Sebuah Tulisan yang Terlambat Untuk Hardiknas

coret coret Apa iya, sekolah dua belas tahun hasilnya cuma seragam yang penuh coretan seperti ini?    (credit: www.radarbangka.co.id )

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Tanggal 2 Mei lalu, rakyat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Berbagai cara dilakukan untuk menumbuhkan semangat di tengah-tengah carut-marutnya pendidikan di Indonesia. Mulai dari masalah klasik seperti UN, hingga masalah tindakan asusila yang kini seolah tidak mengenal tempat, sekolah pun boleh menjadi saksi bisu.

Sudah delapan tahun berlalu sejak saya menyelesaikan wajib belajar, ditambah dua tahun lagi untuk menamatkan SMA. Namun, rasanya gaung semangat Hardiknas itu semakin menipis saja, entah saya yang kurang mampu mendengarnya atau memang demikian kenyataannya.

Sekolah kini bukan sesuatu yang dianggap mustahil bagi sebagian besar keluarga, melainkan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Bagaimanapun sulitnya kehidupan, bahkan untuk makan saja susah, yang namanya sekolah harus tetap diusahakan. Demikian tekad para orangtua di dalam hati. Mereka berdoa untuk anak-anaknya agar diberikan kecerdasan sehingga bisa menamatkan sekolah setinggi-tingginya. Agar bisa menjadi orang yang lebih baik, bisa menjadi orang besar kelak. Lalu mengubah nasib keluarga agar tidak miskin terus.

Pada sekolah lah harapan para orangtua tersebut bertumpu. Mereka menitipkan anak-anaknya pada guru agar bisa dididik menjadi insan yang cerdas akalnya serta baik budinya. Menguasai IPTEK dan memiliki IMTAQ. Para guru pun berusaha keras untuk membimbing anak muridnya, dari yang belum mengenal abjad dan angka hingga mampu membuat karya tulis  dan menaklukkan rumus-rumus matematika yang rumit. Mereka mengajari para siswa untuk berlaku jujur dan disiplin, menghormati orangtua dan guru serta menyayangi teman. Sungguh besar jasa para guru yang telah mengikhlaskan diri mereka pada jalan pendidikan yang kasar dan berliku.

Pada detik-detik menjelang kelulusan siswa di tahun terakhir sekolahnya, para guru menjadi panik. Dikuasai hantu standar kelulusan, bayang-bayang anak-anak mereka yang tidak mampu mengerjakan soal ujian. Para siswa pun digenjot untuk belajar mulai dari pagi buta hingga tengah malam, mempelajari soal-soal sepuluh tahun terakhir, lalu diuji lagi kesiapannya melalui serangkaian ujicoba (tryout) dan Pra-UN. Siswa-siswa tersebut tak ayal menjadi stres dan tertekan, terlebih setelah mendengar petuah dari guru mereka. Kalian harus belajar supaya lulus ujian kali ini. Kepala sekolah tak mau tahu, tahun ini siswa harus lulus seratus persen, seperti tahun-tahun sebelumnya, bila perlu menjadi peringkat satu di provinsi.

Entah sejak kapan sekolah berubah menjadi industri yang menghasilkan produk siswa-siswa unggulan.

Siswa-siswa yang cukup mampu secara ekonomi, baik atas kemauan sendiri maupun karena desakan orangtua, akhirnya mendaftarkan diri pada berbagai program bimbingan belajar (bimbel). Dengan jaminan lulus UN dan SNMPTN, siapa yang tidak tergoda? Jutaan rupiah mengalir ke kantong kas bimbel. Sekolah diam saja, bahkan ketika program bimbel tersebut mengadakan promosi dan ujicoba ujian di sekolah, mereka memaklumi dengan alasan, yang penting siswa-siswa lulus semua. Lalu ketika para siswa lulus, sekolah juga yang akan bangga, tak peduli meskipun pada saat ujian, rumus yang digunakan oleh siswa adalah hasil belajar dari bimbel. Lebih cepat dan jitu daripada harus berpanjang-panjang seperti yang diajarkan guru di sekolah.

