Catatan di hari Jum’at

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Benarlah bahwa Jumat adalah hari penuh berkah. Begitu banyak kemudahan dan nikmat yang saya peroleh hari ini.

Pagi ini, saya memulai rutinitas sebagai mahasiswa S2 Farmasi Klinik yang menjalani praktek kepaniteraan klinik di Bangsal Anak RS Dr. M. Djamil Padang. Mulai minggu lalu, hari-hari saya terasa berbeda, tidak lagi dihabiskan untuk memilih kasus yang diangkatkan, lalu duduk sepanjang hari. Tidak. Kami disuruh untuk terlibat langsung dalam perawatan pasien, tentunya dengan kompetensi yang kami miliki. Jadilah pagi itu saya melihat kondisi pasien dan menanyakan pertanyaan terkait obat yang diterima.

Selesai follow-up, tibalah waktu visite dengan dokter spesialis. Kali ini, saya lebih banyak mengamati, sekaligus mengenali pasien baru. Setelah visite selesai, saya bertemu dengan teman saya yang datang agak terlambat, sehingga tidak sempat mengikuti visite. Kami memutuskan untuk pergi ke depo farmasi untuk melihat kartu instruksi obat (KIO). Baru selesai mencocokkan KIO dengan dokumen farmasi penderita yang kami pegang, tiba-tiba ada sms dan telepon dari teman saya yang satu lagi. Ternyata ia kehilangan jejak. Saya mengatakan bahwa saya berada di ruang informasi di sebelah kanan ruang depo farmasi.

Setelah itu, saya mengecek pesan masuk yang belum terbaca. Ternyata dari dokter perseptor kami. Beliau meminta kami untuk pergi ke Poli Anak untuk berdiskusi pukul 09.00. Masih ada waktu setengah jam kurang saat itu. Kami akhirnya pergi ke sana saat jam tangan saya menunjukkan pukul 08.45.

Jantung deg-degan menunggu beliau. Pulsa saya habis, takutnya ada pesan singkat lain yang beliau kirimkan. Maka saya putuskan untuk menghampiri penjaja pulsa keliling dan membeli pulsa 10 ribu. Kami kembali ke ruang tunggu. Lalu menunggu lagi.

Teman saya yang pertama, sebut saja namanya C, berbisik,”Bukannya itu suara Ibu itu ya?”

“Iya ya? Eh, iya kayaknya.”

Tak lama kemudian, beliau masuk dan melempar tatapan penuh arti ke kami. Maka makin menggilalah denyut jantung ini. Takut ditanya. DFP masih pas-pasan. Duh. Ternyata di belakang beliau, berjalan dua orang dokter residen. Kami mengekor di belakang.

Entah berapa menit kami menanti di samping pintu, saya tak ingat lagi. Kemudian, beliau keluar, memberikan kode untuk mengikuti beliau. Kami masuk ke sebuah ruangan di mana para dokter muda sudah duduk dengan manis di sana. Mereka agak bingung begitu melihat kami. Kami jadi salah tingkah, tidak biasa dilibatkan seperti ini, sih. Kemudian beliau masuk, dan dokter residen itu juga ikut. Mereka mendiskusikan beberapa artikel ilmiah dan jujur saja, saya jadi iri.

Acara diskusi pun dimulai. Kami yang tadinya duduk di bangku belakang diminta untuk duduk di sebelah dokter muda. Oh, wow, sesuatu sekali bisa dilibatkan seperti ini. Topik yang dibahas adalah kejang demam dan sindrom nefrotik. Cukup panjang waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi, tetapi pelajaran inti yang saya dapatkan hari ini adalah keingintahuan adalah hal yang penting dalam proses belajar. Yang lebih buruk daripada orang yang tidak tahu adalah orang yang tidak mau tahu. Beliau juga memotivasi kami untuk bekerja sama serta saling menghargai profesi satu sama lain.

Kalian ini tidak bodoh. Kalian putri-putri terbaik se-Indonesia yang berhasil masuk Kedokteran dan Farmasi. Hanya saja kalian memperbodoh diri sendiri selama ini.

Ucapan beliau membakar semangat saya. Semoga saya bisa menerapkan ilmu yang saya peroleh nantinya di masyarakat. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s