The Misconception of Drugs

image1 Obat sebanyak ini mau diminum semua?

Bismillahirrahmanirrahiim…

Judul di atas saya bukanlah jiplakan judul album salah satu grup ternama dari negeri Ginseng sana. Hanya saja, rasanya tepat untuk menggambarkan apa yang hendak saya sampaikan berikut ini. Secara harfiah, judul tersebut bisa berarti ‘Kesalahpahaman mengenai Obat-obatan’. Kira-kira, kesalahpahaman apa ya yang sering terjadi?

Mungkin para pembaca sering mendengar pernyataan berikut.

“Udah kayak makan obat aja, tiga kali sehari.”

“Makan obat ya sesudah makanlah, nanti lambungnya perih.”

“Minum obatnya pakai susu, biar nggak berasa pahit.”

Benar nggak sih pernyataan-pernyataan tersebut?

Sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tidak pula sepenuhnya benar. Memang banyak obat bebas yang diminum tiga kali sehari, seperti parasetamol atau asetosal/aspirin sebagai obat penurun panas (antipiretik) dan pereda nyeri (analgetik), obat batuk, obat pereda gejala flu, dan lain-lainnya. Namun, obat yang hanya perlu diminum satu kali sehari atau dua kali sehari, atau bahkan lima kali sehari juga ada dan mungkin tidak kalah banyak jumlahnya. Seperti amlodipin, obat antihipertensi yang diminum satu kali sehari, ranitidin, obat untuk menekan produksi asam lambung yang diminum dua kali sehari, serta asiklovir, suatu antivirus yang diminum lima kali sehari. Nah, lho, bagaimana cara mengatur jadwal minumnya, tuh?

Dari ilmu farmakokinetik yang saya pelajari, frekuensi penggunaan obat salah satunya bergantung pada nasib obat tersebut di dalam tubuh. Ada yang kadarnya cepat turun di dalam tubuh, ada pula yang lebih lambat. Konsekuensinya, obat yang kadarnya cepat berkurang harus diminum lebih sering untuk mengembalikan kadar obat hingga mencapai kadar efektif, demikian pula sebaliknya. Jadi, sebaiknya minumlah obat dengan jarak penggunaan yang teratur. Terutama untuk obat golongan antibiotik dan obat-obatan dengan indeks terapi sempit, maka keteraturan interval penggunaan obat menjadi suatu keharusan. Misalnya, bila obat digunakan tiga kali sehari, berarti obat diminum setiap 8 jam. Agar lebih praktis, obat dapat diminum pada pukul 06.00, lalu 14.00, dan 22.00.

Lalu selanjutnya, apakah obat harus selalu diminum setelah makan?

Jawabannya tidak juga. Salah satu produsen obat sakit kepala saja mengklaim bahwa produknya dapat diminum sebelum makan tanpa harus khawatir dengan masalah lambung. Ada obat yang sebaiknya diminum setelah makan (misalnya obat-obat analgetik nonsteroid seperti natrium diklofenak), ada yang dapat diminum setelah atau pun sebelum makan (misalnya parasetamol), ada obat yang harus diminum sebelum makan atau dalam keadaan perut kosong (misalnya antasida), ada pula obat yang diminum saat makan (misalnya metformin). Ada alasan tertentu di balik itu semua. Obat yang sebaiknya diminum setelah makan umumnya memiliki dua sifat: dapat mengganggu lambung atau dapat dirusak oleh asam lambung. Oleh karena itu, sedapat mungkin obat ini dijauhkan dari kontak langsung dengan lambung atau dengan asam lambung, khususnya. Sementara itu, obat yang harus diminum sebelum makan biasanya memiliki karakteristik lain: ditujukan untuk bekerja langsung pada lambung, aktif dalam suasana asam, atau penyerapannya berkurang bila diminum bersama makanan. Obat yang diminum pada saat makan bertujuan untuk mengoptimalkan penyerapannya sehingga diharapkan efeknya juga optimal. Di sisi lain, obat yang dapat diminum sebelum atau sesudah makan cenderung lebih ‘nggak neko-neko’. Obat ini biasanya memiliki ciri seperti berikut: penyerapannya tidak dipengaruhi oleh makanan dan/atau tidak mengganggu/merusak lapisan mukosa lambung.

Bila sudah tahu kategori obat seperti apa yang akan diminum, apakah sebaiknya diminum sebelum atau sesudah makan, maka hal penting yang harus diketahui adalah definisi sebelum dan sesudah makan itu sendiri. ‘Sebelum makan’ merujuk pada keadaan perut kosong, biasanya satu jam sebelum makan, atau paling cepat setengah jam sebelum makan. Namun, keadaan perut kosong juga dapat dicapai 2 jam setelah makan. ‘Sesudah makan’ merujuk pada keadaan perut telah terisi makan, biasanya segera setelah makan atau beberapa menit setelahnya, bergantung pada obat yang akan digunakan.

Nah, yang terakhir, apakah obat boleh diminum dengan  susu?

Sebaiknya obat diminum dengan segelas air. Air bersifat netral serta diharapkan tidak akan mempengaruhi molekul obat yang akan diminum. Sementara itu, air sebanyak satu gelas diharapkan akan meningkatkan penyerapan obat ke dalam darah. Saat diminum bersama air, obat (dalam hal ini tablet atau kapsul) akan hancur hingga membentuk molekul-molekul yang siap untuk diserap. Coba larutkan satu sendok teh gula dalam dua sendok makan air, lihat berapa lama gula tersebut akan larut. Bandingkan dengan satu sendok teh gula yang dilarutkan dalam segelas air. Lebih cepat bila dilarutkan dalam segelas air, bukan? Hal ini membuktikan bahwa jumlah pelarut akan menentukan kelarutan suatu senyawa (dalam hal ini obat yang diminum).

Namun, bukan berarti tidak ada obat yang boleh diminum dengan susu. Obat tertentu akan meningkat penyerapannya bila diminum bersama makanan kaya lemak, salah satunya adalah susu. Misalnya asam ursodeoksikolat, obat yang digunakan pada penyakit batu empedu.

Sekian. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan mohon maaf bila ada penjelasan yang kurang tepat. Silakan sertakan kritik dan/atau saran di kolom komentar.

[Artikel ini bukan pengganti konsultasi. Tanyakan informasi seputar obat yang akan Anda gunakan kepada apoteker.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s