[Novel] Seandainya…

Seandainya

Judul                    : Seandainya…

Pengarang            : Windhy Puspitadewi

Penerbit               : Gagas Media

Cetakan                : Kedua, 2012

Jumlah halaman    : 238 halaman

Sinopsis:

Pertemuan pertama Juno dengan Rizki di hari Minggu berujung tawa, menertawakan kebodohan diri mereka sendiri, sesama korban keusilan kakak kelas. Oh, jangan lupakan kehadiran Arma, kakak laki-laki Juno, dan Christine, putri pengusaha kaya di Surabaya. Berempat, mereka menjalin persahabatan, merasakan gejolak konflik usia remaja, menjejaki anak tangga menuju kedewasaan.

Tahun demi tahun berlalu, mereka telah berhasil di jalan masing-masing. Juno di Surabaya, Arma di Jerman, Christine yang harus berpindah-pindah tugas, dan Rizki di Jakarta. Sedari dulu, Juno menyimpan rasa kepada Rizki, begitu pula yang dirasakan oleh Rizki terhadap Juno. Di hari bahagia Christine, mereka kembali bertemu. Akankah kedua rasa itu menyatu?

*****

Kalau aku harus membuat list penulis novel favorit, dengan sedikit mengedepankan alasan anti-mainstream, mungkin Kak Windhy Puspitadewi adalah orangnya. Aku nggak tahu apakah posisinya berada di urutan teratas atau nggak, yang jelas posisinya spesial :D. Aku sudah membaca novel Morning Light sebelumnya dan merasa cerita-cerita yang ditulisnya selalu pas di hatiku. Enak dan ngena aja gitu.

Novel ini berkisah seputar persahabatan anak SMA dengan segala dinamikanya. Persahabatan lawan jenis, cinta pertama, persaingan nilai dan prestasi, perbedaan status ekonomi, dan cita-cita. Penceritaan dan tokoh utamanya alamiah sekali, Juno yang cerdas, yah, selalu ada anak cerdas di setiap kelas, bukan? Lalu Rizki yang agak minder dan mengekang diri karena kejadian kelam di masa lalu, kurasa wajar saja bila ia memilih untuk seperti itu. Christine, sang putri, yang mencari teman-teman sejati yang tidak hanya mengerubunginya karena kekayaan orang tuanya. Dan Arma dengan rasa rendah dirinya terhadap adiknya sendiri, Juno, yang lebih pintar dan lebih kuat darinya dalam berbagai hal.

Interaksi mereka berempat lambat laun menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi dengan diri sendiri, maupun dengan orang lain. Aku menikmati setiap obrolan mereka. Memang, dari semua karakter anak SMA dalam novel ini, karakter mereka berempat lebih dewasa, tapi tidak masalah. Tidak ada yang terkesan menggurui, sih. Aku juga akan senang sekali bila punya teman-teman seperti mereka.

Buatku, novel ini semacam menjadi guidebook, atau lebih tepatnya, novel yang mampu membuat diriku berpikir untuk mempersiapkan kehidupan di usia dewasa dengan lebih baik lagi. Meskipun sudah hampir enam tahun berlalu sejak aku meninggalkan bangku SMA, tidak ada kata terlambat untuk introspeksi, bukan? Kebijaksanaan dan sifat rendah hati Rizki, kecerdasan dan sifat blak-blakan milik Juno, ketekunan Arma, dan ketulusan Christine, kurasa tidak ada salahnya untuk ditiru. Oh, ya, satu lagi, keberanian untuk mengutarakan perasaan menjadi pelajaran penting yang kudapatkan dari membaca novel ini.

Karena terkadang ada beberapa hal yang harus dikatakan, baru bisa dimengerti.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s