Things that Left from Kota Kinabalu [Bagian 2]

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Yosh, saatnya masuk ke hari kedua 🙂

Ups, saya hampir lupa cerita bahwa malam sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk mengedit presentasi yang akan ditampilkan. Tidak terlalu banyak sih, hanya menyesuaikan warna dan ukuran huruf, dan mengecek konsistensi istilah yang digunakan. Namun, memang dasarnya umur baterai laptop saya tidak lama, baterainya habis segera setelah saya merampungkan proses pengeditan. Ya sudahlah, toh kalau mau edit lagi masih bisa di komputer panitia.

Rutinitas hari itu saya awali dengan kegalauan tentang waktu shalat Subuh. Suara adzan tidak terdengar dari hotel tempat saya menginap dan menyalakan televisi adalah pilihan terakhir yang terpikirkan oleh saya. Untungnya, internet bisa diakses dari kamar dan saya segera mencari waktu shalat untuk wilayah Sabah. Ternyata lebih cepat satu jam dibandingkan Padang atau Bukittinggi. Lega karena untungnya saya tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang saya lakukan saat di Bandung.

Setelah itu, saya tidak melakukan apa-apa lagi. Karena sudah mandi waktu subuh dan laptop tidak nyala, ya, bisa dikatakan tidak ada rutinitas penting yang saya lakukan. Baju yang akan dikenakan pun sudah disusun di lemari. Lalu, tiba-tiba saja pukul 06.19 waktu setempat, saya dipanggil untuk bersiap sarapan via whatsApp. Segera setelah itu, saya menyambar tas kecil yang sudah berisi dompet dan segala macam tanda pengenal, termasuk voucher sarapan yang sudah tersimpan rapi di dalamnya.

Kami menanyakan tempat untuk sarapan kepada resepsionis (mengingat tidak ada tanda-tanda restoran di dalam gedung hotel). Ternyata, untuk sarapan, kami harus berjalan ke arah kiri, menyusuri jalan. Restoran De Patio tidak jauh jaraknya dari pintu samping hotel. Sesampainya di sana, alih-alih menemukan banyak orang, para pegawainya baru bersiap-siap mengisi beberapa nampan stainless steel dengan makanan. Kami diminta untuk menunggu terlebih dahulu (karena datang kepagian, haha :D).

Pilihan sarapan yang tersedia waktu itu adalah nasi goreng, mi goreng, potongan sosis dalam saus berwarna merah kecoklatan, telur orak-arik, roti dengan selai, semacam bubur, sup (?), semangka, kopi, teh, dan air. Saya mengambil makanan yang disebutkan sebelumnya, kecuali roti, bubur, kopi, dan teh. Saat melihat nasi goreng di dalam nampan tersebut, saya berpikir,”nasi goreng lagi?” tetapi saya tidak sadar waktu itu bahwa hari-hari saya ke depan akan selalu bertemankan nasi goreng. Tunggu saja episode selanjutnya :).

Setelah berbincang-bincang dan menghabiskan makanan, kami kembali ke hotel. Sesampainya di kamar, saya menghubungi orangtua via Facebook Messenger (dan baru sadar bahwa kami bukan hanya dipisahkan perbedaan jarak, melainkan juga waktu!). Setelah itu, yang saya lakukan adalah meladeni pesan yang masuk, browsing, dan akhirnya, menyalakan televisi! Ada 9 pilihan saluran televisi bila saya tidak salah, dan pilihan saya berakhir pada TV3. Waktu itu ada semacam talkshow dengan pejabat pemerintahan atau semacam itu, tentang kewirausahaan. Saya baru tahu bahwa di Malaysia, pemerintahnya begitu peduli dengan kaum muda yang berwirausaha, bahkan tidak segan mencurahkan dana dalam jumlah besar. Kemudian, ada talkshow dengan para orangtua yang anaknya menderita cerebral palsy (CP). Saya salut dengan ketegaran mereka dan upaya mereka untuk menyebarluaskan pengetahuan mengenai cerebral palsy kepada rakyat Malaysia, mengingat penderita CP memerlukan perhatian khusus, tetapi tidak untuk dilihat sebagai orang yang asing/aneh. Sebenarnya, mungkin isu yang saya tuliskan di atas bukan isu yang baru, tetapi karena bahasa yang digunakan (entah kenapa saya senang mendengar tutur dalam bahasa Melayu), jadi saya antusias sendiri :).

