Forsaken by Distadee – A Short Review [1]

Untuk memperbaiki mood (sepertinya aku juga frustasi karena belum menulis apapun akhir-akhir ini meskipun ideku menggunung), aku memutuskan untuk membaca Forsaken, fanfiksi karya Kak Dista yang sebenarnya sudah pernah kubaca, tetapi tidak runut dan belum sampai selesai (dan kenyataannya memang belum selesai). Ceritanya masih menggantung pada chapter 13, dan sepertinya masih akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan.

Satu pelajaran yang kudapat kali ini, membaca perlahan memang akan memberikan efek berbeda bila dibandingkan dengan membaca sekilas dan terburu-buru. Demikian pula halnya dengan menulis.

Forsaken, yang baru kucari artinya setelah selesai membaca part 13, dalam bahasa Inggris berarti ‘terbuang’ atau ‘terasing’. Kurang lebih seperti itu, semoga saja sesuai dengan yang dimaksudkan oleh sang penulis. Pembaca mungkin tidak akan memahami hubungan judul tersebut pada bagian awal cerita, mengingat chapter-chapter awal lebih banyak mengisahkan latar belakang masing-masing karakter.

Han Soojung adalah our heroine dalam fanfiksi ini. Meskipun cerita disampaikan dalam sudut pandang orang ketiga, aku melihat Soojung seolah bertindak sebagai poros cerita, atau seperti mercusuar yang selalu ‘mengawasi’ kapal-kapal yang berlayar di lautan. Kemudian, ada Park Chanyeol, siswa yang selalu membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa.

Lalu, ada Yoonhan dalam cerita ini, satu-satunya pria yang diandalkan oleh Soojung, juga pria yang mampu membuatnya menjadi lebih manusiawi dalam waktu singkat. Hubungan mereka berdua bisa dibilang pasangan kekasih, meskipun lebih terlihat bagaikan adik-kakak. Habisnya, Soojung yang lebih menggebu-gebu, Yoonhan lebih kalem. Mungkin karena faktor perbedaan umur yang cukup jauh.

Kemudian ada Luhan, saudara angkat Soojung, yang sudah meninggal dunia, yang memberikan warna dan kenangan tersendiri dalam kehidupan gadis itu. Nama itu kemudian terlahir lagi dalam sosok adik laki-laki yang hadir dalam kehidupannya.

Dan Bogotda, band tempat bergabungnya Chanyeol dan keempat temannya, Baekhyun, Jaejin, Minhyuk, dan Yerin. Mereka orang-orang yang aneh menurut Soojung, tetapi siapa yang percaya bahwa mereka juga teman pertama Soojung selama di Korea. Mereka cukup asyik dan menyenangkan juga, ternyata.

Soojung dan Chanyeol.

Mereka berdua seperti langit dan bumi: Soojung yang dingin dan Chanyeol yang hangat. Soojung yang misterius dan tidak banyak bergaul, Chanyeol yang terbuka dan mengenal serta dikenal oleh banyak orang. Tidak ada komunikasi yang menghubungkan mereka hingga suatu saat.

Hingga tiba saatnya mereka harus tinggal serumah. Mereka, yang memiliki marga dan latar belakang keluarga berbeda, tiba-tiba harus berbagi tempat berlindung di atap yang sama. Uh, lebih tepatnya, di dalam apartemen yang sama.

Oh, bukan. Bukan itu. Mereka terlalu mudah untuk melangsungkan pernikahan. Ayah Soojung dan Ibu Chanyeol-lah yang memutuskan untuk membina rumah tangga – di usia yang tidak lagi muda.

Butuh waktu lama bagi Soojung untuk terbiasa, mungkin juga bagi Chanyeol. Chanyeol yang biasa bersikap seenaknya di rumah sendiri terkadang lupa bahwa ia memiliki saudara perempuan. Soojung di sisi lain belum bisa menerima privasi dan haknya selama ini direnggut oleh Chanyeol.

Setelah membuka diri serta saling membantu satu sama lain, barulah hubungan itu terbentuk. Mereka mulai bersikap selayaknya seorang saudara dengan caranya sendiri. Soojung mungkin terlihat menyebalkan dan dingin. Dan kejam, kata Chanyeol. Namun, seperti itulah caranya untuk menunjukkan rasa sayang kepada saudaranya. Begitu pula Chanyeol yang aneh dan agak berisik, serta terkadang bisa melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, ia memiliki caranya sendiri untuk melindungi Soojung.

Masa lalu yang sebelumnya tersembunyi akhirnya terkuak. Mengapa Soojung seperti itu? Mengapa Chanyeol seperti demikian? Pembaca akan mengetahui jawabannya perlahan-lahan.

