[Novel] Montase

Montase

Judul                    : Montase

Pengarang            : Windry Ramadhina

Penerbit               : Gagas Media

Cetakan                : Ketiga, 2013

Jumlah halaman    : vii + 360 halaman

Sinopsis:

Bertemu dengan Haru Enomoto, si gadis mungil berkepala angin yang mengingatkan Rayyi pada boneka kokeshi[1], mungkin adalah suatu kesialan. Rayyi bahkan tidak habis pikir mengapa film patah-patah bertema sakura karya gadis itu mampu menumbangkan filmnya dari daftar karya yang lolos seleksi Greenpeace. Rayyi hanya tidak mengerti mengapa harus bertemu dengan gadis yang bagi sebagian besar mahasiswa di fakultasnya cukup dideskripsikan dengan satu kata: kacau.

Akan tetapi, pertemuan-pertemuan berikutnya terasa berbeda. Haru menawarkan aura magis bagi Rayyi, menjeratnya dengan pesona yang bagaikan candu, bagaikan getah kering dari Papaver somniferum[2]. Haru menawarkan kehangatan baru bagi Rayyi, kehangatan yang menghilang dari kehidupannya semenjak ibunya tiada.

Namun, satu hal yang harus Rayyi ketahui, seperti mekarnya sakura, kehidupan tidaklah abadi.

*****

Membaca Montase membuatku, ehm, menghela napas. Tidak tahu mengapa. Mungkin karena tokoh Rayyi dan aku memiliki kemiripan. Sama-sama ingin mengejar mimpi lain yang tidak digariskan oleh orang tua. Sama-sama ingin lari meskipun tidak ke mana-mana.

Bedanya, Rayyi sedikit lebih bernyali dan lebih beruntung. Aku tidak terlalu. Ah, sudahlah. Setidaknya, membaca Montase membuatku percaya akan satu hal, hidup hanya sekali dan tidak boleh disia-siakan. Mungkin sebentar lagi, aku akan menemukan keberanian itu.

Kisah cinta Rayyi dan Haru terasa murni, tulus, tidak muluk-muluk, sedikit klise di awal dan di akhir, tetapi tetap menggugah. Gadis ceroboh dan gadis yang harus pergi karena suatu penyakit berat memang bukan tema baru. Namun, Kak Windry mampu mengemasnya menjadi suatu kisah yang hangat, sehangat musim semi dengan sakura yang bermekaran. Sehangat senyum Haru yang selalu membuat Rayyi tidak tahan untuk mengabadikannya dalam gambar bergerak.

Beberapa hal tentang Jepang juga menambah wawasanku, meskipun beberapa hal lainnya membuatku merasa,’apa mungkin seharusnya ditulis begini, ya?’ Maaf, aku juga tidak mahir dalam bahasa dan budaya Jepang. Aku hanya sering menikmatinya lewat film dan lagu.

Bagi yang ingin mengetahui seluk-beluk film melalui cara yang menyenangkan, terutama dunia produksi dan dokumenter, membaca novel ini mungkin bisa membantu memuaskan rasa keingintahuan. Bagi yang ingin menikmati kisah dua anak manusia berlatar budaya berbeda yang dipersatukan oleh kecintaan pada film dokumenter, mungkin akan merasakan kehangatan tersendiri.

“Indah ya? Hidup ini?”

(terjemahan bebas dari kalimat yang diucapkan oleh Haru kepada Rayyi pada pertemuan mereka di Kota Tua,

hal. 251)

*****

Catatan kaki:

[1] Boneka kayu khas Jepang, lebih lanjut bisa dibaca di sini

[2] Candu, lebih lanjut bisa dibaca di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s