IMG-20141009-WA0003 Seperti ini kamar yang saya tempati

Sadar dengan beban yang harus saya tuntaskan esok (baca: presentasi lisan), saya membaca-baca draft tesis yang jauh-jauh dibawa dari Padang. Namun, tetap saja, saya tidak bisa fokus dan akhirnya pasrah saja. Toh tinggal baca kalimat yang ada. Astaghfirullah. Ini entah karena kepedean atau sudah kehilangan sebagian ikatan dengan penelitian saya, saya tidak tahu juga.

Sesuai pengumuman, shuttle bus putaran pertama akan menjemput peserta dari hotel Zara pukul 11.50, jadi saat jam menunjukkan pukul 11.20, saya segera bersiap-siap. Huah, mendebarkan, padahal belum registrasi pun :).

Saat kami melangkah ke luar hotel, saya menemukan beberapa orang delegasi dari negara lain. Ada sebuah minivan yang parkir dan dua di antara mereka (bila tidak salah) melakukan negosiasi dengan sang supir. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa minivan itu adalah bus resmi dari panitia FAPA. Beberapa menit berselang, sebuah bus berukuran besar melesat melewati kami dan berhenti di depan Seven-Eleven (persis seperti yang diumumkan). Saya berlari-lari kecil hingga dekat dengan bus dan untungnya, masih ada bangku yang kosong.

Perjalanan ke hotel tidak terlalu jauh sebenarnya. Kami sampai setelah 5 atau 10 menit, tetapi sayangnya, saat sudah menginjakkan kaki di lobi, kami baru tahu bahwa itu adalah hotel yang salah. Ya sudah, masuk lagi ke dalam bus dan diantar ke hotel lain yang masih berada dalam 1 kawasan Sutera Harbour Resort. Sekadar informasi, hotel sebelumnya adalah Pacific Sutera, sedangkan hotel yang akan menjadi tempat pelaksanaan kongres FAPA adalah Magellan Sutera.

Saat tiba di Magellan Sutera, satu kesan yang tertangkap oleh saya adalah, “Wow *udiknya kumat*, Luar biasa bagus dan megah!” Kami langsung berjalan ke arah meja registrasi dan meminta blanko pendaftaran ulang peserta. Saya dengan pedenya mengiyakan pilihan untuk mengikuti Friendship Night dan Gala Banquet, dua acara yang tidak termasuk dalam biaya registrasi Student. Setelah menerima seminar kit di booth khusus mahasiswa, saya diminta untuk meminta resi pembayaran di booth pembayaran. Agak membingungkan juga waktu itu karena saya ingin ikut dua acara tersebut tetapi bayarannya mahal. Hampir saya menyerah, toh, tinggal di hotel juga tidak masalah sebenarnya. Kemudian, Da Yori menawarkan opsi yang brilian,yaitu memanfaatkan fasilitas yang diperoleh pembimbing saya (kami, sebenarnya). Jadi, kami mendaftarkan nama beliau, sehingga bisa mendapatkan seminar kit dan nametag yang  dimanfaatkan sebagai akses masuk untuk dua acara tersebut.

