#6: Putih

whitening-lotion-a02 Ayo, pakai ini biar putih. (credit: www.inkstudionspa.com )

Bismillahirrahmaanirrahiim…

“Katanya, ini bisa bikin putih.”

Kurang lebih demikian yang disampaikan oleh seorang aktris di sebuah iklan lotion pemutih kulit. Terlahir di Indonesia yang beriklim tropis dengan sinar matahari yang melimpah, membuat sebagian besar perempuan Indonesia berkulit sawo matang. Dan seperti kata pepatah “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”, maka demikian pula yang dirasakan oleh para perempuan Indonesia ketika melihat saudara-saudaranya dari belahan dunia lain yang berkulit kuning atau malah putih bak porselin. Mereka tampak lebih cantik dan menawan. Pola pikir seperti itu tak lepas dari pengaruh media, salah satunya melalui iklan kosmetik yang menampilkan wanita-wanita berkulit putih. Padahal, di belahan bumi utara sana, perempuan berkulit sawo matang justru jarang ditemui sehingga dianggap istimewa. Tak jarang mereka justru menginginkan kulit yang lebih gelap nan eksotis. Berbanding seratus delapan puluh derajat dengan kita yang ingin tampak lebih putih.

Padahal Allah SWT sudah menciptakan manusia sesuai dengan kondisi lingkungan tempat  tinggalnya serta menetapkan aturan-aturan yang sebenarnya menguntungkan kita. Melanin, pigmen yang sering dituduh sebagai penyebab kulit gelap, sebenarnya berperan dalam melindungi kulit dari sinar ultraviolet. Selain itu, pemaparan berlebih terhadap sinar matahari juga bisa dihindari dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat dan mengenakan tabir surya di bagian tubuh yang tidak disyaratkan untuk ditutup.

Coba ingat-ingat lagi. Iklan lotion pemutih kulit, selalu menampilkan model yang berpakaian terbuka. Mengapa? Karena mereka yang berpakaian terbukalah yang rentan dengan paparan sinar ultraviolet yang luas. Atau kasarnya, ngapain harus berpakain tertutup kalau pengen memakai lotion pemutih? Percuma, dong? Mereka lalu menggunakan produk-produk tersebut yang mengklaim bisa mencerahkan kulit hingga beberapa tingkat dalam waktu singkat. Bukan hanya itu, lotion tersebut juga mengandung tabir surya dengan bilangan SPF (sun protection factor)  yang tinggi. Semakin tinggi angkanya, semakin kuat pula daya proteksinya terhadap efek buruk sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Dengan demikian, mereka memilih untuk menggunakan tabir surya yang tak kasat mata alih-alih mengenakan pakaian tertutup. Padahal semua orang tahu, untuk melindungi lauk ikan goreng dari kucing, lebih baik menyimpannya di dalam lemari daripada menutupi ikan goreng tersebut dengan plastik cling wrap kemudian membiarkannya terletak begitu saja di atas meja makan. Mengapa prinsip sederhana itu tidak diterapkan di dalam kehidupan kita? Apakah selama ini kita telah dibodohi oleh iklan yang meyakinkan kaum perempuan bahwa tidak masalah berpakaian minim di bawah terik matahari tropis asalkan menggunakan lotion pemutih?

Memang, kita harus menjaga diri sendiri, tetapi bukankah kecantikan tidak hanya diukur dari fisik? Apakah cantik harus berarti putih? Apakah kalau tidak putih berarti tidak cantik?

Saya pikir jawabannya adalah tidak. Bagaimana menurut para pembaca?

Artikel mengenai melanin yang dapat bertindak sebagai tabir surya dapat dibaca di sini: http://archderm.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=546435

This opinion is not purposed to judge what the models or other woman have done, but as a reminder for me and for us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s