Tour de Parahyangan (Day 5)

Cerita sebelumnya: Tour de Parahyangan (Day 4)

Jadi, ceritanya, hari ini, saya memisahkan diri. Lho kok?

Iya, soalnya saya sudah janji dengan paman saya. Lagipula, pada hari kelima ini, kami tak punya rencana khusus, jadi ya begitulah. Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap-siap, sementara teman-teman saya masih di kamar. Maafkan daku ya, Kawan.

Hari itu saya awali dengan miskomunikasi. Keluar dari pagar mess, saya celingak celinguk, kok paman saya nggak kelihatan, ya? Tahunya beliau sudah menunggu di seberang, dekat RS Hasan Sadikin, dengan motor koplengnya. Uh, jadi saya bakal naik motor nih? O-okelah kalau begitu.

Waktu itu saya mengenakan celana dan yah, mungkin saya disuruh balik lagi untuk ganti pakaian kalau memakai rok. Soalnya jok motornya tinggi dan silakan dilanjutkan sendiri.

Saya lapar. Yah, itu jelas sekali. Tidak ada lagi acara sarapan di mess setelah tragedi di hari ketiga.

Motor melaju,membelah jalanan kota Bandung. Seru sekali. Biasanya saya cuma numpang naik motor teman dari kosan sampai kampus atau sebaliknya. Tidak ada pemandangan yang seru, hanya rumah, rumah, dan rumah. Tapi, ini Bandung, gitu *udiknya mulai keluar lagi*.

Tenang saja, saya pakai helm kok.

Lalu, paman saya menyarankan untuk makan kupat tahu di Pasar Simpang.

“Ada sih yang jual katupek gulai, tapi masa’ jauh-jauh ke Bandung yang dicari makanan itu?”

Saya sih setuju saja. Kalau mau makan katupek gulai mending ke Bukittinggi. Katupek Tek Apuak, Ni Lis, Ni Newan, semuanya enak. Lain cerita kalau saya tinggal di Bandung dan kangen dengan masakan Minang.

Oh, ternyata kupat tahu itu isinya kupat (ketupat) dan tahu. Dan tauge. Disiram kuah kacang, boleh juga pakai kerupuk yang disediakan di meja. Nggak berat, tapi mengenyangkan. Yang uniknya itu ya kupatnya, bentuknya kubus dan besar, bukan belah ketupat seperti yang sering saya lihat.

Saya melirik ke kiri, eh ada penjual cakue. Saya yang tidak terlalu sering makan cakue ini jadi kepingin. Di Padang, ada sih Hau’s Tea, yang menyediakan cakue aneka rasa dan topping, juga Goldena Bakery yang menyediakan cakue polos. Tapi, sensasi makanan kaki lima memang beda dan lebih menggoda. Paman saya yang baik itu langsung pergi ke sebelah dan memborong cakue. Ada yang gurih dan ada yang manis. Yang gurih teksturnya agak liat, seperti cakue biasa, yang manis teksturnya mirip donat. Dua-duanya sama-sama enak.

Setelah kenyang, kami menelusuri Pasar Simpang. Pagi-pagi begini, banyak juga yang menjual makanan dan aneka jajanan pasar. Saya lupa beli apa, kalau tidak salah ada tahu kukus atau apa gitu.

Selesai berkeliling, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya bubur ayam. Saya penasaran dengan bubur ayam yang selalu disebut-sebut mama dan paman saya di rumah. Maklum, kuliahnya di Bandung, sih. Ada dua pilihan, dan saya memilih yang berada di kawasan perumahan.

Lumayan jauh juga ternyata. Di sana, sudah ramai yang membeli. Paman saya sepertinya tidak tahu (atau sengaja), jadi beliau memesankan bubur ayam satu porsi untuk saya dan setengah porsi untuk dirinya sendiri. Padahal saya sudah setengah kenyang. Tapi serius, buburnya enak, kok. Kental, dan bertabur suwiran ayam dan hati ampela. Kacang kedelai, bawang dan seledrinya juga enak. Sambelnya juga enak, lumayan pedas.

Glek. Belum apa-apa sudah kenyang begini.

Jalan lagi. Kalau tadi paman saya menunjukkan arah jalan menuju kosannya, kali ini kami melewati kawasan kota lagi. Eh, btw, akhirnya, saya beli Kentang Arab yang sebelumnya saya incar gara-gara mangkal di jalan menuju ke ITB. Tahunya kentang arab itu kentang model shoestring yang dibalur tepung trus digoreng dan dikasih bumbu. Saya beli yang rasa apa ya? Jagung bakar apa pedas manis? Lupa lagi, maafkan saya. Nyesel sih beli yang kemasan kecil, soalnya enak.

