya melangkah. Lebih baik belanja baju di Pasar Aur Kuning, pikir saya waktu itu. Pulang-pulang sudah sore, saya justru berakhir membeli dua kotak strawberry (bayarnya berdua dengan teman) serta mainan tebak kata dalam bahasa Inggris. Ada cireng dan jus buah dengan tampilan menarik yang membuat saya tergiur, tetapi saya urungkan niat mengingat uang di dompet yang semakin menipis.

Sudah Maghrib, saatnya shalat. Kami berjalan keluar dari ITC, masuk ke ceruk-ceruk pasar yang agak gelap, dan sejujurnya mengerikan. Kami bergegas karena sudah janji dengan Prof. Armenia, dosen kami yang menjadi juri PCE untuk bertemu dan makan malam. Selesai shalat, kami menumpang angkot ke wisma tempat beliau menginap. Eh, tahunya malah nyasar, lebih tepatnya kami yang salah angkot. Untung ada ibu-ibu penumpang yang meminta supir untuk mengantarkan kami ke alamat yang dimaksud. Mungkin ibu itu kasihan melihat tampang kuyu dan asing, serta kebingungan yang tercermin jelas di wajah kami.

Kami turun, tetapi tidak benar-benar pas di depan wisma karena bukan rutenya. Maka di malam yang gelap itu, kami berjalan sambil bermain plesetan kata, mengalihkan rasa takut dan suram. Hanya ada kami yang berjalan di situ, sesekali kendaraan lewat. Untung kami menemukan orang yang bisa dijadikan tempat bertanya.

Sampai di wisma, kami bercengkrama sejenak, lalu capcus mencari makan malam. Dan tujuan kami malam itu adalah Warung Pasta. Glek. Begitu tiba di Warung Pasta dan disodorkan menu, saya bingung hendak memesan apa karena makanannya asing. Yah, siapa sih yang tidak tahu spaghetti? Tapi spaghetti di sini punya nama saus yang bervariasi, yang tidak saya temukan di Padang. Belum lagi harganya yang uh, tidak manusiawi bagi kantong saya malam itu. Akhirnya saya sok-sokan memesan spaghetti dengan saus keju dan jamur. Alhasil, seperempat suapan terakhir, saya merasa eneg dan buru-buru menuangkan saus sambal. Ternyata rasanya jadi lumayan. Kesimpulannya: saya bukan pecinta jamur dan keju sejati. Jamur shiitake rasanya agak aneh.

Vanji jadi bintang malam itu. Bermodalkan kepercayaan diri yang tinggi, ia maju ke panggung live music dan menyanyikan lagu dalam bahasa Inggris yang dipersembahkan untuk dosen kami. Alhasil beliau jadi malu. Dan yah, begitulah, malam itu jadi terasa berbeda. Beliau sempat bercerita pengalaman selama kuliah S2 di ITB, sehingga saya jadi terinspirasi untuk menyelesaikan studi S2 dengan baik.

Dan kejutan lainnya adalah…jreng jreng jreng. Kami ditraktir. Iya, ditraktir oleh Prof. Armenia. Uh, jadi merasa tidak enak meskipun kantong saya terselamatkan.

Lalu, kami berjalan pulang ke MESS. Malam itu agak sedikit riweuh karena ada rencana untuk pergi ke Ciwidey keesokan harinya. Ciwidey atau Puncak? Teman-teman saya ingin dua-duanya. Sekalian ke Jakarta, jadi besok dan lusanya bisa di Jakarta dulu. Rabunya, dari Jakarta langsung ke Bandara.

Masalahnya, travel ke sana ada atau nggak? Dan kalau ingin ke Jakarta, mau tinggal di mana? Oke, rencananya mau menginap di MESS Unand atau Jambi. Otomatis harus packing malam ini juga, dong?

Travel sudah dihubungi. Masih travel yang sama dengan yang kami tumpangi dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandung dua hari yang lalu. Supirnya menyanggupi.

Oh, tidak.

Mengapa liburan saya di Bandung harus berakhir? Saya bahkan belum bertemu dengan paman saya yang juga tinggal di Kota Kembang ini.

Penasaran dengan kelanjutan cerita saya? Harap sabar menunggu, ya. Maaf bila ada informasi yang salah karena keterbatasan daya ingat saya.

Advertisements

11 thoughts on “Tour de Parahyangan (Day 3)

    1. Haha..malu bana bang, ndak lo dihariak do, ibuk tu ngeceknyo lunak bana, tapi tadanga dek urang. *ah sudahlah*
      Ndak sempat do bang, patang tu agak ndak terencana do… pengen lah ka situ kalau ado rasaki ka Bdg baliak πŸ™‚
      Btw, kok ami danga bg ka ambiak S2 yo? Cieee

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s