Setelah itu, saya menuju Meeting Room 10 untuk memasukkan bahan presentasi. Cukup lama juga menunggu giliran. Saat giliran saya tiba, saya diberi kesempatan untuk mengedit file presentasi bila diperlukan dan memberikan persetujuan untuk memasukkan file tersebut ke dalam CD atau situs untuk penyebarluasan ilmu pengetahuan.  Saya menolak karena sudah memasukkan penelitian saya untuk dipublikasi di tempat lain (sebenarnya ini juga atas nasihat dari pembimbing saya, sih). Oke, tidak ada masalah. Nah, masalahnya adalah saya ingin menggantikan pembimbing saya untuk presentasi karena beliau tidak bisa hadir. Panitia yang berada di hadapan saya memutuskan untuk menunda sampai ia mendapat jawaban dari temannya (yang sedang menelepon waktu itu). Untungnya boleh, tetapi nama pembimbing saya pada jadwal dicoret dan diganti dengan nama saya. Prosedur berikutnya sama. Masalah kedua adalah nama author. Seingat saya, abstrak yang kami masukkan ditulis oleh empat author, tetapi di file presentasi hanya ada tiga nama. Saya memutuskan untuk menghubungi pembimbing dulu (untungnya dipersilakan oleh panitia tersebut). Namun, karena tidak mendapat balasan, saya biarkan saja dengan menganggap bahwa mungkin beliau memang memasukkan tiga author saja. Prosedur pemindahtanganan file presentasi pun berakhir dengan lancar.

Setelah sempat berbincang dengan salah seorang panitia lain, kami keluar dari ruangan tersebut. Kalau saya tidak salah ingat, kami pergi ke tempat pameran poster (di bawah lobby) lalu berbincang dengan salah seorang delegasi dari Filipina. Setelah itu, saya baru sadar bahwa tas berisi seminar kit milik pembimbing kami tidak ada. Maka saya bergegas ke atas, kembali ke Meeting Room 10, tidak ada di sana. Lalu, saya kembali menemui Da Yori dan akhirnya kami mencari bersama. Untungnya tas itu masih terletak dengan manisnya di atas sofa (di depan booth pendaftaran untuk mahasiswa). Syukurlah :).

Kemudian, saatnya mencari tempat shalat.

Ternyata, orang di sana tidak mengerti dengan istilah mushalla. Mereka biasa menyebutnya surau, dan di sana, surau untuk laki-laki ada di ruang 7226, sementara untuk perempuan ada di ruang 7228. Masalahnya, di mana ruangan tersebut berada? Untungnya, ada di lantai yang sama dengan lobi. Kami hanya perlu berjalan lurus, lalu belok kanan.

Lalu, saya diperkenalkan dengan Bu Linda dan Ni Siska yang datang dari Padang, serta Kak Farida yang datang dari Bangka Belitung. Setelah ngobrol dan foto-foto dan keliling-keliling (dan lupa lagi dengan letak surau), kami malah berkeliling di hotel dan bertanya dengan panitia lain. Kami diajak naik lift, kemudian sama-sama bingung, lalu panitia tersebut bertanya pada pegawai hotel. Dan ternyata, surau itu berada di tempat yang ditunjukkan oleh panitia tadi! Ckckck. Untungnya kami diantarkan sampai ke surau dan tidak dibiarkan nyasar. Acung jempol untuk keramahan para panitia :).

Surau yang dimaksud ternyata bukan surau atau mushalla yang memang ruangan khusus untuk shalat, melainkan kamar yang disulap menjadi ruangan shalat. Err…tetapi tidak masalah, yang penting memenuhi syarat dan nyaman. Di sana disediakan sajadah dan mukena, jadi bagi yang lupa membawanya tidak perlu khawatir. Setelah kami yang perempuan selesai shalat, yang kami lakukan bukannya keluar dan kembali ke tempat acara, melainkan berfoto-foto! Sekali dua kali sih oke, tetapi lama-lama saya merasa tidak nyaman juga karena saya ingin mengikuti acara secara utuh tanpa ketinggalan satu apapun. Apa boleh buat, saya mohon diri untuk pergi duluan dengan alasan ingin melihat poster.

20141009_145955  20141009_150005 20141009_150030

Suasana di bagian lobi hotel. Ada penampilan musik tradisional untuk menyambut tamu. Foto paling kanan:kesibukan saat proses registrasi ulang

Eh, ternyata, tidak ada orang di ruangan poster! Glek. Tanya-tanya ke ibu-ibu yang duduk di Meeting Room 4, beliau juga tidak tahu  apakah Meeting Room digunakan untuk acara plenary session atau tidak. Maka, dengan mengandalkan insting dan rasa pede yang tidak terlalu tinggi, saya pergi ke area pameran dan menemukan beberapa orang yang masuk ke dalam sebuah ruangan berpintu besar. Saya ikut saja dan ternyata ruangannya gelap. Namun, yang lebih penting: saya ketinggalan satu sesi plenary. Argh, mengesalkan! Dan lagi, karena tidak menyimak dari awal, saya tidak bisa fokus. Selamat tinggal untuk materi yang bermanfaat :(.

