[Roman] Tenggelamnya Kapal van der Wijck

250px-tenggelamnya-vanderwijk

Judul                                     : Tenggelamnya Kapal van der Wijck

Pengarang                             : Buya Hamka

Jumlah halaman                    : 223 (?) halaman

Penerbit                                : PT Bulan Bintang

Cetakan                                 : Keenambelas, tahun 1984

Harga                                     : (tidak diketahui karena saya memiliki versi e-book)

Sinopsis:

Zainuddin yang berayahkan orang Minangkabau, beribu orang Bugis –  Makassar, telah membulatkan tekad untuk pergi ke Batipuh, kampung ayahnya, untuk melihat negeri indah yang selalu beliau ceritakan sekaligus untuk menuntut ilmu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, nyatanya berlainan pengharapan Zainuddin akan negeri itu dengan apa yang ia rasakan. Tak punya suku, tak punya tempat, tak punya siapa-siapa untuk dijadikan sandaran.

Pemuda muram itu hampir saja kehilangan cahaya hidupnya saat bertemu Hayati, gadis molek idaman pemuda-pemuda kampung. Berawal dari pertemuan di bawah hujan, Zainuddin pun mulai terpikat. Dikirimnyalah surat kepada Hayati, penyambung lidahnya untuk mengutarakan perasaan, betapa sepi dan melaratnya ia di kampung itu. Hayati yang iba hatinya pun membalas surat Zainuddin. Beberapa kali mereka bertemu, maka semakin bertumbuhlah rasa cinta itu di dada, rasa yang bagi Zainuddin serupa demam yang aneh, yang bagi Hayati membuatnya tak bisa tidur, gelisah tak menentu.

Apa daya, adat pada semasa itu tak mengizinkan. Ramai orang kampung mempergunjingkan kelakuan muda-mudi itu yang dianggap tak tahu adat. Zainuddin pun diusir ke luar kampung oleh mamak Hayati dengan alasan mengembalikan ketentraman kampung dan untuk ‘kebaikan’ Hayati. Tak ada jalan lain, Zainuddin pun mengikuti perintah itu.

Di Padang Panjang yang lebih ramai daripada Batipuh, Zainuddin merasa senyap karena ia tak dapat lagi berjumpa dengan Hayati. Beruntunglah Zainuddin akhirnya dapat bertemu dengan Hayati di gelanggang pacu kuda, meskipun sebentar. Itu pun diiringi perasaan cemburu karena Hayati tidak lagi tampak seperti gadis dusun dengan baju kurung dan kepala tertutup selendang, tetapi berpakaian modern ala perempuan kota. Hayati, di sisi lain, merasa rikuh dan canggung. Ia tak terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya, juga segala hal yang tak pernah ditemuinya di kampung. Ia pun tak tahu hendak menjawab apa saat Khadijah, sahabatnya, menertawakan pandangan hidup Zainuddin yang dianggapnya kolot.

Tak lama sesudah itu, seorang suruhan dari keluarga Khadijah, datang ke Batipuh untuk menyampaikan maksud yang tak lain meminang Hayati untuk diperistri oleh Aziz, saudara laki-laki Khadijah. Di saat yang hampir bersamaan, tiba pula surat dari Zainuddin dengan maksud serupa, hendak meminang Hayati pula. Dilaksanakan perundingan antara ninik-mamak untuk menimbang pantas tidaknya para pemuda ini untuk menjadi suami Hayati. Hingga bulatlah mufakat, Hayati akan dinikahkan dengan Aziz, bukan dengan Zainuddin, karena dari awal ia sudah tidak memiliki tempat di kampung itu. Aziz sendiri adalah anak dari keluarga terpandang, berpendidikan, dan punya pekerjaan tetap di Kota Padang, sangat berbeda dengan Zainuddin yang tak jelas asal-usul keluarganya.

Hayati pun, dengan mengikut keinginan mamak-mamaknya, akhirnya menerima keputusan itu. Surat-surat Zainuddin datang, masih memohonkan balasan cinta dari gadis itu, yang ditampik halus oleh Hayati, dengan alasan ia memang lebih baik menikah dengan Aziz, dan keputusan itu juga berasal dari hatinya sendiri. Maka usai sudahlah kisah cinta Zainuddin dengan Hayati, diiringi lara yang tak tertanggungkan oleh badan.

