#25: Saling Mengerti

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Tadi sore, saat menumpang angkutan kota, saya menyaksikan pemandangan yang kurang enak. Bukan mengenai seseorang yang membuang sampah sembarangan, bukan pula tentang pemuda yang merokok seenaknya. Melainkan tentang seorang penumpang yang berselisih dengan sang supir terkait ongkos yang dibayarkan. Sang supir mengatakan bahwa ongkosnya kurang, sedangkan penumpang sepertinya kurang bisa menerima. Akhirnya, sang penumpang menambahkan sejumlah uang, tetapi agaknya cara yang digunakan membuat sang supir merasa terganggu.

Insiden serupa bukannya sekali ini saja saya saksikan, melainkan sudah beberapa kali. Ada penumpang yang arif dan mengakui kekhilafannya, ada supir yang terkesan memaksa, ada penumpang yang merasa terpaksa, dan sikap-sikap lainnya yang berbeda. Terkadang kesepakatan tidak tercapai lalu kedua belah pihak saling merasa dirugikan. Namun, saya rasa, hal itu bisa dihindari dengan mencoba untuk saling mengerti dan menyikapinya dengan sabar. Misalnya, sang supir mungkin bisa mengutarakan keberatannya dengan nada yang lebih halus sehingga tidak terkesan menyerang. Sang penumpang pun, seandainya memang bermasalah dengan keuangan, bisa mengutarakan permasalahannya pula dengan baik. Memang tidak mudah untuk sabar, seperti kata pepatah:

“Sabar itu pahit melebihi empedu, tetapi buahnya manis melebihi madu.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang sabar. Aamiin…

Semoga bermanfaat. Bila ada kesalahan, mohon diluruskan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s