#3: Buanglah Sampah Pada Tempatnya

free-vector-trash-bin-sign-clip-art_103617_Trash_Bin_Sign_clip_art_hight 

Do not litter (credit: http://4vector.com )

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Kalimat himbauan tersebut tentunya tidak asing lagi bagi kita. Di sekolah, kantor, universitas, bahkan pada bungkus makanan pun ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya bisa ditemukan dengan mudah. Yang punya kesadaran akan pentingnya memiliki lingkungan bersih tanpa ragu akan mematuhinya. Yang apatis, ya peduli amat, wong ini bukan rumah saya. Yang oportunis, lihat-lihat situasi dan kondisi. Kalau ketemu tempat sampah, ya dibuang pada tempatnya. Kalau kepepet mau buang bungkus permen, tetapi tidak ada tempat sampah di angkot, ya terpaksa buang lewat jendela.

Oke, anggaplah kita semua sudah membuang sampah pada tempatnya. Pekerjaan para petugas kebersihan pun menjadi lebih ringan. Namun, apakah masalahnya selesai begitu saja?

Tidak, karena sampah yang kita buang masih bercampur aduk. Di dalam satu kantong kresek, ada kertas koran pembungkus gorengan, ada cabe rawit sisa, ada sisa permen karet, ada gelas air mineral bekas. Nah lho, itu ada bahan yang bisa hancur di dalam tanah, ada juga yang sukar. Kerjaan ekstra lagi deh untuk memisahkan sampah sesuai sifat-sifat bahannya.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, di luar negeri, pengelolaan sampah sudah lebih maju. Jepang, misalnya, sudah memberlakukan ketentuan bagi warganya untuk memisahkan sampah sesuai bahan penyusun. Misalnya plastik sama plastik, kertas dengan kertas. Bahkan, untuk membuang minyak goreng bekas saja, ada semacam bahan khusus yang digunakan. Bahan tersebut, bila ditambahkan ke dalam minyak, akan membuat minyak memadat hingga mirip gel. Gel inilah yang kemudian dibuang. Jadi bukannya dituang ke wastafel, ya? 😉

Saya pribadi sih pengennya seperti itu. Sampah-sampah dipisahkan bukan saja supaya lebih mudah diproses, tetapi juga memudahkan untuk memilah barang yang masih bisa digunakan kembali. Ingat 3R, ‘kan? Reduce, Reuse, Recycle. Pertama, kurangi pemakaian barang sekali pakai agar sampah tidak menumpuk, misalnya membawa tas belanja sendiri dari rumah. Kedua, gunakan kembali barang yang masih bisa digunakan, misalnya kotak sepatu bekas digunakan untuk menyimpan album foto. Dan yang terakhir, daur ulang, misalnya kertas-kertas bekas dihancurkan untuk diolah menjadi kertas lagi. Atau botol kaca bekas dan pecahan beling dilelehkan, kemudian dibuat menjadi kerajinan dari kaca.

Mudah, ‘kan? Kedengarannya sih begitu. Kenyataannya, saya masih sering mencampurkan beberapa sampah dengan kategori berbeda dalam satu kantong kresek untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Soalnya, tidak semua tempat sampah ‘mengharuskan’ kita untuk memilah barang yang akan dibuang, ya, nggak? Serba salah jadinya.

Ngomong-ngomong, saya pernah menonton suatu acara di televisi swasta, ada tempat pengolahan sampah yang bisa memproses segala jenis sampah dengan cara dibakar. Katanya sih efisien, apalagi di Indonesia yang belum mewajibkan semua warganya untuk memilah sampah. Dari proses tersebut, bisa dihasilkan minyak dan padatan yang kemudian bisa digunakan kembali, misalnya untuk bahan bakar. Wah, canggih, ya? Tetapi, bagaimana dengan emisinya?

Ada yang punya saran, nggak, untuk membuat lingkungan kita bebas sampah? Silakan berbagi di kolom komentar, ya. Ditunggu, lho :).

Advertisements

One thought on “#3: Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s