[Dorama] Samurai High School: Bahkan Siswa Biasa Pun Mampu Menjadi Pahlawan

samurai-highschool

Namaku Mochizuki Kotaro. Umurku 17 tahun. Aku adalah siswa kelas 3 SMA yang tidak begitu pintar. Aku tidak kuat. Aku tidak punya uang. Orang tuaku menganggapku anak yang gagal. Dan tentu saja aku tidak punya pacar. –Prolog episode 2-

Dari pengakuan tersebut bisa dibayangkan bahwa Mochizuki Kotaro, tokoh utama di dalam dorama ini adalah siswa yang sangat biasa. Tidak berprestasi, tidak bisa serius, sering tidur di kelas, dan suka membuat ekspresi konyol di waktu yang tidak tepat. Keluarganya juga biasa-biasa saja, tipe keluarga kecil dengan Mochizuki Shinji, sosok ayah yang sering berpihak kepadanya, sosok ibu yang tidak habis pikir dengan kelakuan anak sulungnya, dan Mochizuki Yuna, adik yang cerdas dan sering meledeknya.

Cerita berawal dari kehidupan Kotaro yang normal. Saat pelajaran Matematika berlangsung, Kotaro tertidur di kelas dan bermimpi bahwa dirinya menjadi pemuda berusia 17 tahun yang mengikuti pertempuran pada zaman Sengoku. Kotaro dimarahi gurunya dan mendapat tugas untuk menulis laporan 30 halaman tentang pertempuran tersebut.

Kotaro memutuskan untuk pergi ke perpustakaan Shinonome yang ditemuinya di jalan menuju rumahnya, dan bertemu dengan penjaga perpustakaan yang agak nyentrik. Penjaga tersebut merekomendasikan sebuah buku kepada Kotaro. Saat Kotaro membaca buku itu, ia menyadari bahwa tokoh di dalam buku itu memiliki nama yang sama dengannya dan pertempuran yang dialami si tokoh juga sama dengan mimpinya. Kotaro merasakan keanehan dalam dirinya setelah membaca buku itu. Ia menceritakan kejadian yang dialaminya dan buku itu, tetapi tidak ada yang percaya dengannya. Ayahnyalah yang kemudian menceritakan bahwa leluhurnya, Mochizuki Kotaro, adalah bawahan jendral Sanada Yukimura yang mengabdi pada klan Toyotomi, dan mungkin saja samurai di dalam buku tersebut adalah leluhurnya.

Arwah sang samurai pertama kali muncul saat Kotaro menolong teman sekelasnya, Nakamura Tsuyoshi, yang sedang di-bully oleh tiga orang siswi. Nakamura sangat berterima kasih kepada Kotaro dan memutuskan untuk menjadi pengikutnya, bahkan memanggilnya dengan sebutan tono (panggilan kepada komandan perang) atau –dono (akhiran yang sama fungsinya dengan –san, berarti tuan).

Saat kerasukan arwah samurai, Kotaro bertingkah seperti samurai. Cara berjalan, cara makan, bahkan bahasa yang digunakannya membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bingung dan heran. Namun, sisi positifnya adalah Kotaro menjadi berani dan mahir bertarung, membuat Nagasawa Ai, teman masa kecilnya kagum dan melihat Kotaro sebagai sosok yang berbeda.

Masalah mulai timbul karena arwah sang samurai tidak menguasai tubuhnya seperti yang ia inginkan. Kadang ia butuh, tapi si arwah tidak datang, atau kadang ia tidak butuh, tetapi si arwah malah merasuk ke tubuhnya. Belum lagi saat Ai yang mulai curiga bahwa Kotaro memiliki kepribadian ganda.

Bagaimana kelanjutan nasib Kotaro? Kenapa arwah tersebut datang ke masa modern? Silakan tonton sendiri.

Mungkin ceritanya tidak masuk akal, mana ada sih arwah dari 394 tahun yang lalu kembali ke bumi dan merasuki tubuh seseorang? Tapi buang jauh-jauh hal tersebut dan ambil sisi positifnya. Kotaro di dorama ini bukan tokoh yang kuat sesaat lalu lemah kembali. Kotaro, meskipun terlihat payah, ia memiliki rasa keadilan yang tinggi. Bila ia tidak suka, ia akan mengatakannya, tidak peduli seberat apapun konsekuensinya. Apalagi Kotaro versi samurai yang memang gagah berani dan menjunjung nilai-nilai samurai. Baik Kotaro versi siswa maupun versi samurai adalah tokoh yang berkarakter kuat dan memegang teguh prinsipnya. Bedanya bila Kotaro versi siswa lebih senang cara damai, Kotaro versi samurai tidak akan segan untuk bertarung bila memang diperlukan.

Cerita ini jauh dari kesan serius dan penuh komedi yang sebagian besar berasal dari kekonyolan Kotaro. Namun, saat sang samurai muncul, wusshh, aura humor lenyap sementara, berganti dengan aura samurai yang dingin. Saat si samurai lenyap, kekonyolan kembali mengisi dorama ini, begitu seterusnya, sehingga dorama ini tidak membosankan, tetapi tetap sarat makna.

Mungkin drama ini tidak terlalu istimewa, pencahayaan, latar, properti yang digunakan biasa saja. Namun, hal yang membuat drama ini menarik adalah dualitas pemeran utama, yang pada satu sisi memerankan karakter konyol, satu sisi lain memerankan karakter yang serius, dan Miura Haruma, pemeran Mochizuki Kotaro mampu melakukannya dengan sangat baik. Selain itu, drama yang baik menurut saya adalah drama yang mampu mennyeret penonton mengikuti arus cerita. Lagi-lagi, Miura Haruma mampu melakukannya, tanpa bermaksud mengesampingkan tokoh lain, seperti Shirota Yuu, pemeran Nakamura Tsuyoshi, atau Watanabe Anne, pemeran Nagasawa Ai. Ia mampu membuat saya berteriak,”Kotaro! Kotaro!” saat Kotaro sedang berada di situasi genting, atau, “Yah.. Kotaro, kok udah balik ke normal sih?” saat ia kembali ke normal padahal misinya belum selesai.

Sedikit bocoran dari hasil screencaps episode 2:

kotaro1 berbeda jauh, bukan?

Salah satu quote favorit saya di dorama ini:

“Ikiru tame ni nigeru koto. Ikiru tame ni tatakau koto. Tomo ni imi no aru koto de gozaru. ”

”Berlari untuk hidup. Berjuang untuk hidup. Bersama, keduanya bernilai.”

-‘Samurai’ Mochizuki Kotaro to SHS Principal, Samurai High School episode 7-

Sekian review drama kali ini. Maaf kalau agak bias. Selamat menonton!

credit: http://yusahrizal.wordpress.com/2010/03/03/samurai-high-school/

[Dipublikasi di Journal of Sienvisgirl pada 29 Desember 2011]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s