#14: Question Mark

Bismillahirrahmaanirrahiim…

I watched an Indonesian movie titled ‘Tanda Tanya’ several days ago. Just like its title, I keep asked to myself during watching. Why the muslimah wearing veil says ‘Assalamu’alaikum’ to people outside Islam? Why should she worked on a stall which sells foods containing pork (even though it sells halal food and the cooking utensils used are totally different)? Why a Muslim should try to broaden his experience in acting by acted as the Jesus in Christian drama? Why Muslims are portrayed as the brutal and rude one, meanwhile the non-muslims portrayed as the good and kind people?

I know, there are Muslim and Muslimah whose acts do not reflects their religion, but, that’s not a reason to make a movie which could be mistakenly understood as a proof that Islam allows us to act immoral, speaks rude, and cannot tolerate everyone outside Islam. Islam teach us to tolerate, but not to confusedly mixed this and that religion.

The ending was a little bit relieving, but still, I could not recommend that movie to you.

And when I saw credit, I know why the movie was like that. My guessing was true :).

Sorry, I did not mean to touch sensitive subject. I know that I do not have right to judge what people do. Just try to burst my opinion out of my mind.

Advertisements

5 thoughts on “#14: Question Mark

  1. saya rasa film itu mengandung makna harmoni dalam perbedaan agama, yaa muslim yang baik pasti tau bagaimana cara memperlakukan orang lain yang bukan muslim. itu hanya sebagai cerminan bagaimana seharusnya menyikapi dalam perbedaan. terlebih ketika sang suami malah mengorbankan dirinya meledak bersama bom demi menyelamatkan umat katolik yang sedang ibadah. sungguh itu sangatlah mengharukan untuk sebuah pengorbanan 🙂

    Like

    1. Terima kasih atas komentarnya 🙂

      Ya, di beberapa bagian, film itu memang mengandung makna harmoni. Namun, di beberapa bagian lagi, film ini seperti menunjukkan bahwa hilangnya identitas muslim adalah hal yang wajar, dari yang ekstrem (murtad), bekerja di tempat yang, entahlah, saya merasa itu bukan pilihan terbaik saja. Bukan bermaksud menghakimi, sih, hanya saja, bukankah lebih baik bekerja dengan menjaga batas-batas. Di film ini, seolah hilangnya identitas seorang muslim, selagi bermanfaat bagi lingkungannya, selagi mampu membawa lingkungan yang harmonis, dan ‘toleran’ bukanlah masalah. Padahal muslim tidak hanya bertanggung jawab terhadap manusia, melainkan juga terhadap Allah SWT.

      Saya khawatir bila film ini ditonton oleh mereka yang pikirannya masih belum matang, akan terjadi keraguan. Namun saya sependapat dengan sikap sang suami di bagian akhir film itu. Film ini banyak membuat saya bertanya-tanya di awal, tetapi, bagian akhirnya cukup melegakan, seperti sikap yang ditunjukkan oleh Hendra dan Soleh itu.

      Like

    1. Mungkin, tetapi mustahil juga pembuat film mau menambahkan tulisan seperti itu 🙂 paling2 lembaga sensor yang melakukannya atau diedarkan secara terbatas. Yap, saya juga terharu dengan bagian itu (meskipun tidak sampai menitikkan air mata juga, sih) 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s