Setelah acara selesai, kami tetap di ruangan untuk menunggu acara pembukaan. Suhu ruangan yang tidak manusiawi serta perut yang kosong sejak siang membuat saya mengeluh juga. Apa boleh buat, memang untuk hari pertama belum ada acara makan-makan, bahkan Tea Break sekalipun. Untung saya membawa snack cokelat dan permen. Lumayanlah daripada hipoglikemia :).

Untuk acara pembukaannya, saya tidak bisa berkomentar banyak. Marvelous!

DSCF1962  DSCF1964  DSCF1968 DSCF1969   DSCF1972 DSCF1973 DSCF1974  DSCF1976

Rentetan acara pembukaan, mulai dari display layar, penampilan tari, para ketua delegasi dari berbagai negara. Foto terakhir adalah lirik lagu tema kongres FAPA 2014.

Kemudian, Da Yori mempertanyakan logo FAPA yang kurang bernilai seni. Hanya segienam berwarna hijau dengan tulisan FAPA 1964 berwarna putih. Eh, tahu-tahu, ada peluncuran logo FAPA yang baru 🙂

Setelah acara pembukaan selesai, saatnya foto bersama. Saya kira akan dibagi menjadi beberapa sesi, ternyata tidak! Peserta diminta untuk menempati panggung bertingkat yang ada di belakang ruangan, dimana satu barisnya bisa memuat 90 orang. Wow! Fotonya diambil seperti panorama mode yang ada di kamera digital, bedanya, kali ini 10 jepretan berturut-turut:).

Kemudian, begitu sesi pemotretan selesai,kami berjalan ke luar untuk menunggu kedatangan shuttle bus. Jangan lupa, di sini harus antre 🙂 Bus bergerak menuju Pacific Sutera Hotel, yang tadi sempat kami singgahi.

Sesampainya di sana, beberapa orang perempuan berpakaian adat mengalungkan sesuatu yang terbuat dari manik-manik. Kemudian,yang ada hanyalah kehebohan, suara penyanyi, riuh peserta, dan makanan! Yey, akhirnya makan, alhamdulillah :). Cukup banyak pilihan makanan yang tersedia, antara lain sate ayam dan sate daging sapi, lengkap dengan ketupat, cacahan timun dan bawang bombay, serta saus kacang, aneka snack gorengan (currypuff, lumpia), sandwich (yang ternyata untuk vegetarian), quiche, dan banyak lagi. Untuk minumannya, ada jus jeruk dingin (tidak terlalu manis dan ini yang kami ambil), lihing (sejenis arak beras tradisional), dan anggur.

Acaranya sangat meriah. Saya kagum dengan video tentang Sabah yang menampilkan kekayaan alam dan budayanya, juga penampilan dari beberapa orang penari. Bukan hanya satu tarian yang ditampilkan, melainkan tiga, itupun dari suku berbeda 🙂

 20141009_200822       IMG_20141009_201203  IMG_20141009_201315  IMG_20141009_202106 IMG_20141009_203716

Suasana acara Cocktail Night.

Setelah itu, apa lagi, ya? Saya tidak terlalu ingat. Yang jelas, kami ke luar sebelum waktunya dan dengan percaya dirinya menumpang bus yang salah. Alhasil, bukannya kembali ke hotel Zara, kami turun di Magellan, dari Magellan kembali lagi ke Pacific Sutera, barulah menumpang shuttle bus dari FAPA menuju hotel.

Melelahkan, tetapi menyenangkan 🙂

Sampai jumpa di bagian selanjutnya 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Things that Left from Kota Kinabalu [Bagian 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s