Tour de Parahyangan (Day 4)

Cerita sebelumnya: Tour de Parahyangan (Day 3)

Terlambat lagi. Maafkan saya, pembaca sekalian. Saya hanya manusia biasa yang banyak kekurangan dan kealpaan.

Hari keempat pun tiba.

Pagi-pagi, kami telah bersiap dan packing. Packing? Yeah, karena rencananya hari itu (Senin) kami akan menjelajah Kawah Putih, lalu ke Puncak, lalu ke Jakarta, meskipun belum jelas mau tinggal di mana. Saya pun demikian, meskipun menyusun rencana lain. Yap, saya tidak dapat izin untuk ke Jakarta, jadi alternatifnya, saya akan tetap di Bandung. Ada paman saya yang tinggal di sana, soalnya.

Pokoknya, keadaan waktu itu semi chaos karena masalah tempat tinggal dan rencana ke dua tempat wisata yang letaknya berjauhan itu.

Mobil datang, kami memuat barang-barang ke bagasi. Wah, banyak juga, dan saya masih tidak rela hari keempat sudah berpisah dengan teman-teman. Kemudian, kami makan di depan mess. Saya memilih lauk apa ya? Tahu? Waduh, saya lupa. Yang jelas saya memasukkan sayur bening yang ada jamur tiramnya.

Di tengah-tengah pilihan tempat tinggal yang tidak jelas itu, saya mengutarakan rencana saya. Kirain bisa ke kawah putih dulu. Tahunya, dengan rencana seperti itu, saya harus turun di depan McD Dago, biar langsung dijemput paman. Wah, nggak bisa jalan-jalan, dong?

Ternyata, rencana ke Puncak dan ke Jakarta batal. Yay! *dilempar sepatu* Jadi, setelah sarapan, kami menurunkan barang-barang dari bagasi dan memasukkannya kembali ke kamar. Lumayan, mengangsur packing dan kamar pun jadi lebih rapi.

Perjalanan ke Ciwidey seru. Suasananya seperti acara karyawisata yang saya ikuti waktu sekolah. Mungkin karena faktor kegilaan teman-teman yang bervariasi juga. Dan, hey, berjalan-jalan pada hari Senin itu keren!

Saat memasuki kawasan Cibaduyut, saya melihat tugu sepatu pantofel dan sepatu berhak. Seolah menegaskan bahwa daerah tersebut dikenal sebagai sentra produksi sepatu. Unik juga, ya?

Bangunan-bangunan yang ditemui di sepanjang perjalanan bervariasi. Makin ke luar dari kota Bandung, makin turun jumlah lantai bangunannya, lalu berangsur-angsur ke rumah, rumah, dan rumah.

Ciwidey lumayan jauh juga. Kalau tidak salah kami sampai sekitar jam 11. Jalanannya mendaki dan di kanan kiri ada pertanian stroberi. Rencananya sih mau mampir di perjalanan pulang.

Sampai di kawasan wisata, kami antri di loket. Bayar Rp 25.000,00 per orang, dapat cap stempel di punggung tangan. Lalu, menunggu mobil angkutan khusus yang akan mengantar kami ke sana. Banyak pepohonan tinggi di sana. Saya melihat ada pohon yang kulitnya berwarna putih. Katanya sih itu pohon kayu putih, entahlah, saya tidak terlalu ingat.

CIMG4835

Pemenang Kuis Berhadiah 8MLA Detik-detik sebelum serah terima uang masuk Kawah Putih

Ada sedikit masalah saat memilih mobil. Entah lama atau supirnya mau menunggu mobil penuh dulu, atau bagaimana. Pokoknya, akhirnya kami menaiki mobil warna putih, penumpangnya kami berdelapan dan tiga atau empat pengunjung lain di belakang.

Mobil berangkat menyusuri jalanan yang sepi dalam artian sebenarnya. Untung saja itu adalah kawasan wisata, kalau tidak? Mungkin jalannya tidak sebagus sekarang. Dan apa yang kami lakukan di dalam mobil? Bernyanyi. Yeah, bernyanyi. Adalah hal biasa bila lagu yang dinyanyikan adalah lagu Indonesia atau lagu berbahasa Inggris dengan teknik vokal yang mengagumkan dan suara yang cetar membahana. Kenyataannya tidak, yang kami nyanyikan adalah lagu Minang, dengan lirik yang seenaknya dan suara keras, serta nada yang sedikit off. Tidak semuanya, sih, ada yang masih tetap waras dengan memilih untuk tidak bernyanyi.

