Kalau Hari Ini Nggak Ada Internet…

image

<Mau googling, eh tahunya ketemu ini. Sedih 😦 >

Di zaman yang semakin canggih ini, internet seakan naik kelas jadi kebutuhan primer bagi sebagian orang. Mulai dari siswa sekolah yang galau karena banyak tugas, anak kuliahan yang galau karena skripsi, sampai karyawan yang galau di tanggal tua seperti ini. Karena sangat dibutuhkan, internet yang dulunya hanya tersimpan apik di dalam bilik-bilik warung internet, sekarang bisa dimanfaatkan secara bebas di rumah dengan modem nirkabel. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, internet kini sudah berada dalam genggaman tangan. Lihat saja penggunaan ponsel pintar dengan berbagai sistem operasi yang semakin menjamur. Ponsel murah pun bisa digunakan untuk internetan, meskipun terbatas untuk fitur jelajah situs sederhana dan media sosial.

Semuanya setuju, ‘kan, dengan kalimat-kalimat yang saya kemukakan di atas? Tapi, ada satu orang yang tidak setuju, nih. Sebut saja namanya Fero.

Fero kini berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas. Dia ini mahasiswa yang cemerlang, nilai kuliahnya hampir semuanya A. Alamat bakal calon cumlaude, nih. Namun, yang namanya skripsi memang tidak pandang bulu! Mau berotak encer sampai otak pas-pasan pun tidak ada yang bisa lolos dari intaian predator yang satu ini. Skripsi bagaikan momok berantai yang harus ditakuti oleh para mahasiswa yang ingin segera lulus.

Fero cukup percaya diri dengan kemampuan akademisnya selama ini. Masalah penelitian, gampanglah, dia sudah berpengalaman menjadi asisten praktikum selama beberapa semester di beberapa laboratorium. Dia kenal dekat dengan beberapa profesor yang disegani, juga analis laboratorium yang kadang-kadang sulit ditebak apa maunya. Koleksi bukunya juga cukup lengkap, kalau kurang ya tinggal pinjam di perpustakaan. Harusnya, dengan bekal seperti itu, Fero bisa menyelesaikan skripsinya tanpa hambatan berarti, ya, ‘kan?

Namun, kenyataannya nggak semudah itu.

Fero dapat pembimbing I yang mobile, sering ke luar kota dan ke luar negeri karena beliau sedang menempuh studi post-doctoral di Singapura. Alhasil, proses bimbingan pun mau tidak mau harus dilakoni dengan memanfaatkan koneksi internet. Belum cukup sampai di situ, dosen pembimbing II Fero adalah orang yang selalu memperbaharui ilmunya dengan referensi terbaru. Beliau ingin mahasiswa bimbingannya mengetahui penelitian yang sudah dilakukan di luar sana supaya tidak hanya meniru karya yang sudah ada.

Fero cukup kewalahan juga menghadapi kedua dosen pembimbingnya itu. Soalnya, dia yang biasanya tidak mau berurusan dengan internet sekarang harus memanfaatkan internet kalau mau tugas akhirnya lancar. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah memiliki alamat e-mail supaya bisa mengirimkan data atau melaporkan hasil sementara yang ia peroleh. Nah, masalahnya, Fero lupa dengan alamat e-mail-nya sendiri. Ya, wajar sih, yang membuat dan memegang akunnya, ‘kan, temannya. Itupun hanya digunakan untuk mengirim tugas. Jadi, tugas Fero yang sudah selesai diserahkan ke Ardi, nama temannya itu, untuk dikirim ke e-mail dosen mata kuliah yang bersangkutan. Ardi lagi di luar kota untuk mengumpulkan sampel dan nomornya sering susah dihubungi. Fero terpaksa harus menunggu dosennya pulang ke Indonesia supaya bisa bimbingan. Eh, tadi siang, beliau malah marah-marah karena Fero tidak melaporkan kemajuan pembuatan makalah seminar proposalnya lewat e-mail setiap minggu seperti perjanjian awal. Duh, Fero jadi bete, soalnya baru sekali itu dia dimarahi dosen. Apalagi dosen itu adalah dosen favoritnya pula.

Belum lagi masalah dengan pembimbing II-nya. Jurnal yang ada di perpustakaan fakultas dan universitas memang cukup lengkap dan beragam. Namun, belum tentu tersedia dalam waktu cepat dengan stok memadai. Tidak jarang Fero harus berebut dengan kakak kelasnya yang sudah kepepet mau seminar hasil. Kalau sudah begitu, ya, Fero terpaksa gigit jari sambil menunggu. Ternyata, artikel yang dicari Fero justru tidak ada di dalam jurnal tersebut. Dia mengeluh kesulitan mencari artikel terbaru yang terkait dengan penelitiannya kepada dosen pembimbing II. Sang dosen pembimbing malah tertawa sambil bertanya, ”Aduh, Fero, kamu ini hidup di abad berapa, sih? Semua yang kamu cari ada di internet! Mau artikel terbaru, textbook, gambar pendukung, bahkan kamu bisa bertanya kepada profesor yang ada di Amerika sana dengan internet.”

Fero terdiam, merenungkan ucapan dosennya. Sekarang dia baru mengerti bahwa internet itu tidak hanya bisa digunakan untuk menyampah di media sosial seperti yang dia kira. Atau untuk mengakses konten negatif seperti yang sering diberitakan di televisi. Internet mengandung banyak sekali manfaat asalkan kita paham caranya. Seperti pisau tajam yang bisa membuat jari kita terluka, tapi bisa digunakan untuk memotong makanan bila kita bisa menggunakannya dengan baik.

Mau seperti Fero? Tidak, ‘kan?

Atau mau punya teman yang kesulitan karena tidak paham internet seperti Fero? Pastinya juga tidak mau, ya, ‘kan? Nah, makanya, ayo ajarkan internet kepada teman-teman atau orang-orang di sekeliling kita. Makin banyak yang melek internet, makin banyak yang bisa memanfaatkan internet untuk hal-hal yang baik, Indonesia akan semakin maju. Setuju?

Klik juga:

http://telkomsel.com/genggam-internet

(Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Sehari Tanpa Internet yang diselenggarakan oleh Telkomsel.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s