Jangan (Sembarang) Menulis

01 Menulis atau mengetik? (via http://seo-bird.blogspot.com )

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Menulis barangkali bukan hal yang asing bagi kehidupan masyarakat modern. Meskipun pada kenyataannya, peran pena dan kertas telah digantikan oleh komputer, tetapi, selama melibatkan kegiatan olah pikiran untuk menghasilkan suatu tulisan baru maka tetap saja, namanya adalah menulis. Apalagi, sejak penggunaan internet makin meluas, tulisan yang kita buat bisa dibaca oleh banyak orang, tanpa harus menunggu antrean di media cetak.

Di satu sisi fenomena ini bagus. Masyarakat menjadi semakin sadar bahwa menulis merupakan salah satu cara untuk berbagi, baik berupa ilmu, pengalaman, kata-kata bijak, hingga fiksi. Tak jarang, karya yang diterbitkan secara online itu memiliki sejumlah penggemar, bisa satu-dua, belasan, puluhan, bahkan ratusan orang atau lebih. Dari sini, bukannya tak mungkin bila seorang penulis mendapatkan kesempatan untuk memperluas segmen pembacanya melalui buku, majalah, dan sebagainya.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anak muda pun ikut tertular fenomena menulis. Mereka terinspirasi karya penulis favoritnya, atau tulisan seseorang yang biasa-biasa saja, lalu mencoba untuk menulis hal-hal yang menarik bagi mereka. Di sinilah letak permasalahan yang sering terjadi. Tak semua hal yang mereka lihat di internet itu patut ditiru.

Bila sebuah tulisan mengandung banyak kata-kata kasar, atau adegan asusila, bahkan tindakan kriminal, apakah itu juga layak ditiru hanya dengan alasan ‘menarik’ dan/atau ‘menantang’?

Dunia ini keras, Bung!”

Lalu apakah perlu dunia ini diperburuk lagi oleh tulisan-tulisan yang negatif? Bukankah dunia yang keras dan penuh kriminalitas itulah alasan kuat untuk membuat tulisan yang bernilai positif?

Saya mungkin bukan pakar dalam kepenulisan, tetapi saya cukup lama mengamati tulisan-tulisan yang berada di dunia maya. Memang tidak semua tulisan jauh dari kebaikan, tetapi, ada, ada yang agaknya lupa atau belum tahu bahwa menulis di dunia maya bukan sekadar untuk konsumsi pribadi, melainkan juga untuk konsumsi masyarakat pengakses internet, termasuk para anak muda yang sering menjelajahi dunia maya.

Tak heran bila sebagian mereka menganggap dunia maya sebagai dunia yang bebas dan tidak mengenal larangan. Dunia tempat mencari privasi, untuk pelarian sejenak dari masyarakat yang senang menilai dan menghakimi. Di balik akun anonim, mereka membuka topeng dan menulis semaunya, membebaskan ego-ego mereka mencuat ke permukaan. Ini, jujur saja sangat meresahkan, karena tak kelihatan dari luar tetapi justru mengakar di dalam.

Mau sampai kapan para generasi muda ini kehilangan tuntunan? Sampai kapan kita membiarkan mereka mencari jati diri sendiri, dengan alasan usia yang sudah akil baligh?

Saya memang belum sempurna, tetapi saya akan mencoba untuk tidak sembarang menulis. Karena ada jutaan pasang mata di luar sana yang mungkin saja mengakses tulisan saya sekarang atau kelak di masa depan. Saya tidak pernah tahu seperti apa dampak tulisan saya pada para pembaca. Syukur-syukur bisa berdampak positif bagi mereka.

Jadi, mari menulis dengan bertanggung jawab 🙂 mari sebarkan kebaikan dengan menulis 🙂

 

***

(Terinspirasi tulisan Kak Dista. Untuk mengetahui opininya mengenai tulisan yang baik, khususnya fiksi, silakan baca di sini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s