#8: Akal dan Naluri

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Minggu lalu, saya sempat menonton sebuah acara kompilasi video di salah satu saluran televisi swasta. Tema yang diangkat adalah hewan-hewan penolong. Mungkin bukan tema yang baru, bahkan contoh nyatanya bisa kita lihat sendiri. Namun, tetap saja, saya menganggapnya sebagai sesuatu yang menakjubkan.

Ada kisah keberanian kerbau liar di Afrika untuk menyelamatkan temannya dari amukan cheetah. Kemudian kisah heroik seekor anjing yang rela merenangi sungai untuk menyelamatkan dua temannya yang terapung di atas perahu. Lalu, lagi-lagi kisah keberanian kawanan kerbau liar untuk menyelamatkan seekor sapi dari serangan singa. Setelah itu, kisah sedih seekor kuda nil yang meskipun berhasil menolong seekor anak impala dari buaya, tetapi impala kecil itu tidak bisa terselamatkan.

Hati saya berdesir menyaksikannya. Namun, yang lebih membuat saya tersadar adalah komentar sang narator:

Hewan yang hanya dibekali naluri saja bisa menolong kawannya, apalagi manusia yang diberikan akal oleh Tuhan.

Rasanya saya menjadi malu, mengingat betapa kecilnya sumbangsih yang telah saya lakukan untuk sesama. Pembantaian di mana-mana, saudara-saudara kita yang fakir yang harus menapaki hidup dengan susah payah.

Dan saya di sini masih diam, hanya bisa menumpahkan rasa dalam kata.

Ampuni saya, Ya Allah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s