Belajar dari 3B: Bojonegoro, Bantaeng, dan Bandung

Malam ini, saya menyimak acara Mata Najwa episode Menata yang Menatap. Episode ini menghadirkan tiga orang pemimpin daerah tingkat II dari Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Bantaeng, dan Kota Bandung. Saya yang penasaran dengan bupati dan walikota yang dianggap berprestasi ini pun tidak sabar ingin mendengarkan cerita sukses dari beliau-beliau.

image_49_suyoto Bapak Suyoto (Kang Yoto) yang kini menjabat sebagai Bupati Bojonegoro ini berlatar belakang akademisi, juga pernah menjabat sebagai rektor. Mendengar Kabupaten Bojonegoro, mungkin tidak banyak dari kita yang tahu. Salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur ini, namanya naik saat berita tentang Blok Cepu mendominasi media beberapa waktu lalu.

Beliau bercerita cukup banyak, mulai dari meyakinkan masyarakat hingga memimpin bawahan. Awalnya beliau mengira bahwa untuk menjadi bupati, hanya perlu membuat kebijakan dan mengucurkan sejumlah dana. Singkatnya, ujung-ujungnya adalah uang. Ternyata tidak demikian. Dari kunjungan langsung ke masyarakat kabupaten, beliau mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Bojonegoro yang sebagian besar kurang mampu. Masalah pupuk, masalah infrastruktur, biaya pendidikan lah yang membuat masyarakat terdesak secara ekonomi.

Saya salut dengan keberanian beliau untuk memastikan bahwa hak-hak rakyatnya terpenuhi. Bojonegoro yang memiliki sumber daya minyak bumi, tentunya menjanjikan harapan besar bagi masyarakat petani yang hidupnya kurang sejahtera. Dengan terus terang beliau menyatakan bahwa ‘jatah cipratan minyak’ untuk kabupaten tidak sebesar itu. Meskipun demikian, beliau membina generasi muda Bojonegoro agar dapat bekerja di sektor perminyakan, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat sumber daya alam tersebut. Agar masyarakat tidak miskin di lumbung padinya sendiri.

Bapak Suyoto ini pernah diminta untuk berbicara di Massachusets Institute of Technology mengenai demokrasi. Beliau memaparkan bahwa adalah mungkin untuk berdemokrasi secara murah. Politisi butuh uang banyak untuk ‘membeli’ kepercayaan. Nah, bila seorang politisi bisa meyakinkan rakyat tanpa uang banyak, maka rakyat akan percaya dengan sang politisi/pemimpin. Itulah yang dilakukan oleh beliau sehari-hari. Terjun langsung ke masyarakat, mendengarkan keluhan langsung dari rakyat. Setiap hari Jumat, mulai pukul 13.00 – 15.00 beliau juga membuka pendopo bupati agar masyarakat bisa langsung berbicara di sana untuk menyampaikan aspirasi.

Kepada birokrat Kabupaten Bojonegoro, beliau menekankan beberapa hal antara lain: jangan menolak tanggung jawab meskipun hal itu berada di luar wilayah kerja kabupaten, jangan mengatakan ‘tidak ada uang’, jangan mengeluh. Keren, bukan? Bila semua birokrat memiliki mentalitas seperti itu, insya Allah tidak ada lagi keluhan karena urusan yang berbelit-belit, apalagi bila ujung-ujungnya duit.

nurdin_abdullah2

Kita beralih ke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Bantaeng yang dulunya sering terendam banjir ini mengalami  perkembangan pesat di masa kepemimpinan Bapak Nurdin Abdullah. Beliau adalah seorang akademisi yang menempuh pendidikan hingga S3 di Jepang serta pernah menjabat sebagai presiden direktur di empat perusahaan Jepang. Beliau mengaku tidak pernah bermimpi untuk menjadi bupati, tetapi desakan beberapa orang kiai kepada mertua beliau, serta usaha meyakinkan istri dan anak yang tidak mudah, akhirnya berbuah hasil.

