Things that Left from Kota Kinabalu [Bagian 1]

Bismillahirahmaanirrahiim…

Ceritanya, saya yang belum pernah melancong ke luar negeri ini berkesempatan untuk melakukannya pekan lalu. Dalam rangka jalan-jalan? Bukan, tentu saja. Saya berpartisipasi dalam Kongres FAPA (Federation of Asian Pharmaceutical Association = Federasi Asosiasi Farmasi Asia) ke-25 yang dilaksanakan pada 9-12 Oktober di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Pada acara tersebut, saya akan mempresentasikan hasil penelitian saya secara lisan di hadapan orang-orang. Membayangkannya saja sudah membuat perut mulas, haha :D.

Jujur saja, malam sebelum keberangkatan adalah momen yang paling menegangkan bagi saya. Rencananya, dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas, ada 3 orang yang berangkat: Ibu Prof. Armenia (pembimbing saya), Da Yori, dan saya sendiri. Namun, ada masalah terkait dokumen perjalanan pembimbing saya, sehingga kami harus berangkat berdua. Oke, hilang sudah semua bayangan saya tentang perjalanan yang menyenangkan (karena pembimbing saya yang sudah berpengalaman dalam hal perjalanan ke luar negeri). Saya tidak bisa membayangkan betapa canggungnya suasana yang akan saya hadapi beberapa hari ke depan (Da Yori adalah senior saya dan kecerdasannya selalu membuat saya terintimidasi :D). Namun, bukan hal itu yang paling dicemaskan karena biasanya saya tidak punya masalah untuk berada di lingkungan baru, melainkan kemungkinan bahwa saya harus menggantikan Bu Armenia untuk presentasi. Dobel presentasi dalam bahasa Inggris, sepertinya tidak bisa dibilang mudah.

Jadi, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, saya akan dijemput di depan kos pukul 06.15 pagi. Saya terlambat beberapa menit (memalukan), tapi mau bagaimana lagi, koper yang saya bawa cukup berat dan ada sekian alasan pembenaran lain yang bisa saya pikirkan. Meminta maaf kepada pembimbing saya adalah hal yang saya lakukan waktu itu. Dan setelah itu, saya menempati posisi yang kosong di jok belakang dan tidak bicara kecuali bila ditanya. Yah, memang saya biasanya seperti itu, sih.

Kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau kurang lebih pukul 07.00 (atau kurang? maaf, saya lemah dalam mengingat hal detil). Setelah pamit dan mengucapkan salam, saya mulai merasa deg-degan karena saya, selain belum pernah ke luar negeri, juga tidak pernah lagi naik pesawat setelah tahun 2012, bahkan untuk perjalanan domestik sekalipun. Menyedihkan, ya? Jadilah saya mengikut saja daripada salah. Kami masuk ke bandara untuk check-in dan antre di konter AirAsia, maskapai yang kami gunakan jasanya untuk terbang ke Malaysia. Once again, I would say, that he did all the administrative stuff and I just followed at behind. Setelah check-in selesai dan bagasi sudah diserahkan, kami naik ke lantai dua untuk membayar jasa transportasi udara (Rp 100.000,00 untuk penerbangan internasional) dan selanjutnya menuju bagian imigrasi (untuk pengecekan paspor). Tidak terlalu sulit untuk bagian ini, tetapi dengan bodohnya saya ke luar dari area imigrasi karena mengira ruang tunggunya tidak jauh dari ruang tunggu penerbangan domestik. Setelah mematung di sana selama beberapa menit, saya kembali ke belakang dan menemukan bahwa tempat pemeriksaan sinar X ada di belakang bagian imigrasi. Silakan tertawa :D. Saat pemeriksaan, saya baru menyadari kesalahan konyol lainnya, yaitu membawa minuman ke dalam kabin. Penumpang diminta untuk menghabiskan minumannya (bila mungkin) dan apa yang terjadi bila yang saya bawa adalah minuman jus jeruk alih-alih air? Ini bukannya saya tidak ketahui sebelumnya, karena dari riset kilat yang saya lakukan melalui internet, saya tahu persis mengenai pembatasan barang bawaan berbentuk cair untuk penerbangan internasional. Namun, saya mengalami miskalkulasi karena harusnya minuman itu bisa saya habiskan sebelum berurusan dengan imigrasi. Saya menenggak isinya sebanyak 1/3 atau 1/4 botol dan terpaksa meninggalkannya di bak sampah. Pemeriksaan sinar X bisa dilewati tanpa kendala dan kami bisa duduk dengan tenang di ruang tunggu. Ternyata, kami bertemu dengan salah seorang dosen Fakultas Farmasi yang membawa mahasiswa Keperawatan dan staf dosen lain ke Malaysia untuk pertukaran mahasiswa. Sedikit salam, sapa, dan obrolan mengisi waktu kami saat itu. Pembicaraan selanjutnya tidak saya ikuti dengan baik karena saya bukan bagian dari staf (jadi tidak akan nyambung juga).