Ke mana lagi ya? Ke Bandung Indah Plaza (BIP), Gramedia, atau Bandung Elektronik Center (BEC). Jawaban saya, Gramedia, dong. Kapan lagi?

Oke, Gramedianya berkali-kali lipat lebih besar daripada yang ada di Padang. Oke, saya nggak sabar untuk melihat koleksi bukunya.

314181_10151238102116489_2147279828_n

Ini lantai tiga, masih ada beberapa lantai lagi kalau tidak salah.

Gramedia Padang mah mentok di lantai 3.

Keliling-keliling, banyak buku yang menarik, tapi tetap, budget harus menjadi prioritas. Akhirnya, saya pulang membawa buku ISO (Informasi Spesialite Obat) edisi 47, Young on Top Campus Ambassador, dan Cado-Cado 3 pesanan adik saya. Juga selotip dan alat pijat yang bisa dipukul-pukulkan ke bahu. Yang terakhir itu usulan paman saya, lho.

Ke mana lagi? BEC yuk! Beli apa? Lihat-lihat dulu. Barang elektroniknya bikin ngiler. Kamera, handphone, laptop. Saya mau beli apa ya? Oya, harddisk eksternal. Survei harga, ada yang harganya Rp 590.000,00 dengan kapasitas 500 GB. Saya yang sudah kebelet pengen beli harddisk dengan dua alasan: 1) menyelamatkan koleksi film dan drama yang sudah hampir memenuhi laptop dan 2) mem-backup data tugas dan e-book. Tahunya ada diskon Rp 10.000,00 jadi harganya Rp 580.000,00. Sip, harddisk Toshiba Spectra bisa dikantongin pulang.

Lanjut ke Trans Studio dan Trans Super Mall (TSM). Nggak, kok, saya bukannya mau main. Hahaha *ketawa pahit* cuma foto di depannya, trus udah. Ada bis besar, sepertinya mengantarkan siswa-siswa yang study tour. Trus mutar-mutar TSM yang masih sepi.

66538_10151238627356489_1111418635_n Gayaa..padahal nggak beli apa-apa

 

Nah lho, saya jadi ragu ini. Ke BEC duluan apa ke TSM ya? Lupaaa. Pokoknya berurutan gitu deh. Maaf ya.

Lalu kami mutar-mutar, sempat lewat Rumah Buku, trus Baagor Kingsley, dan spot-spot lainnya di Bandung yang sekarang sudah nggak nempel lagi di otak saya. Lewat kampus UPI, trus sekolahnya saudara saya (lupa namanya apa). Oya, saya sempat lewat Pusdai juga, tapi waktu itu saya lewatkan karena paman saya mau mengajak saya ke Lembang. Asiik!

Jalan-jalannya sih udah familiar buat saya di waktu itu, soalnya sudah ke sana malam sebelumnya. Dan tahu nggak sih, kami ke Indomaret yang waktu itu lho, yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Cuma beli minuman, sih, soalnya haus. Kayak takdir gitu, ya, ke tempat yang sama dua kali di dua hari yang berturut-turut *halah, lebay*.

Ada yang jual tape bakar dan uli bakar. Saya pengen beli uli bakar, tapi serius, ini kenyang banget. Jadi ditahan aja dulu.

Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh juga. Hari sudah lewat tengah hari, tapi nggak nyampe-nyampe. Jalannya mendaki, berliku-liku. Angin sepoi-sepoi, langit berawan. Dan saya ngantuk di belakang. Serius! Parah nggak tuh. Untung nggak kejungkel.

Sip, akhirnya kami berhenti di Tahu Tauhid. Ini juga makanan yang pengen saya coba sejak dipromosikan paman saya dan beberapa situs di Internet. Apa aja yang ada? Banyak, ada bakso juga kalau nggak salah. Tapi saya penasaran dengan tahunya, jadi kami pesan itu. Minumnya milo dingin. Tapi harganya nggak manusiawi. Harga milo, maksudnya. Bayangkan, dua puluh biji tahu goreng harganya dua puluh ribu. Oke, wajar. Nah, dua gelas milo harganya sama, dua puluh ribu. Glek.

06112012

Ini tahunya

06112012(001)

 

Dicocol sambal kecap, makin enak

Sebelah kiri piring, itu milo yang udah hampir habis. Rasanya? Ya, rasa Milo.

