Tentang Sinetron

menonton_televisi_ilustrasi_110111074136

Coba aja kalau hidupku kayak sinetron (credit: www.republika.co.id)

Bismillahirrahmanirrahiim…

Ada yang suka nonton sinetron di sini? Atau ada yang anti sinetron dan lebih memilih untuk menonton film impor dari Barat atau negara Asia lainnya dengan berbagai alasan? 

Kalau saya sih nggak terlalu suka sinetron. Sebenarnya lebih ke ‘anti’ sih, tetapi mengingat bahwa saya sedang di rumah dan ikut bergabung dengan orangtua saya menonton pada jam-jam tertentu, sepertinya agak munafik juga kalau saya memasukkan diri saya ke golongan kedua itu.

Bagi mereka yang anti, mungkin bisa menyebutkan seribu alasan untuk tidak menonton sinetron. Sinetron dianggap sebagai tayangan yang tidak bermanfaat, menjual mimpi kosong, mempertontonkan penindasan tokoh baik oleh tokoh jahat, mengajarkan pelajar untuk bersantai menikmati masa muda dengan berfoya-foya, gonta-ganti pacar dan sebagainya. Namun, kali ini, ada sisi lain dari sinetron Indonesia yang mungkin belum banyak disadari oleh masyarakat.

Sejak beberapa waktu yang lalu, sinetron yang mengusung tema Islami mulai diperhitungkan, tidak hanya pada waktu Ramadhan atau hari besar Islam saja, tetapi juga sebagai pengisi slot tayang harian. Seharusnya ini bisa membawa angin segar bagi masyarakat Indonesia, di tengah sinetron yang mengandung nilai-nilai yang negatif yang sudah terlebih dahulu menancapkan pengaruhnya.

Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian.

Yang saya temui justru sinetron yang seharusnya sarat dengan nilai-nilai Islami yang dicontohkan oleh karakter-karakter yang santun, malah sudah tercemar. Tidak jarang karakter-karakter ‘baik’ justru mencela orang lain dengan nama yang tidak pantas. Tidak jarang pula karakter-karakter yang kurang baik menerima lampu sorot yang lebih terang. Berpakaian yang kurang pantas juga bukan lagi dianggap permasalahan.

Yang berbahayanya, sinetron ini semacam punya efek bius yang dahsyat. Tanpa sadar, pengaruh buruknya akan diikuti oleh pemirsa, apalagi mereka yang rutin menontonnya. Tidak peduli, meskipun pemirsa itu adalah orang berpendidikan tinggi atau kurang, bila tidak punya filter yang bagus, tetap saya akan terpengaruh.

Bayangkan apa yang terjadi bila anak-anak, generasi penerus yang seharusnya bisa belajar dari hal-hal yang diterimanya sehari-hari, malah terkontaminasi dan meniru perilaku yang tak pantas dicontoh.

Semoga ke depannya lebih banyak lagi tayangan yang sarat nilai-nilai positif dan kaya teladan serta manfaat.

Apapun itu, sinetron tampaknya bukan pilihan hiburan yang layak, terutama bagi anak-anak 🙂 .

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Sinetron

  1. tulisannya menginspirasi mbak

    bener mbak…apalagi sinetron yang mengekspos kehidupan sekolah. settingnya sekitaran SMP atau SMA. mengajarkan betapa mudahnya gonta ganti pacar, clubbing, persaingan tidak sehat, gaya pakaian yang tidak pantas untuk anak sekolahan, dan sikap tidak sopan pada guru dan orang tua, serta masih banyak hal lainnya.
    padahal anak-anak umur sekitaran itu begitu rentan dan masih mimiliki sikap meniru yang tinggi.

    Like

    1. Betul sekali. Seakan-akan kalau tidak clubbing, tidak pacaran, tidak berfoya-foya, berarti masa sekolah dan masa mudanya tidak bahagia. Padahal itu hanya kesenangan sesaat yang menjerumuskan.

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya 🙂

      Like

  2. aku bukan penikmat sinetron, apapun itu, atau penonton setia televisi. Tapi sebenarnya cukup menyadari juga kalau sinetron tema” Islami sekarang sedang santer ditayangkan di beberapa televisi swasta besar.

    Dan kamu bener. Judulnya aja Islami, orang”nya ditutupi dengan hijab yang seadanya, tapi ya gitu aja. Ketika beberapa kali aku pernah sekelibat nonton, isinya ternyata nggak berbeda dengan sinetron” sekuler lainnya. Kurasa ini karena penulis skripnya bukan orang yang tahu benar ttg baiknya Islam, dan bisa jadi sama” liberal, jadinya yaaaa…. gitu aja kualitasnya.

    Well, eniwei. Aku nggak pada tempatnya juga sih berkomentar banyak” soal sinetron karena nggak pernah nonton, hehehe. Tapi apa yang kamu tulis di atas sedikit banyak menggambarkan apa yang ada di dalam kepalaku mengenai kualitas tontonan masyarakat negeri kita. Miris … >___<

    Like

    1. Ya, Kak, sayang aja sih, pemeran perempuannya pakai hijab, pemeran laki-lakinya shalat berjamaah tapi ya cuma itu. Ngegosip, membohongi orang lain masih tetap jalan.
      Makasih, Kak, sudah memberikan tanggapannya di sini 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s