Setelah itu, ada sedikit insiden. His name was called at that time and I was anxious whether I would be called too. Ternyata panggilan itu berkaitan dengan masalah nama yang tertera di tiket (ada 3 orang) padahal yang berangkat hanya 2 orang. Syukurlah. tidak ada masalah lebih lanjut dan kami bisa masuk ke kabin sesuai waktunya.

Pertama kali melihat pesawat AirAsia dengan logo bendera Malaysia lalu kru kabin yang bukan WNI, serta pengumuman yang disampaikan dalam bahasa Melayu dan bahasa Inggris membuat penerbangan ini terasa berbeda dan spesial. Mungkin saya berlebihan, ya? Singkat kata, kursi di dekat jendela yang harusnya untuk Bu Armenia ditempati oleh Da Yori dengan perjanjian yang semi-sepihak. Ya sudahlah, saya juga tidak masalah duduk di manapun asalkan masih di kursi.

Saya menemukan istilah baru waktu itu: tali keledar (safety-belt = sabuk pengaman).

Pesawat pun lepas landas. Ada sensasi yang menegangkan saat pesawat yang awalnya berjalan dengan kecepatan biasa perlahan-lahan melaju kencang dan tiba-tiba saja melesat ke udara. Anda yang sudah biasa mungkin tidak merasakannya lagi. Dari jendela, saya bisa melihat pesisir barat Sumatera, lengkap dengan pantai, pohon kelapa, dan rumah-rumah beratapkan seng. Pesawat terus melaju ke atas sebelum akhirnya tidak ada lagi yang terlihat kecuali hamparan awan putih. Para awak kabin berkeliling menawarkan makanan. Sementara itu, kami mulai berbincang tentang banyak hal untuk mengisi waktu. Lebih tepatnya saya yang semacam diwawancarai dan sebagai gantinya saya memberikan sedikit umpan balik.

Perjalanan ke Kuala Lumpur tidak memakan waktu terlalu lama, sekitar 1 jam lebih beberapa menit (jika saya salah tolong koreksi). Saat daratan mulai terlihat, saya melihat perbedaan yang begitu jauh antara tata wilayah di Malaysia dan di Sumatera Barat (mungkin di Indonesia secara umum juga seperti itu). Lebih tertata dan tidak semrawut. Pesawat mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur (Kuala Lumpur International Airport 2) kurang lebih pukul 11 waktu setempat. Kami menurunkan barang-barang dari rak penyimpanan dan turun dari pesawat. KLIA2 sangat luas dan arsitekturnya modern. Saking luasnya, rasanya bisa tersesat bila tidak hati-hati.  Jarak antara Ruang Ketibaan (Arrival) dengan bagian Imigrasi dan pengambilan bagasi sangat jauh. Kami harus naik eskalator yang tinggi (err, saya tidak terlalu baik dengan eskalator), lalu membiarkan petugas mengecek paspor dan memeriksa sidik jari.

DSCF1944 Bagian Penuntutan Bagasi

Layar informasi menunjukkan bahwa untuk nomor penerbangan AK402, bagasi terakhir telah dikeluarkan. Namun demikian, kami tidak menemukan barang kami di sana. Hal yang sama juga dialami oleh rombongan dari Fakultas Keperawatan Unand. Untngnya, setelah menunggu selama beberapa menit, satu per satu koper dan barang lainnya meluncur di conveyer belt. Saya bergegas mengambil koper saya (yang untungnya masih utuh 🙂 ). Nah, sekarang masalahnya poster Da Yori yang dimasukkan ke bagasi tidak ditemukan di conveyer belt. Ternyata, untuk barang berukuran besar, pengambilannya dilakukan di bagian Bagasi Oversaiz. Sip, tidak ada masalah.

Nah, sekarang, kalau mau check-in untuk penerbangan selanjutnya, harus ke mana?