IMG_2537

Saya tidak kelihatan, Saudara-saudara!

Katanya sih, pengunjung lainnya ketawa-ketawa. Saya tidak tahu.

Oh ya, ada rekaman videonya juga lho. Tentu tidak akan saya share di sini. Malu-maluin soalnya.

Sampai di kawah putih, kami disambut dengan udara dingin dan langit mendung. Untuk meminimalkan jumlah belerang yang terhirup, di sana disediakan masker. Gratis? Tidak. Kami bisa mendapatkannya dengan harga lima ribu rupiah. Murah? Relatif. Yang jelas motifnya unyu. Masih saya simpan, tuh.

Awalnya, saya mengira perjalanan ke kawah putih ini harus ditempuh dengan menapaki jalanan tanah yang lembap dan licin. Ternyata tidak. Jalannya sudah ditutup pavement block, juga dilengkapi pegangan pada bagian undakan. Sampai di bawah, Masya Allah, indah sekali! Pasir dan bebatuan berwarna putih, pepohonan yang kayunya agak kering dan berwarna coklat gelap, lalu latar belakang gunung Patuha, dan air yang berwarna kebiruan adalah perpaduan yang sangat apik, mahakarya Sang Pencipta. Pelukis manapun kalah.

DSC04501 Kawah Putih

Narsis dulu dong? Hehe.

Copy of IMG_2570

Di sana ada yang menjual belerang untuk mengobati berbagai masalah kesehatan juga lho. Penasaran sih, tetapi saya tidak jadi beli. Oya, udara di Kawah Putih mengandung belerang, jadi hati-hati, ya. Jangan terlalu lama di sana. Kami sih langsung cabut saat baunya semakin menusuk hidung.

Naik ke atas, kami keliling-keliling sambil mencari spot yang bagus untuk berfoto. Ada bapak-bapak yang mahir sekali bermain kecapi. Yang dimainkan lagu Sunda, tapi saya lupa judulnya, maaf. Ada yang menari-nari mengikuti lagu. Sebut saja namanya K :D.

IMG_2609 Di depan peta informasi

Lalu, kami berjalan ke gedung pusat informasi. Biasa saja sih, yang unik adalah gedungnya berlantai kayu, jadi berderak-derak saat diinjak. Ada ruang kesehatan juga yang bisa digunakan bila ada pengunjung yang mengalami masalah kesehatan.

Tidak lama kemudian, kami kembali menggunakan mobil angkutan khusus yang tadi. Kali ini tidak gila-gilaan lagi :D.

Ada yang ingin ke WC. Saya ikut. Airnya dingin sekali, seperti di Bukittinggi, kampung halaman saya. Oya, di sana juga banyak yang berjualan. Kebanyakan yang dijual adalah makanan berbahan stroberi. Ada stroberi lapis cokelat. Hmm, enak. Stroberinya besar dengan rasa manis asam bercampur legitnya cokelat. Oya, cokelatnya tiga warna, ada yang warna cokelat (of course), pink, dan biru keunguan. Pokoknya wajib dicoba. Lalu, ada selai stroberi, sirup stroberi, dan manisan jeli stroberi. Pengen beli tapi *lirik dompet*.

 

Setelah menyelesaikan hajat masing-masing, kami kembali. Di perjalanan pulang, baru tahu ada pemandian air panas. Yaah… ya sudah. Hari sudah siang, mau sampai mess jam berapa? Singgah sebentar di pusat oleh-oleh. Di sana, yang khas adalah kalua jeruk, semacam manisan dari kulit jeruk bali yang berwarna warni. Saya membelinya, juga manisan buah asam dan rengginang (karena Mama saya titip rengginang). Saya memilih rengginang yang berwarna merah muda. Oya, di sana, kami boleh cicip-cicip juga, lho. Pemiliknya baik dan tertarik sekali dengan Sumatera Barat :).

