Mahasiswa Itu Harusnya Ngapain Aja, Sih?

mahasiswa_kuliahilustrasi_110303162502 Tugas mahasiswa ya kuliahlah, belajar yang bener…

Tadi pagi menjelang siang, saat saya mencari responden untuk penelitian, saya bertemu dengan salah seorang bapak yang mengantarkan ibunya untuk berobat di Poliklinik Neurologi RSSN Bukittinggi. Beliau adalah seorang guru, ustadz  dan salah seorang mahasiswa farmasi UNAND yang berada tiga tahun di bawah saya merupakan salah seorang murid beliau.

Lumayan banyak yang kami perbincangkan, kebanyakan mengenai pendidikan, mungkin karena beliau juga seorang pendidik. Tentang penelitian saya, tentang kuesioner yang saya gunakan, tentang dimana saya kuliah, tentang bagaimana saya bisa berada di semester akhir studi magister meskipun usia saya masih terbilang muda. Beliau setuju dengan program akselerasi karena menurut beliau, memaksa seorang anak yang mampu menempuh tingkatan yang lebih tinggi untuk tetap bersama rekan-rekan seangkatannya adalah zhalim karena mengambil hak anak tersebut. Dalam hal itu, saya sepakat, walaupun kenyataannya saya merasa ada yang hilang dari masa remaja saya karena  mengikuti program akselerasi.

Lalu sampailah pada pertanyaan, ”Waktu kuliah, jadi aktivis, tidak?”

Saya hanya memiliki pengalaman organisasi di tingkat fakultas, itu pun tidak terlalu banyak. Saya pernah menjadi staf Keuangan dan Bisnis di BEM Fakultas dan tergabung di Pharmacy English Club, juga tim redaksi Pharmakon. Dua posisi terakhir tidak saya sebutkan, memang.

“Oh, bukan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), ya?”

Saya jawab saja dengan alasan klise, sulit membagi waktu. Padahal dulu, saya memang tidak ingin terlalu aktif organisasi. Kepribadian saya waktu itu masih belum begitu terbuka. Saya masih menganggap teman-teman dunia maya saya yang memiliki ketertarikan dan minat yang sama adalah lebih penting dibandingkan memperluas jaringan pertemanan saya di dunia nyata. Saya masih terlalu bangga dengan potensi diri yang masih secuil.

Beliau beranggapan bahwa berkiprah di BEM tidak jauh-jauh dari birokrasi. Dan ada kemungkinan pula BEM dihinggapi oleh virus sekulerisme. BEM Fakultas Farmasi UNAND mungkin tidak seperti itu, menurut saya. Dan memang tidak semua lembaga eksekutif mahasiswa tertular oleh virus itu, saya rasa.

“Sumatera Barat bisa menjadi provinsi terkaya di Indonesia. Di sini ada Plutonium. Tahu Plutonium?”

Mineral radioaktif, jawab saya. Saya baru tahu bumi Minangkabau ini mengandung plutonium.

“Dan hasilnya, siapa yang menikmati?”

“Diekspor ke luar negeri.” Saya mencoba untuk menebak.

“Ya, diekspor ke Eropa.”

Ini masalah klise dan anehnya selalu berulang. Kekayaan negeri ini dikeruk dan hasilnya dinikmati oleh negara lain. Potensi yang dimiliki oleh Indonesia tidak termanfaatkan. Obat-obatan, misalnya, masih harus diimpor dari luar negeri. Bahkan bahan bakunya sekalipun, dengan pertimbangan biaya dan lain-lain.

“Setelah kuliah di farmasi boleh saja punya apotek, tetapi harus paham tentang obat alam, khususnya yang berasal dari Sumatera Barat, untuk diwariskan ke generasi selanjutnya.” Beliau berpesan.

Saya memang tidak terlalu paham dengan farmasi bahan alam, tetapi mendengar pesan beliau, saya ingin mempelajarinya. Bagaimanapun, penggunaan tumbuhan berkhasiat obat juga merupakan salah satu kearifan lokal yang harus dilestarikan.

“Dulu, di Minangkabau, mamak berperan penting dalam mendidik kemenakannya. Sekarang, urusan pendidikan diserahkan kepada sekolah. Makanya, nanti buatlah komunitas-komunitas. Komunitas mahasiswa farmasi yang peduli pendidikan, misalnya. Karena pendidikan itu bukan tanggung jawab sekolah saja, melainkan tanggung jawab semua orang.”

“Mau, sih, Pak. Tetapi tidak banyak teman yang tertarik.” Refleks saya menjawab demikian. Karena sepertinya kami telah sibuk dengan urusan masing-masing, mengejar cita-cita masing-masing. Bekerja, melanjutkan pendidikan, dan lain-lain.

“Tidak perlu banyak orang. Rasulullah pun saat pertama kali menyebarkan ajaran Islam hanya didukung oleh istrinya tercinta.”

Saya pun tergerak untuk melaksanakan pesan dan nasihat beliau. Karena saya baru menyadari bahwa saya punya ketertarikan yang cukup besar di dunia pendidikan. Saya ingin kelak anak-anak Indonesia ini menerima pendidikan yang lebih baik. Tidak hanya berfokus pada nilai akademis, tetapi juga nilai-nilai agama dan keahlian yang diperlukan untuk terjun ke masyarakat setelah dewasa. Sehingga diharapkan generasi muda ini mampu menggantikan generasi sebelumnya dan berbuat sesuatu agar negeri ini semakin baik.

Mahasiswa seyogianya tidak menghabiskan waktunya hanya untuk belajar di kelas atau di laboratorium saja. Ia juga harus belajar mempersiapkan diri untuk mampu memberikan sumbangsih bagi masyarakat di sekitarnya. Melatih kepedulian, melatih kemampuan berpikir kritis, dan mencari solusi. Hal-hal tersebut, saya rasa, bisa diperoleh dengan berorganisasi. Meskipun ini adalah salah satu penyesalan saya juga karena tidak terlalu aktif berorganisasi semasa kuliah.

Ada yang sependapat dengan saya?

Akhir kata, saya mohon ampun pada Allah swt bila ada hal-hal dalam tulisan ini yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Kesalahan yang ada murni karena keterbatasan dan kelemahan saya.

n.b.:

Tulisan ini dibuat mendekati situasi aslinya, meskipun tidak sama persis karena keterbatasan ingatan.

Terima kasih saya ucapkan kepada beliau karena nasihat beliau sungguh berharga bagi saya.

Mengenai plutonium itu, saya belum bisa menemukan referensi lain. Bila ada pembaca yang mengetahui hal tersebut lebih lanjut, silakan tulis di kolom komentar.

Advertisements

2 thoughts on “Mahasiswa Itu Harusnya Ngapain Aja, Sih?

  1. Aaaaaa~ mahasiswa.
    Saya sendiripun masih memiliki pertanyaan itu. Banyak hal yang di pikirkan ketika berpikiran untuk mengubah sesuatu. Sama seperti yang salah satu dosen yang mengampu mata kuliah kimia lingkuangan ‘Ga masalah jika kalian ga bisa berkontribusi banyak untuk lingkungan. Seenggaknya kalian cukup berbuat yang mampu kalian lakukan. Ga belok sembarangan di jalan itu sudah sangat membantu mengurangi emisi.’
    nice post, kak. ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s