Sabar Itu (Tidak) Berbatas

confrontation1 Pokoknya kamu yang salah! (credit: www.thedailyrecord.com)

Bismillahirrahmanirrahiim…

Para pembaca mungkin sudah tidak asing lagi dengan kalimat tersebut. Masalahnya, yang benar itu yang seperti apa? Sabar itu berbatas atau tidak? Ada yang menjawab, sabar ya ada batasnya lah. Kita kan manusia, bukan malaikat, bukan nabi, wajar untuk marah. Tetapi, ada pula yang memberikan argumen berbeda. Yang namanya sabar ya nggak ada batas 🙂

Jadi?

Pada kesempatan ini, saya bukannya mau menggurui, bukan pula mau menasihati. Karena saya masih punya banyak kekurangan, terkadang memendam kesal dalam hati karena menghadapi orang lain yang kurang sependapat dengan saya. Kadang memarahi adik karena tidak membantu saya. Dan banyak pengalaman lainnya yang mengingatkan bahwa diri ini masih jauh dari pribadi penyabar.

Baiklah, saya akan memberikan sebuah contoh kasus. Seorang klien merasa tersinggung karena ucapan konsultannya sedikit keras, lalu sang konsultan tidak terima dengan sikap sang klien yang dianggap tidak kooperatif. Keduanya kemudian terjebak dalam adu argumen bernada tinggi.

Kira-kira siapa yang salah? Apakah sang klien yang tidak kooperatif atau sang konsultan yang menggunakan nada keras yang belum tentu dapat diterima oleh semua orang? Atau dua-duanya?

Agak sulit sebenarnya untuk menentukan siapa yang salah, atau setidaknya siapa yang lebih bersalah, bahkan bila kita menghadapi situasi yang serupa sekalipun. Soal hati, hanya Allah SWT dan pribadi yang bersangkutan yang mengetahuinya. Siapa tahu sang konsultan tidak berniat untuk menyalahkan sang klien, tetapi hanya bermaksud untuk memberikan solusi secara tegas agar sang klien tidak membuat kesalahan. Sang klien mungkin tidak bermaksud melawan konsultannya. Mungkin ia tidak stabil secara emosi sehingga sedikit nada keras akan membuatnya merasa tersinggung dan diremehkan.

Bagi saya yang cenderung ingin menghindari konflik, bila saya menjadi sang konsultan, saya akan berusaha untuk menggunakan nada bicara yang bisa diterima orang lain. Di sisi lain, bila saya menjadi sang klien, saya pun tidak akan mencoba untuk ‘mendebat’ sang konsultan meskipun hati saya agak memanas. Saya akan berpikir positif agar bisa menerima nasihat dan saran dari konsultan saya dengan baik.

Namun, yang menjadi masalah adalah, bila situasi tersebut terlanjur terjadi, apakah tepat bila sang konsultan merasa tidak terima? Apakah sebaiknya ia menahan diri? Apakah ia harus mengingatkan sang klien dengan tegas untuk bersikap santun dan tidak mendebat?

Hal-hal tersebut mungkin sangat manusiawi untuk dilakukan. Baik merasa tidak terima, diam dan menahan diri, maupun mengingatkan dengan tegas. Merasa tidak terima merupakan suatu respons defensif untuk mempertahankan harga diri. Diam dan menahan diri adalah suatu hal yang dilakukan untuk mencegah agar konflik tidak terus berlanjut. Sementara itu mengingatkan klien dengan tegas, selain merupakan kelanjutan dari respons defensif tersebut, juga diharapkan dapat membantu klien untuk bersikap lebih kooperatif pada sesi konsultasi selanjutnya.

Menurut pendapat saya, hal yang terbaik untuk dilakukan adalah menahan diri dan mengingatkan klien dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Itu menurut saya yang cenderung menghindari konflik, atau setidaknya menyelesaikannya dengan cepat. Namun saya yakin, orang-orang dengan tipe berbeda mungkin akan melakukan hal yang berbeda pula dalam situasi seperti itu. Saya tidak akan balik ‘menyerang’ sang klien yang sudah terlanjur emosi dengan merasa tidak terima dan memintanya untuk menghargai saya.

Sekali lagi, itu hanya pendapat saya. Bagaimana dengan pembaca sekalian? Apa ada yang ingin berbagi pendapat?

Demi masa.   Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,   kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al ‘Ashr: 1-3)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s