[Sing-Movie] I Not Stupid Too

I_Not_Stupid (credit: http://asianwiki.com/I_Not_Stupid_Too. Informasi terkait film ini bisa dilihat di situs tersebut)

Tom adalah seorang siswa sekolah menengah di Singapura yang berbakat dalam bidang blogging. Sementara itu, adiknya, Jerry, tidak terlalu memiliki bakat istimewa, tetapi mendapat kepercayaan untuk menjadi pemeran utama di pertunjukan sekolah. Kedua orangtua mereka sangat sibuk, bahkan hanya untuk sekadar mengangkat telepon dari mereka dan mendengarkan anak-anaknya.

Di sisi lain, Cheng Cai, teman sekelas Tom, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya yang hidup di lingkungan yang keras, tidak bisa menunjukkan kasih sayangnya selain dengan bentakan dan pukulan. Cheng Cai diam-diam berlatih bela diri, tetapi ayahnya sangat marah begitu mengetahui anak lelakinya itu memiliki keinginan lain selain belajar.

Guru Fu kehabisan akal. Meskipun kebanyakan siswanya berdarah Tionghoa, tetapi nilai bahasa Cina mereka selalu rendah. Siswa-siswa itu merasa mempelajari bahasa Mandarin tidak penting karena toh, mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Belum lagi masalah disiplin yang mengemuka di kelasnya. Sang guru bertanya-tanya, apakah ia masih pantas menjadi guru di sekolah itu?

*****

“Kapan kau terakhir kali menerima pujian?” (Jerry)

I Not Stupid Too merupakan sekuel dari I Not Stupid yang dirilis tahun 2002 yang juga diperankan oleh beberapa karakter yang sama, di antaranya  Shawn Lee (Tom) dan Joshua Ang (Cheng Cai), Jack Neo (ayah Tom dan Jerry), dan Yun Xiang (ibu Tom dan Jerry) .

Awalnya, film ini terasa lucu. Mungkin karena saya baru mendengar Singlish (bahasa Inggris dialek Singapura), jadinya agak aneh. Juga karena ulah anak-anak sekolah menengah dan kepolosan anak-anak sekolah dasar. Namun, makin lama makin sedih, dan akhirnya saya meneteskan air mata juga.

Akting para pemainnya cukup baik dan alami. Saya kurang tahu juga apakah bisa disebut luar biasa, mengingat ini bukan film yang menuntut para pemainnya untuk berperan menjadi orang yang sangat jahat atau memiliki karakter ekstrim lainnya. Namun, rasanya tidak ada salahnya mengacungkan jempol untuk para aktor dan aktris dalam I not Stupid Too ini. Karakter favorit saya adalah Cheng Cai, entah mengapa dia terlihat keren sekali :). Mungkin karena raut wajahnya yang keras dan perannya sebagai sahabat yang baik untuk Tom. Mau berkorban (bahkan terkesan mengorbankan diri) agar Tom tidak terlibat masalah. Tom sendiri, terkesan suram dan sedikit melankolis. Karena tidak juga mendapatkan pelampiasan untuk perasaannya yang bercampur aduk, dia malah melarikan diri ke dalam pergaulan yang kurang baik. Sebagai blogger dan anak pertama, saya sedikit banyak merasakan apa yang ia rasakan. Lalu, Jerry, sebagai narator, sukses memerankan anak-anak yang lugu, tetapi juga memiliki sisi dewasa. Dia tidak dendam kepada kakaknya walaupun Tom sering memperlakukannya dengan tidak baik. What a lovable lil bro :).

Pengambilan gambarnya menarik, tidak monoton, dan pas untuk menggambarkan adegan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada beberapa adegan yang didramatisasi di bagian akhir, mungkin agak terkesan berlebihan dan klise, tetapi saya menikmatinya.

Musik latar yang menjadi pengiring beberapa adegan di film ini terasa pas. Di beberapa bagian volumenya mendominasi, tetapi tidak menjadi masalah karena digunakan untuk mengisi adegan yang bisu atau hampir bisu. Saya pribadi menyukai musiknya, terutama lagu yang juga dimainkan di bagian credit.

Film ini mengangkat realitas yang terjadi di kehidupan masa sekarang (meskipun sudah ditayangkan sejak 2006). Masalah pendidikan, masalah keluarga, masalah interaksi dengan masyarakat. Para orangtua merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan material anak-anak mereka. Padahal, anak-anak lebih membutuhkan dukungan dari orangtua. Mereka ingin didengarkan, mereka ingin dihargai, bukannya dimarahi dan dibentak tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasan mereka. Tidak semua anak bisa berprestasi di bidang akademik, maka selayaknya orangtua juga menyadari bakat anaknya agar bisa dikembangkan.

Tom yang berbakat di bidang blogging, justru diremehkan oleh orangtuanya sendiri. Mereka menganggap blogging itu sia-sia, buang-buang waktu. Seperti juga Jerry yang kemampuan akademisnya pas-pasan. Ia mengajak orangtuanya untuk menghadiri pentas, tetapi justru diabaikan dengan alasa kesibukan. Ayah Cheng Cai melarang anaknya untuk menekuni bela diri, padahal Cheng Cai tahu, ayahnya juga menguasai bela diri.

Anak-anak yang tidak mendapat dukungan dari keluarga akan kehilangan arah. Mereka mencari teman-teman sebaya yang dianggap bisa menerima mereka, padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Demikian juga para guru yang sebaiknya tidak mengecap anak didiknya dengan kata-kata negatif. ‘Tidak punya masa depan’, ‘tidak berguna’, ‘bodoh’, dan sebagainya. Julukan itu akan menjatuhkan semangat para siswa, alih-alih membuat mereka sadar akan kekurangan dan mencoba memperbaikinya.

Setelah menonton film ini, saya semakin menyadari bahwa dalam mendidik anak, orangtua dan guru harus memperhatikan sisi positif dari anak tersebut, bukan hanya mencari kesalahannya. Dengarkan mereka, cari tahu duduk permasalahan sebelum menentukan tindakan yang tepat, apakah memberi hukuman atau hanya nasihat. Sebagai anak pun, sebaiknya kita juga mengerti dengan kemauan orangtua. Jangan membantah tanpa mendengarkan. Bila keinginan kita dihalangi, tidak ada salahnya untuk bernegosiasi dengan mengemukakan alasan-alasan yang masuk akal.

Semoga bermanfaat dan selamat menonton :).

“Berikanlah lebih banyak pujian. Lihatlah sisi baik seseorang. Apakah itu sulit?”” (Jerry)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s