Setelah bertanya kepada petugas, ternyata kami harus naik lift ke lantai 3. Di sana, ruang check-in dibagi menjadi beberapa bagian yang diberi huruf abjad. Ada T, U, V, dan sebagainya. Pesawat kami berangkat pukul 14.25 dan setelah memeriksa nomor penerbangan di layar, ternyata check-in belum dibuka. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bisa. Kami melakukannya di bagian T, entah nomor berapa, saya lupa. Check-in selesai, setelah itu kami pergi ke bagian khusus untuk menyerahkan barang yang berukuran besar dan money changer untuk menukar uang. Saya deg-degan takut uang ataupun dokumen penting yang saya pegang hilang. Untungnya tidak. Dari uang sebanyak tiga juta rupiah yang saya pegang, diperoleh 738 Ringgit Malaysia. Cukup banyak, bukan?

IMG_20141008_112509 Suasana KLIA 2. Mereka yang tampak antre adalah mereka yang akan melakukan penerbangan internasional.

Karena jarak waktu dengan penerbangan selanjutnya masih lama, maka kami mencari tempat makan. Ada beberapa pilihan seperti Bumbu Desa, Mc Donald’s, KFC, dan Starbucks (ini sih tempat ngopi). Pilihan jatuh pada jaringan restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam gorengnya. Saya yang tidak terlalu gaul ini, jujur saja, tidak biasa untuk memesan di KFC. Jadi, setelah celingak celinguk melihat tampilan menu, saya memilih burger dan air mineral. Semuanya 9 Ringgit 20 sen. Murah, ya? Da Yori juga memesan makanan yang sama.

Setelah menghabiskan makanan, saatnya shalat Zuhur (dan menjamaknya dengan shalat Ashar). Saya tidak ikut, jadi menunggu saja di luar, lalu pergi ke toilet sebentar. Kemudian, kami pergi ke ruang tunggu untuk penerbangan domestik. Paspor diperlihatkan kepada petugas, lalu kembali melewati pemeriksaan sinar-X. Yang menggunakan ikat pinggang dan jam tangan harus melepasnya sebelum melewati detektor. Untungnya tidak ada masalah ketika itu 😀 dan kami bisa menunggu di ruang tunggu dengan tenang.

IMG_20141008_123528 Ruang tunggu penerbangan domestik

Beberapa saat menunggu, para penumpang diminta untuk masuk melewati pintu J8. Setelah itu, prosedurnya hampir sama: lihatkan paspor dan boarding pass, lalu masuk kabin. Kali ini, saya dapat giliran untuk duduk di dekat jendela.Yay!

Perjalanan KL-Kota Kinabalu (KK) cukup lama, memakan waktu 2 jam lebih 30 menit. Awalnya kami masih bisa ngobrol, lalu baca majalah (yang sama dengan majalah yang ada di pesawat sebelumnya). Namun lama-lama bawaannya pengen tidur. Awalnya saya sulit untuk tidur, selain karena belum mengantuk, juga cuaca yang tidak baik menyebabkan pesawat tidak bergerak mulus. Eh, ternyata mengantuk juga. Saya tidak tahu tertidur untuk berapa lama, karena beberapa kali saya terbangun. Akan tetapi, ketika benar-benar terjaga, saya bisa melihat awan dan sayap pesawat yang diguyur hujan. Kemudian pesawat mulai terbang dengan ketinggian yang lebih rendah. Saya bisa melihat lautan yang awalnya saya kira sebagai daratan tetapi ternyata tidak. Ada pulau-pulau dengan pantai yang indah serta beberapa bangunan yang sepertinya adalah resort. Pesawat lalu melayang rendah di atas daratan yang lebih besar dengan bangunan yang lebih banyak. Setelah itu, tiba-tiba saja saya melihat landasan dan pesawat pun mendarat dengan mulus. Alhamdulillah.

DSCF1958 Jangan tanya ini pulau apa. Saya tidak tahu.

Bandara Internasional Kota Kinabalu tidak sebesar KLIA2, tetapi bersih dan teratur. Kami duduk sambil menunggu bagasi. Di sini, tidak ada bagian khusus untuk pengambilan bagasi berukuran besar, jadi tidak perlu repot. Setelah membawa barang masing-masing, kami berjalan ke luar bandara. Hujan turun dengan derasnya dan saya tidak tahu transportasi apa yang digunakan untuk pergi ke hotel. Kami dengan pedenya berjalan dan mengabaikan tawaran para supir taksi. Setelah menunggu cukup lama, Da Yori pergi ke dalam bandara dan kembali dengan dua lembar tiket taksi di tangan. Baru tahu untuk memesan taksi harus dengan tiket juga. Akhirnya, kami naik salah satu taksi dan berangkat menuju hotel.