Entah sejak kapan proses pembelajaran hanya berorientasikan hasil, bukan proses. Entah sejak kapan penguasaan siswa akan suatu ilmu bisa dicapai secara instan.

Meski telah mempersiapkan diri matang-matang, tetap saja para siswa ini ketakutan. Takut tak lulus, takut mempermalukan orangtua, takut malu dengan teman-teman, takut mengulang setahun lagi. Para joki beraksi membagikan kunci. Yang termakan bujuk rayu para joki akan melakukan segala cara, mulai dari membawa ponsel saat ujian, hingga mencatat kunci jawaban ci kertas kecil. Lalu, pada saat ujian, kunci jawaban itulah yang akan menjelma menjadi bulatan-bulatan hitam pada lembar jawaban komputer. Untuk apa payah menjawab soal bila di tangan ada jawaban yang pasti? Yang berteguh hati tetap akan menyelesaikan soal ujian sendiri, meski peluh mengalir deras di dahi. Pikiran buntu, sesekali rasa putus asa itu menyusup masuk qalbu. Hanya doa yang meluncur pelan di dalam hati yang bisa membuat mereka bertahan di ruang ujian. Hanya pasrah yang tersisa saat waktu habis dan lembar jawaban dikumpulkan.

Entah sejak kapan nilai-nilai moral yang diajarkan itu lenyap bersama proyek besar bernama ujian nasional. Entah sejak kapan kejujuran menjadi barang langka dalam ujian penentu kelulusan. Entah sejak kapan sekolah tutup mata akan praktik kecurangan, bahkan seolah dilegalkan. Yang penting siswa lulus.

Entah sejak kapan proses pendidikan hanya dihargai oleh selembar ijazah. Entah sejak kapan anak-anak Indonesia bersekolah hanya untuk membuat orangtua bangga dengan nilai-nilai yang tertoreh di atasnya. Entah sejak kapan pula pemuda-pemudi Indonesia melanjutkan kuliah di perguruan tinggi bergengsi hanya untuk mendapatkan gelar dan kesempatan kerja di perusahaan bonafid.

Sekolah telah lelah menanggung beban berat. Siswa yang tidak lulus, sekolah yang disalahkan. Siswa yang tidak becus dan liar, sekolah yang disalahkan. Padahal para guru telah berupaya keras untuk mendidik siswa secara menyeluruh. Itu saja sudah sangat melelahkan, belum lagi target gila yang datang setiap akhir tahun ajaran.

Apakah kita yang salah karena telah membebankan semuanya pada sekolah? Padahal pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, tanggung jawab orangtua dan lingkungan masyarakat. Bila siswa masih belum cukup paham, rasanya tidak salah bila orangtua meluangkan sedikit waktu untuk mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah, sembari memberi nasihat dan menumbuhkan semangat.

Apakah petinggi kita yang salah karena berambisi untuk menjadikan anak-anak Indonesia setara cerdasnya dengan anak-anak di luar negeri? Padahal tidak semua negara menjadikan ujian nasional sebagai penentu kelulusan. Padahal tidak semua daerah di Indonesia memiliki akses pendidikan yang merata, dengan guru-guru yang memadai dan buku pelajaran yang mutakhir. Para siswa yang malang ini terpaksa mengikuti ambisi beliau-beliau yang duduk di atas sana, mempertaruhkan masa depan lewat ujian nasional, yang katanya, bahkan tidak mewakili kurikulum yang diajarkan. Yang penting soalnya standar internasional.

Apakah seperti ini dunia pendidikan Indonesia yang dicita-citakan oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara, Bapak M. Sjafei, serta para pejuang pendidikan Indonesia yang telah mendahului kita?

Saya yakin jawabannya tidak.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga ke depannya kita memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai, melainkan juga soal kecerdasan akal, emosi, dan jiwa. Semoga ke depannya pendidikan bukan hanya untuk melejitkan manusia agar sukses di dunia, melainkan juga untuk membimbing manusia agar bisa mendapat tempat terbaik di surga-Nya kelak. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

Advertisements

One thought on “Sebuah Tulisan yang Terlambat Untuk Hardiknas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s