Perjalanan ke Bandung kami habiskan dengan main plesetan kata (lagi). Sepertinya sudah menjadi trademark kelompok kami. Lagipula, lumayan untuk menghilangkan kantuk. Ada yang garing, ada yang maksa, ada yang nggak ketebak sampai akhirnya harus dijelaskan sendiri oleh yang bertanya. Garing? Biarin, yang penting Mintz.

Sampai di Bandung, hari sudah sore. Putar-putar gedung sate. Berhenti sebentar lalu foto-foto. Lewat gasibu. Dan kami lapar lagi. Akhirnya makan pecel lele di tepi jalan. Cuma saya yang memesan pecel lele, tapinya. Yang lain pesan ayam kalau nggak salah. Hari hujan, yang duduk di tepi harus merasakan pahitnya karena basah. Nggak apa-apa, makan tetap nikmat. Oya, sambalnya agak encer, tapi lumayan pedas. Recommended.

IMG_2646

Ke Bandung? Jangan lupa ke Gedung Sate 😀

Menjelang maghrib, kami segera mencari tempat shalat. Di masjid mana gitu, aduh, saya lupa lagi. Saya tidak shalat sih, hanya menunggu di luar. Setelah shalat, kami langsung ke Cihampelas. Rencananya mau membeli kado untuk ditukar besok, dan jangan sampai ketahuan. Makanya kami berpencar. Saya beli apa ya? Rahasia. Yang jelas gubrak karena nggak banget dan yang saya kasih itu sudah dimiliki oleh semua orang. Tahu begitu, saya beli barang lain yang lebih berkesan. Cihampelas itu kalau di Padang sedikit mirip kawasan Permindo, tapi lebih gemerlap karena ada CiWalk-nya. (Apaan sih?) Dan ada barang yang unik-unik juga, yang nggak akan saya temukan di Padang. Misalnya gerai Purezento yang ada di samping sebuah toko. Oya, di sana banyak distro dan toko baju, tapi seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saya tidak terlalu tertarik. Saya lebih suka membeli gantungan kunci beraneka bentuk dan warna, juga lebih lapar mata bila melihat pernak-pernik lucu. Seperti boneka ninja yang itu. Ah, jadi menyesal karena tidak membelinya. Jangan-jangan kalau saya ke sana lagi, bonekanya sudah tidak dijual karena tidak ngetren lagi. Oya, waktu itu ketemu bapak-bapak yang menjual dodol garut dan kami susah payah untuk menolaknya. Habisnya, ada sekitar 6 kotak atau berapa gitu yang dijual. Takut mubadzir. Selain itu, ada yang menjual panah dan tombak ala Indian. Kalau saya tidak salah, ada yang membeli ini sebagai kado :D.

Selesai berbelanja, kami kembali ke mobil. Mau ke mana? Nggak tahu. Sudah capek, sih, tapi masih pengen jalan-jalan. Supirnya menawarkan kami untuk jalan-jalan ke Lembang dalam artian sebenarnya. Ya, maksudnya cuma lewat gitu doang. Sudah malam, sih. Tapi, kami sempat berhenti di Indomaret untuk membeli beberapa keperluan. Dari Lembang, lanjut ke Dago Pakar, masuk lewat kawasan perumahan elit yang saya lupa namanya (Oh, namanya Citra Green Dago). Berhenti sebentar di kedai kopi, dan kami bisa melihat pemandangan Kota Bandung dari atas.

DSC04570

gegelapan di (depan) Kopi Ireng

Yuk, Pak, pulang.

Dan kami diantar kembali ke mess. Badan gerah, minta mandi, juga capek, minta istirahat.

Terima kasih banyak, Pak, atas jasanya mengantarkan kami ke mana-mana dan bersabar dengan ulah kami selama dalam perjalanan.

Terima kasih banyak kawan-kawan seperjuangan (yang belakangan menyebut dirinya sebagai personil 8 Menara Lautan Api). That day was the best!

Besok ke mana lagi, ya?

Hmm, saya sudah ada rencana sih. Bagaimana dengan teman-teman saya? Lho, kok pertanyaannya gitu? Nggak jalan-jalan bareng lagi, gitu?

Tunggu jawabannya di TdP Day 5 (yang akan rilis entah kapan), ya…

Advertisements

2 thoughts on “Tour de Parahyangan (Day 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s