Hotel tempat kami menginap bernama Zara’s Boutique Hotel. Untuk ke sana, jarak yang ditempuh dari bandara sebenarnya tidak jauh, tetapi bangunan hotel itu terletak di ruas jalan yang berlawanan, sehingga harus memutar. Ongkos taksi yang kami tumpangi adalah 30 Ringgit. Kami diturunkan tepat di depan pintu masuk hotel, dan yeah, ini saat yang menegangkan sebenarnya.  Mengingat masalah penginapan saat perjalanan saya ke Bandung sebelumnya, bagaimana kalau seandainya tidak ada kamar yang tersedia? Oke, ini mungkin berlebihan. I let him spoke to the receptionist dan dengan membayar 650 Ringgit untuk 4 hari plus uang deposit, kami mendapatkan kunci untuk 1 kamar. Kuncinya berbentuk kartu, jadi saya yang agak udik ini cukup excited juga.

Tetapi, kenapa kamarnya cuma satu?

Oh, ternyata ada miskomunikasi. Saya sampai ngeri sendiri membayangkan bila seandainya tidak ada kamar kosong. Berarti harus menumpang di kamar lain (?). Kami melakukan prosedur yang sama dan dengan 650 Ringgit, saya mendapatkan kunci untuk sebuah  kamar di lantai 3.

Kamar kami terletak di lantai yang sama dengan jarak yang tidak jauh. Saya masuk ke kamar dan mengeluarkan beberapa perlengkapan dan pakaian yang penting untuk besok, kemudian bersiap-siap (untuk istirahat, sebenarnya). Namun, ternyata ada agenda makan malam waktu itu dan saya mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan (terutama uang dan paspor, karena itulah tanda pengenal saya selama di negara ini). Setelah siap, saya pergi ke kamar sebelahnya sebelah, dan mengetuk pintu (tidak sadar ada bel di sana). Kami turun dan menyepatkan untuk bertanya kepada resepsionis. Ternyata, di sepanjang jalan ini,  ada beberapa restoran dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Pilihan jatuh pada restoran Seri Malindo. Setelah menerima daftar menu dan duduk, saya memilih makanan. Kali ini saya yang ikut-ikutan memesan nasi goreng spesial (RM 8.00) dan air mineral. Cukup lama juga pesanannya datang. Pertama, ada semangkuk kecil kuah sup. Beberapa menit setelahnya baru nasi goreng spesial pesanan kami. Nasi goreng spesial yang dimaksud adalah nasi goreng dengan protein lengkap (daging sapi, daging ayam, udang, cumi-cumi) dengan sayuran beku (wortel dan kacang polong). Jangan bayangkan nasi goreng dengan warna kemerahan karena cabe merah, di sini, warnanya cenderung pucat sedikit kecoklatan. Untungnya enak, dan (terlihat) murah. Coba kalikan harganya dengan Rp 3.700,00. Murah, nggak? Tetapi, relatif sih. Saya baru sadar bahwa memegang uang ringgit membuat persepsi saya akan harga menjadi berubah drastis. Melihat angka 8 ringgit seperti melihat Rp 8.000,00.

Setelah selesai makan (entah karena posrinya yang cukup besar atau apa, tetapi saya lumayan kenyang), kami membayar pesanan. Kali ini uangnya dari dompet saya. Total harga yang harus dibayarkan adalah RM 20.00. Dan saya ditanya asal dan dibilang Indon. Rasanya gimana gitu dipanggil Indon. Tetapi, apa bedanya dengan memanggil Malay kepada mereka? Ah, sudahlah.

Dari restoran, kami berjalan menuju seven eleven. Lagi-lagi excited, maklum, jaringan toko serba ada yang seperti ini tidak ada di Padang, sih. Saya membeli snack, takut lapar, haha. Da Yori juga ada keperluan yang mau dibeli dan saya jadi bandar (maksudnya yang bayar, gitu). Kalau tidak salah semuanya RM 11 sekian sen.  Saya menyerahkan 2 lembar 10 ringgit, untung ada uang 2 ringgit dari Da Yori jadi uang kembaliannya tidak banyak . Awalnya kami mau membeli kartu SIM, ternyata yang ada di sana mereknya berbeda dengan nama provider yang dikatakan oleh supir taksi dan resepsionis, dengan harga RM 5.00 untuk perdana dan top-up minimal RM15.00. Tidak jadi, deh.

Setelah kembali ke hotel, kami menyempatkan diri untuk menikmati akses internet di lobi (yang diproteksi dengan password, dan lebih kencang kecepatan aksesnya). Several minutes after that, we went back to our rooms. Saya tidak melakukan banyak kegiatan lagi setelah itu. Takut ketiduran 😀

Bersambung ke bagian selanjutnya.

Advertisements

2 thoughts on “Things that Left from Kota Kinabalu [Bagian 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s