Haruskah Putus Asa?

discourage

I cannot imagine my future (credit: www.anneahira.com)

Beberapa hari ini, saya melakukan penelitian di RSSN Bukittinggi. Topik yang saya teliti adalah hubungan kepatuhan dan kualitas hidup terkait kesehatan pascastroke.

Kualitas hidup terkait kesehatan pascastroke ini diukur menggunakan sebuah kuesioner khusus yang mencakup 12 dimensi, salah satunya suasana hati. Aspek suasana hati ini terdiri dari beberapa pernyataan yang dijawab dengan sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

Dan salah satu dari pernyataan ini menilai apakah pasien merasa putus asa dengan masa depannya atau tidak.

Yang membuat saya kagum adalah kebanyakan pasien tidak merasa putus asa dengan masa depannya meskipun penyakit stroke yang diderita membuat mereka harus mengalami keterbatasan.

Untuk apa putus asa?

Nggak mungkinlah saya putus asa. Sebagai orang yang beragama, tidak boleh merasa putus asa. Harus percaya dengan Allah, penyakit ini adalah ujian dari-Nya.

Jawaban-jawaban senada terlontar dari mulut mereka. Membuat saya yang  masih muda dan alhamdulillah diberikan nikmat kesehatan merasa malu karena pernah merasa down. Padahal beban saya bukan apa-apa. Saya bisa berjalan, bisa berlari, bisa berbicara dengan lancar, bisa melakukan aktivitas sehari-hari seorang diri.

Buat teman-teman yang sekarang merasa putus asa, merasa pesimis, yuk bangkit! Nggak mau kalah kan dengan beliau-beliau itu? Mereka bisa, mengapa kita tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s