Beberapa lamanya Zainuddin jatuh sakit, setelah sehat pun ia kehilangan gairah hidup. Untunglah Muluk, anak dari pemilik rumah tempatnya menumpang, memberinya dorongan dan semangat. Zainuddin memutuskan untuk pindah ke Jawa, Muluk bersikeras mengiringi. Di Jakarta, dicobanya mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dengan nama pena Z. Tulisan-tulisan itu dimuat dan diminati pembaca. Setelah merasa cukup, mereka pindah ke Surabaya, sebuah kota di ujung timur pulau Jawa yang memang letaknya lebih dekat ke Makassar. Di sana, ia mengarang dan menerbitkan buku. Namanya terkenal di perkumpulan orang Sumatera yang merantau di Surabaya karena kemurahan hatinya.

Memang jalannya takdir tak pernah disangka, di saat bersamaan Hayati pindah ke Surabaya mengikut suaminya yang pindah tugas. Mereka bertemu pada acara pementasan sandiwara yang skenarionya ditulis oleh Shabir, nama alias Zainuddin, sekaligus pemilik inisial Z yang terkenal dengan cerita-cerita karangannya itu. Ketiga orang itu pun beberapa kali bertemu setelah itu, saling mengunjungi rumah masing-masing.

Akibat lilitan utang dan masalah lain, Hayati dan Aziz akhirnya jatuh ke dalam lubang kemiskinan. Pada saat itu, Zainuddin, sekali lagi, bermurah hati menolong mereka dan meminjamkan tempat tinggal untuk dijadikan tumpangan. Aziz yang merasa malu akhirnya pergi ke Banyuwangi untuk mencari kerja. Namun, beberapa waktu setelah itu sampailah surat talak pada Hayati dan surat permohonan maaf dan penyesalan pada Zainuddin, seiring dengan tersiarnya kabar bahwa Aziz telah meninggal di kamar hotel tempatnya menginap di Banyuwangi.

Tak ada lagi penghalang, tak ada lagi rintangan. Kesempatan Zainuddin untuk menikahi Hayati terbuka luas. Mimpi-mimpinya selama ini akan menjadi nyata. Cahaya yang telah sirna dari kehidupannya yang gulita kini telah kembali. Akankah Zainuddin mengambil kesempatan itu?

*****

Saya terkesan akan kemahiran Buya Hamka (alm.) dalam menorehkan kata-kata yang sentimental. Watak Zainuddin, yang kalau dalam bahasa Minang, paibo hati, melankolis dan agak pemurung, sungguh sangat mengena. Terbaca dari surat-suratnya kepada Hayati, juga dari penuturannya kepada orang-orang terdekat dalam kehidupannya. Orang dagang melarat, anak orang terbuang, membaca surat pertamanya pada Hayati saja membuat air mata saya menetes seketika. Tak terbayangkan rasanya bila diri ini bernasib serupa, di zaman seperti itu pula, saat keturunan dan harta pusaka begitu diagung-agungkan. Surat-surat berikutnya, terkadang semacam orang malarindu, tak dapat melihat pemandangan lain, di mana-mana terkenang kekasih hati. Lalu nasib bergulir lagi, Hayati semakin mustahil untuk digapai, surat-surat itu semakin mengiba-iba. Saya sebenarnya tidak begitu menyukai watak Zainuddin yang seperti itu, berperasaan lembut memang tak jarang menarik wanita, tetapi bila terlalu melankolis, ke mana perginya kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh laki-laki? Ia memang berterus terang, dan berteguh hati, tetapi pantaskah mengatakan hal itu pada gadis yang hendang dipersunting orang? Saya sempat menerka-nerka, hendak dibawa ke mana cerita ini? Rasanya tidak mungkin Zainuddin akan terus berwatak seperti itu, mesti ada perubahan pada karakternya, kalau tidak, hilang sudahlah ilmu agama yang sudah dituntutnya itu, ilmu yang mengajarkan bahwa kita harus berserah diri pada ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Akan sedikit pula pelajaran yang bisa diambil oleh pembaca karena cerita ini tinggallah kisah kasih dua insan yang tak dapat bersatu.

Namun, sepertinya Buya Hamka (alm.) menyuruh saya untuk lebih bersabar dalam membaca karya sastra. Pelajaran itu datang dalam sosok Muluk, parewa yang hanya menghabiskan hidupnya dalam pergaulan, menyabung, berjudi, tapi baik budi. Kehadiran Muluk mengembalikan semangat saya yang sempat sirna. Bersama-sama akhirnya mereka mengikat janji, menjadi sahabat sejati, mengarungi lautan untuk merantau ke Pulau Jawa.

