#1: Kok Bukunya Nggak Dilahap Sampai Habis?

1373380267-1373380267_goodreads_misc Alasan-alasan yang dikemukakan para pembaca di Goodreads terkait kebiasaan meninggalkan buku yang sudah dibaca (credit: http://www.goodreads.com/blog/show/424-what-makes-you-put-down-a-book)

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Ada banyak alasan untuk membaca buku. Ada banyak alasan pula untuk meninggalkannya di tengah jalan.

Bagi saya pribadi, setiap buku yang saya baca haruslah dipertanggungjawabkan dalam arti membacanya hingga tuntas. Meskipun itu memakan waktu sehari, seminggu, sebulan, setahun, atau bertahun-tahun, rasanya ada yang mengganjal bila buku itu diabaikan. Hal ini tidak berlaku untuk semua buku, sih (salah satu karya J.D. Robb yang saya beli tahun 2010/2011 sampai saat ini belum selesai saya baca karena saya merasa tidak nyaman dengan deskripsi adegan yang terlalu vulgar). Namun, untuk buku-buku lain, alhamdulillah bisa saya baca hingga selesai, meskipun memakan waktu hampir dua tahun untuk The Kite Runner (padahal bukunya bagus) atau salah satu novel konspirasi terbitan Bentang Pustaka, The Jacatra Secret (bukunya tidak membosankan, menurut saya). Contoh lainnya adalah Kim/Kimi yang baru saya selesaikan Maret ini padahal bukunya tipis (iya, sih, ditulis dalam bahasa Inggris) atau Snow Country yang perlu memakan waktu bulanan padahal sudah dalam bentuk terjemahan (dan bukunya juga cukup tipis).

Sekarang, saya sedang membaca The Cuckoo’s Calling dan lagi-lagi saya akui progress-nya cukup lambat. Semoga bisa selesai setidaknya akhir Juli.

Alasan yang menyebabkan saya tidak dapat menyelesaikan buku yang dibaca antara lain:

1. Buku yang bersangkutan memuat hal-hal yang bertentangan dengan prinsip saya (misalnya sentuhan yang berlebihan antara sepasang kekasih yang belum menikah, LGBT, kata-kata kasar yang berlebihan, atau deskripsi vulgar).

2. Plot yang membosankan

3. Narasi yang kaku

4. Kesalahan pengetikan

5. Jadwal yang sempit

6. Tidak mood

Di antara enam alasan tersebut, yang paling potensial untuk menggoyahkan niat saya adalah alasan pertama. Tidak masalah penceritaannya kurang mengalir atau ada salah-salah ketik, tetapi kalau sudah melewati batas toleransi saya untuk hal-hal ‘dewasa’ tersebut, saya terpaksa angkat bendera putih. Terserah bila orang-orang menilai buku tersebut bagus atau menakjubkan, saya tidak bisa memaksakan diri untuk membacanya karena buku tersebut bukan ‘makanan’ saya. Masa’ kelinci mau dikasih makan daging? Wong giginya seri semua, nggak ada taring untuk mencabik-cabik makanan yang liat. Yah, kira-kira seperti itulah analoginya.

Bagaimana dengan para pembaca sekalian? Apakah lebih suka mengabaikan buku yang tidak menarik atau tetap membacanya sampai selesai?

*****

Tulisan ini didedikasikan untuk proyek 30 Days of Unstoppable Ideas.

Terinspirasi dari proyek #100 Learning Days yang diposting salah seorang anggota komunitas Palanta di grup Facebook. Bedanya, proyek ini lebih bebas, tidak harus berupa tulisan mengenai proses pembelajaran sesuatu yang baru, yang penting mengangkat tema yang berbeda setiap harinya. Tidak harus panjang atau pendek, yang penting ada tulisan yang dipublikasikan.

Dengan adanya proyek ini, semoga saya bisa konsisten menulis setiap hari.

Ngomong-ngomong, bila ada rekan narablog yang ingin bergabung dalam proyek ini, silakan. Kabari saya, ya 🙂 .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s