#26: Suryakanta

Bismillahirrahmaanirrahiim…
Kadang diri ini sibuk menenteng suryakanta ke mana-mana, mengamati segala sesuatu, bahkan benda-benda renik sekalipun. Ah, tempat itu kotor, barang itu kumuh, si K ternyata bukan orang yang baik, si B ternyata pandir.

Kadang diri ini merasa bangga bisa menemukan kekurangan orang lain yang tersembunyi di ceruk-ceruk sempit nan tak kasat mata. Lalu, tanpa sadar bergumam, ah, aku sepertinya lebih baik daripada mereka.

Astaghfirullahal’azhiim

Duhai diri nan hina, apakah yang hendak kau sombongkan? Bahkan serpihan daki yang melekat pada permukaan tubuhmu saja bukan kau yang memilikinya.

Masih berbanggakah kau dengan suryakanta yang kau bawa ke manapun kau berada?

Lupakah kau dengan cermin besar berdebu yang terlupakan di sudut kamarmu? Ah, kau pastilah terlalu sibuk dengan obyek observasimu itu, sehingga lupa untuk bercermin dan menelisik lapis demi lapis dirimu , satu persatu.

Mungkin kau tak tahu bahwa hatimu penuh noda, keras, dan menghitam. Mungkin kau lupa bahwa hanya cerminlah yang bisa membantumu untuk menyadarinya, bukan suryakanta yang selalu kau banggakan.

Astaghfirullahal’azhiim…
Ampuni hamba ya Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s