Keluarga baru mereka sangat bahagia. Soojung dan Chanyeol memiliki seorang adik laki-laki. Rumah baru di dekat gunung dengan pemandangan indah serta udara segar, juga mobil baru untuk sang jagoan, maksudku Chanyeol.

Sangat bahagia.

Hingga terjadi suatu peristiwa yang memutarbalikkan semuanya. Mengambil sosok berharga bagi mereka berdua dan meninggalkan sang adik kecil dalam ketidakmengertiannya.

Bisakah mereka menghadapi semuanya setelah ini? Mari kita tunggu kelanjutannya dengan sabar.

Aku cukup menyukai kombinasi Soojung-Chanyeol sebenarnya, meski terkadang Chanyeol seperti tertindas. Yah, daripada karakter perempuan yang harus mengemis cinta dari laki-laki kaya yang angkuh. Maaf, hanya preferensi pribadi.

Dalam Forsaken, pembaca akan dikenalkan dengan berbagai hal, seperti detil distrik dan jalanan Seoul, kehidupan siswa sekolah menengah atas di sana dengan permasalahannya, lalu makanan khas serta suasana khas rumah sakit, juga tentang musik. Ada beberapa link mengenai lagu atau piece yang disebutkan di dalam cerita yang bisa dinikmati sendiri oleh pembaca yang tertarik. Hal ini tentu saja tidak tercapai tanpa riset yang baik dan memadai. Ada beberapa istilah yang tidak disertai penjelasan, memang tidak terlalu berpengaruh banyak dalam cerita. Mungkin bisa dicari di google bila  pembaca ingin mengetahui artinya :).

Seperti cerita-cerita karya Kak Dista lainnya, ada banyak pelajaran yang bisa kuambil. Tentang sulitnya melunakkan hati seseorang yang asing. Tentang beradaptasi dengan suasana baru. Tentang mimpi. Tentang pengorbanan untuk sesuatu yang lebih berharga. Tentang menghancurkan batas antara diri sendiri dengan lingkungan. Tentang kegigihan dan determinasi. Dan banyak hal lainnya.

Hal yang paling membuatku terkesan adalah sosok Chanyeol yang hangat mudah bergaul dengan siapa saja. Perkataannya setelah berbelanja di sebuah pasar di Incheon itu seperti menyentilku.

Bicara seperti mereka, anggap mereka seperti ibu atau ayahmu. Semudah itu. Kau tidak akan pernah menyangka betapa keramahan akan berimbas pada seluruh kehidupanmu.

Jujur, aku bukan orang yang seperti itu. Agak sulit bagiku untuk menyapa orang yang tidak kukenal, terkadang aku bisa melakukannya bila suasana hati mendukung, tetapi aku lebih sering berkutat dengan pikiranku sendiri. Kurasa hal ini harus kuubah selagi masih ada kesempatan.

Aku akan menunggu chapter-chapter selanjutnya 😀

Note:

Agak sulit mengintegrasikan karakter Yoonhan ke dalam paragraf-paragraf sebelumnya pada tulisan ini. Sebut saja aku menghargai Chanyeol yang mendadak menunjukkan gejala inferiority complex saat melihat sosok Yoonhan. Aku sebenarnya ingin lebih menonjolkan fokus Soojung-Chanyeol karena sepertinya itulah bagian utama dari kisah ini. Correct me if I’m wrong, Kak Dista 🙂

Ingin membaca Forsaken? Silakan klik tautan ini

Advertisements

2 thoughts on “Forsaken by Distadee – A Short Review [1]

  1. wah, Ami, aku baca review ini jadi berasa Forsaken itu buaguss banget dalam ulasan kamu,, aku jadi nggak pede hehehehe

    tapi terima kasih banyak ya, di saat yang sama tulisan kamu juga membuat aku jadi lebih semangat untuk menuliskan chapter” selanjutnya dengan jauh lebih baik lagi. I owe you lots. 🙂

    p.s
    you’re right. cerita ini memang lebih fokus sama Chanyeol dan Soojung, meski dengan kisah hidup mereka sendiri-sendiri ^^

    Like

    1. Habisnya aku nggak lagi dalam mood yang tepat untuk jadi tukang kritik, Kak, dan emang kenyataannya Forsaken itu berkesan buatku, hehe. Kadang kalau aku menilai suatu karya dengan terlalu kritis, pesannya jadi nggak sampai ke aku.

      Senang kalau review ini juga bermanfaat buat Kakak. Kayaknya sejak mengenal tulisan-tulisan Kakak, aku jadi banyak belajar juga 😀 So, once again, I wanna thanked you for those lessons 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s