Belajar dari Kuba

elam kuba Upacara kelulusan mahasiswa ELAM, Kuba. Ramai sekali, bukan? (credit: www.ambassadors.net )

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Tadi sore, saya sempat menonton acara Bukan Jalan-jalan Biasa yang tayang di TVOne. Saya tidak menyaksikannya dari awal. Tiba-tiba saja layar menampilkan suasana kelas dalam proses belajar mengajar, kemudian sesi wawancara dengan mahasiswa Indonesia. Awalnya saya bingung, ini kelas mahasiswa atau pelajar sekolah, mengingat semuanya berbaju putih lengan pendek. Setelah mendengar wawancara dengan mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sana, barulah saya mengetahui bahwa mereka belajar di ELAM (Escuela Latinoamericana de Medicina) atau Sekolah Kedokteran Amerika Latin yang terletak di Kuba. Mendengar Kuba, hati saya bertanya-tanya, mengapa mereka memilih untuk kuliah di sana? Mengapa bukan di Jepang, Jerman, atau Amerika, atau negara-negara maju lainnya?

Perkiraan saya salah besar. ELAM merupakan salah satu sekolah kedokteran terbaik di dunia yang menampung mahasiswa terbanyak di dunia. Tak heran, populasi tenaga medis di Kuba sangat banyak dan mencukupi kebutuhan masyarakatnya akan pelayanan kesehatan. Kuba juga selalu mengirimkan tenaga medis dari negaranya ke negara-negara konflik atau negara yang sedang dilanda bencana. Pada bencana gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu, para tenaga medis dari Kuba juga turut membantu penanganan korban.

Ada tiga orang mahasiswa yang diwawancarai. Salah satu diantaranya sempat berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Andalas (karena itulah saya semakin penasaran), sementara dua orang lainnya berasal dari sebuah pesantren. Mereka tertarik mengikuti seleksi karena mendapat beasiswa penuh untuk kuliah kedokteran selama 7 tahun. (Sepertinya, untuk tahun pertama, mereka menerima pelajaran bahasa Spanyol). Dua tahun pertama, mereka mempelajari sains dan ilmu kesehatan, diselingi dengan praktik lapangan di poliklinik atau tempat praktik dokter. Setelah itu, mereka akan melakukan internship di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Yang uniknya, di ELAM, mahasiswa akan dites setiap minggunya, selain ujian di akhir setiap semester.

Beasiswa di ELAM mencakup biaya pendidikan, seragam, uang buku, makan tiga kali sehari, biaya tempat tinggal di asrama, bahkan mereka juga menerima uang saku sebesar 100 Peso (lima ratus ribu rupiah) setiap bulannya. Setelah saya melihat lebih dekat, baju putih yang mereka kenakan bukan kemeja, tetapi semacam jas lab pendek dan berlengan pendek pula.

11145132 Policlinico Nuevo Manzanillo, Kuba. (credit: ralcover)

Dari ELAM, kita beranjak menuju fasilitas kesehatan di Kuba. Seperti Indonesia, fasilitas pelayanan kesehatan di Kuba dibagi atas tiga, fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (untuk pelayanan dokter keluarga), tingkat kedua (mencakup pelayanan bedah dan pendidikan), serta tingkat ketiga (pelayanan yang lebih terspesialisasi). Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (disebut Poliklinik) ini ada di setiap kecamatan, jumlahnya bervariasi bergantung pada populasi di wilayah tersebut. Satu orang dokter keluarga melayani sekitar 300 orang kepala keluarga atau setara dengan kurang lebih 1000 orang penduduk. Poliklinik di sana tidak bisa disamakan dengan Puskesmas di negara kita, meskipun sama-sama terletak di setiap kecamatan. Pelayanannya sangat luas dan fasilitasnya lengkap. Bahkan ada alat USG dan alat fisioterapi untuk menunjang pemulihan pasien. Di poliklinik ini, mahasiswa kedokteran juga belajar langsung dari tenaga kesehatan yang bertugas di sana. Dan yang lebih kerennya lagi, semua pelayanan kesehatan bisa diakses oleh masyarakat tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeserpun.

Negara Kuba menganut paham sosialis-komunis. Seperti negara lainnya yang menganut paham serupa, Kuba awalnya tidak membuka diri terhadap dunia luar. Namun, saya salut dengan komitmen pemerintahnya untuk menyediakan akses pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakatnya dengan melengkapi fasilitas dan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak ada salahnya kita belajar dari mereka. Semoga suatu saat kelak, masyarakat Indonesia sehat dan tidak terhalang masalah biaya lagi untuk menerima pelayanan kesehatan. Aamiin.

[Info dari Wikipedia ini mungkin bisa membantu: http://en.wikipedia.org/wiki/ELAM_Latin_American_School_of_Medicine_Cuba ]

Advertisements

6 thoughts on “Belajar dari Kuba

  1. Assalamu’alaykum
    Mohon maaf sblmnya, saya Dicky asal Bandung saya sangat tertarik dengan kedokteran, saya berencana kuliah di luar negri apalgi di Kuba dengan kualitas terbaik dan gratis
    Saya mw tanya apa ada yg tahu informasi utk masuk ksna dan punya koneksi atau ada mahasiswa indonesia yg bisa di hubungi, saya sangat membutuhkan informasinya
    Kalo ada tolong hubungi saya ini alamat email saya dq.hantaturi@gmail.com
    terima kasih atas perhatiannya

    Like

  2. Asslmu’alaikum !! Sebelumnya, perkenalkan nama saya eva dari cianjur.. Saya lulusan tahun 2015, saya berminat ingin kuliah kedokteran tpi mslahnya biaya ya yg tidak mungkin sanggup keluarga saya membiayai, makanya aku pengen dapet beasiswa kedokteran, kaka tau gak gimana caranya? Dan bisa tidak kalau lulusan 2015 ikutan daftar di tahun 2015 . Terimakasih

    Like

    1. Wa’alaikumussalam, Eva, mohon maaf sebelumnya, saya kurang paham prosedur untuk memperoleh beasiswa di ELAM. Mudah-mudahan Allah memudahkan jalan untukmu. Semangat, ya!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s