Beliau menggagas pembangunan dam untuk mengatasi masalah banjir. Pembangunan itu awalnya menuai protes, tetapi akhirnya terbukti efektif dalam memperlancar aliran air agar tidak meluap. Beliau membentuk tim penanganan bencana yang responsif lengkap dengan mobil pemadam kebakaran yang memadai. Selain itu, beliau membuat terobosan di bidang kesehatan. Alih-alih membuat program jaminan kesehatan berbasis kartu yang mengharuskan masyarakat untuk antri, beliau membuat program yang memungkinkan masyarakat bisa menelepon dari rumah bila sewaktu-waktu membutuhkan bantuan terkait kesehatan. Bantuan ini digerakkan oleh ambulans, juga tenaga kesehatan yang profesional. Bantuan ambulans itu didatangkan dari Jepang, dihibahkan dari hasil lobi sana-sini, bermodal koneksi semasa berada di Jepang.

Bantaeng mengalami kemajuan pesat dari segi pariwisata, mulai dari gunung hingga laut. Bapak Nurdin Abdullah juga mengundang berbagai investor agar tertarik menanamkan modal di Kabupaten tersebut. Cita-cita beliau adalah untuk menjadikan Kabupaten Bantaeng kembali ke kejayaannya dulu, saat menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, serta pusat pendidikan.

Ada tiga hal yang penting bagi seorang pemimpin, menurut beliau yaitu jujur, disiplin, dan tegas. Bila ketiga hal ini dimiliki oleh semua pemimpin, mungkin tidak ada lagi krisis kepercayaan dari rakyat 🙂

Yang membuat saya salut dengan beliau adalah keberaniannya untuk pulang dan membangun daerah. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti itu, bukan? Berbekal ilmu dan pengalamannya selama di Jepang, beliau membangun Bantaeng hingga seperti saat ini. Beliau berujar bahwa masyarakat Jepang itu memiliki rasa malu yang tinggi, tetapi gengsinya rendah. Indonesia? Mungkin kebalikannya, ya :).

ridwan-kamil Nah, dari Banteng, kita menuju kota berjulukan Parijs van Java, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bandung. Di bawah kepemimpinan Bapak M. Ridwan Kamil, walikota yang cukup ngetop di twitter ini, Bandung mulai berbenah. Mulai dari penertiban PKL, penataan taman kota, pemberlakuan jam malam, program culinary night setiap dua minggu, hingga program unik setiap harinya yang juga dipromosikan via twitter. Seperti misalnya gratis naik Bus Damri bagi pelajar setiap Senin, Selasa tanpa Rokok, Rabu Nyunda, Kamis berbahasa Inggris, Jumat bersepeda, dan Sabtu cinta produk lokal.

Bapak Ridwan Kamil ini dulunya merupakan konsultan pembangunan untuk berbagai kota, hingga proyek di luar negeri. Kini, beliau menjadi ‘supir’ yang memiliki kendali penuh, bukan sekadar penyumbang gagasan.

Masalah-masalah di Bandung, menurut beliau berasal dari infrastruktur, birokrasi, juga masyarakat yang tidak taat aturan. Beliau sering kali menghadapi celaan terkait kebijakan yang diterapkannya, tetapi walikota yang akrab disapa Kang Emil ini tidak mau terlalu ambil pusing. Beliau lebih memilih untuk fokus dengan kerja untuk memimpin Bandung. Setiap pagi, beliau melihat bayangan sendiri di cermin untuk mengingatkan bahwa tugas beliau sebagai walikota adalah melayani masyarakat.

 

Sekian ulasan saya mengenai tayangan Mata Najwa Episode Menata yang Menatap. Semoga kelak para pemimpin kita mampu mengayomi rakyat dengan sepenuh hati. Bekerja nyata, tidak hanya sibuk menampilkan citra. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

n.b. : Mohon maaf bila terdapat kekeliruan pada informasi yang saya tulis ini. Tulisan ini berdasarkan apa yang saya tangkap dari acara Mata Najwa yang ditayangkan hari ini, 12 Maret 2014 pukul 20.05 WIB.

Advertisements

4 thoughts on “Belajar dari 3B: Bojonegoro, Bantaeng, dan Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s