Hayati di sini digambarkan sebagai gadis kampung yang lugu dan tak bisa merdeka lantaran kuatnya pengaruh adat saat itu. Saya tidak punya terlalu banyak komentar untuknya. Di sisi lain, saya mengagumi kehalusan budinya dan keteguhannya dalam memegang prinsip, meskipun sesekali akhirnya luntur juga oleh desakan pergaulan kota. Khadijah-lah yang membuat saya terheran-heran. Ia sekolah agama, tetapi kelakuan dan pandangan hidupnya jauh dari nilai-nilai yang seharusnya diamalkannya. Saya sempat mengira ia justru lebih alim lagi daripada Hayati. Mengenai Aziz, ia memang sudah larut dalam pergaulan yang tak pantas, yang untung saja masih bisa ditutupi oleh nama besar keluarganya. Adiknya yang di Padang Panjang saja berpikiran dan hidup secara bebas, apalagi ia tinggal di Padang, kota yang lebih besar, dan lebih jauh lagi dari keluarganya. Khadijah dan Aziz ini mungkin dihadirkan oleh Buya Hamka sebagai perlambang budaya bebas yang kebarat-baratan, yang sebenarnya sejak lama telah menancapkan kukunya di ranah Minangkabau. Mungkin juga sebagai pengimbang karaker Hayati dan Zainuddin yang berhati lurus dan memegang teguh nilai-nilai agama dan sopan santun, hingga dicap udik oleh orang-orang kota pada waktu itu.

Kehidupan di Surabaya, kota tempat latar cerita ini berpindah selanjutnya, tentu saja lebih gemerlap daripada Padang Panjang, apalagi Batipuh. Hayati tampaknya masih memegang erat prinsipnya, begitu pula Zainuddin, yang meskipun beralih profesi, menekuni sastra dan seni, ia tidak lari dari agama. Tampaknya memang demikian, sebab tidak tergambar jelas dalam cerita. Yang jelas, Muluk telah berubah ke arah yang lebih baik. Dan peran Muluk, hingga akhir cerita, menurut saya tidak hanya penghias saja. Ia selalu memberi pertimbangan dan menguatkan Zainuddin kala bimbang dengan keputusan yang diambil. Ada hikmahnya juga karakter Zainuddin tidak dibuat sempurna, tidak selalu tegar bak batu karang, karena ada masanya ia gentar dan lemah bagaikah buih di lautan.

Tidak lengkap pula bila tidak disinggung karakter Pandekar Sutan (yang bernama Amin) dan Daeng Habibah, kedua orang tua Zainuddin, serta Mak Base yang mengasuh Zainuddin hingga beranjak besar. Ketiga orang tersebut yang berperan membentuk watak Zainuddin yang lembut hatinya dan penyabar, meskipun akhirnya pergi meninggalkan kehidupan pemuda itu satu demi satu.

Pelajaran yang berkesan di hati saya adalah mengenai sabar dan keikhlasan menghadapi ketetapan Allah ta’ala, serta bagaimana mempertahankan prinsip hidup di tengah kepungan peradaban modern. Ketika membaca cerita ini, saya menyadari bahwa pengaruh budaya Barat tidak hanya sekarang saja terasa dampaknya, tetapi sudah sejak lama, sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan mungkin lebih daripada itu. Sedangkan di zaman dahulu, saat kecanggihan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan belum seperti sekarang saja sudah banyak yang terpengaruh. Pantas saja, bila pada zaman kini, zaman yang semakin bebas, nilai-nilai agama dan moral sudah ditinggalkan. Maka sudah sepatutnya kita kembali menyadari identitas kita yang sesungguhnya serta menerapkan kembali nilai-nilai positif yang sempat terlupa pada kehidupan kita. Selain itu, saya juga seperti diingatkan kembali dengan sejarah dan budaya, khususnya budaya Minangkabau, yang pelajaran formalnya telah saya tinggalkan semenjak lulus SMP. Tinggal di Kota Padang, yang meskipun tidak besar, tetapi cukup heterogen, telah mengikis ingatan saya, dan membaca roman ini mampu menguak kembali memori yang sudah lama berlumut, hampir terlupakan.

Akhir cerita, saya tak hendak membocorkannya di sini. Silakan para pembaca simpulkan sendiri, apakah akhirnya bahagia atau tidak. Yang jelas, saya lega setelah membacanya, tak ada pertanyaan menggantung nan tak terjawab.

Bagi yang ingin mengunduh e-book-nya, silakan klik tautan ini. Saya membacanya dalam versi buku elektronik karena tidak memiliki buku asli. Terima kasih saya ucapkan kepada orang yang bersusah payah membuat file e-book dan mengunggahnya di Internet hingga bisa diperoleh dengan mudah.

Semoga bermanfaat.

*****

(Silakan klik tautan ini untuk membaca ulasan versi lain. Gambar buku saya ambil dari situs tersebut.)

(Sepertinya gaya bahasa saya berubah setelah membaca roman ini. Maaf bila kurang berkenan.)

Advertisements

2 thoughts on “[Roman] Tenggelamnya Kapal van der Wijck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s