Awalnya, saya kira tahunya biasa aja. Ternyata enak dan unik. Kenapa? Tahunya garing di luar, lembut di dalam *macam wafer  Tango*. Agak kopong seperti tahu Sumedang yang pernah saya makan, tapi teksturnya lembut. Ih, coba aja ada yang jual di sini.

Ngomong-ngomong, peminatnya cukup ramai lho. Ada rombongan pegawai yang membeli tahu mentah juga. Sepertinya tahu mentahnya juga sip kalau diolah.

Nggak puas makan tahu, kami berdua lanjut makan jajanan yang sempat di beli di jalan tadi. Om nom nom, kenyang sekali. Tawaran ke rumah sosis terpaksa saya tolak. Habis, kenyang sih.

Setelah itu, kami ke Palasari. Iya, kawasan yang terkenal dengan buku-bukunya yang murah itu. Sayang, saya udah nggak punya banyak duit lagi, plus bingung mau beli buku apa. Selama pendidikan profesi, saya tidak terlalu mengandalkan buku teks, soalnya. Apalagi ada e-book di dalam laptop saya. Jadi cuma keliling-keliling, trus udah.

Lanjut ke rumah keluarga saya, lebih tepatnya sepupu nenek saya. Rumahnya jauh, kalau tidak salah sudah berada di luar kota Bandung. Masuk daerah kabupaten, maksudnya. Belum lagi di jalan menuju rumah beliau ada turunan yang tajam. Bikin jantung mau melompat rasanya, takut motornya tergelincir.

Lumayan lama waktu yang kami habiskan untuk menunggu. Dan saya baru nyadar, waktu perjalanan saya habis di sana. Tapi nggak apa-apa, rumahnya adem. Pekarangannya luas dan ada beberapa patung yang bagus dan terbuat dari berbagai bahan. Suami Nenek Nen (begitu saya memanggilnya) adalah seorang dosen seni rupa di ITB, jadi ya wajar sih.

Akhirnya, beliau pulang bersama anaknya yang masih SD. Udah gede, secara terakhir saya ketemu ngomongnya masih sepatah-sepatah.

Kami berbincang-bincang di rumah, makan kue, minum. Beliau bilang kenapa nggak tinggal di sini? Ya, gimana, besok saya sudah musti balik ke Padang. Pengen juga sih keliling-keliling Bandung sepuasnya, soalnya paman saya bilang, keliling Bandung nggak cukup sehari, minimal 2 hari. Ya, gimana lagi.

Pas mau pulang, eh suaminya beliau baru sampai rumah. Setelah salaman, ngobrol sebentar, kami pamit. Udah sore hampir senja. Saya belum ke Amanda, juga belum beli oleh-oleh lain. Belum ke Kartika Sari juga. Aargh, kenapa waktunya sempit sekali?

Akhirnya, kami ke Amanda, beli Brownies kukus tiramisu, soalnya yang original habis. Mau beli brownies bakar, tapi saya lebih suka yang kukus. Ternyata pendapat saya salah untuk rasa yang satu ini. Untuk yang rasa tiramisu, sungguh, yang bakar lebih enak.

Setelah itu, buru-buru ke Sari Raos yang di Cihampelas. Beli apa ya? Tempe goreng rasa pedas dan tempe goreng rasa keju kalau nggak salah. Trus beli apa lagi ya? Lupa lagi, soalnya waktu itu beneran diburu waktu. Langit sudah gelap, saya mau pulang jam berapa?

Akhirnya, saya balik ke mess, rencana mau taruh barang di kamar, habis itu balik lagi untuk makan malam. Tahu-tahu, teman saya belum pulang. Jadinya saya titip ke Pak Satpam aja.

Saatnya makan malam. Ayo, makan Surabi Imut di Jl, Setiabudi. Enak dan musti dicoba. Kami pesan surabi telur oncom, surabi telur spesial (berupa surabi yang dikasih saus kuning, sepertinya itu telurnya), surabi oreo, surabi es krim cokelat. Surabi apa lagi ya? Rasanya ada satu lagi. Minumnya vanilla milkshake dan ehm, lupa lagi.

Setelah itu, saya beneran balik ke mess. Dari luar, kelihatan teman saya yang lagi ketawa-ketawa, makan di warung tenda. Kayaknya perjalanan mereka juga nggak kalah seru.

Saatnya salam perpisahan untuk paman saya dan…

Goodbye, Bandung.

Besok kami balik ke Padang. Huaaa..masih nggak rela.

Maaf kalau sepanjang tulisan ini kata ‘lupa’ berserakan di mana-mana. Salah saya juga sih, baru tulis postingannya setelah lewat satu tahun.

Simak episode terakhir dari serial TdP ini ya. Saya usahakan dirilis dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s