Things that Left from Kota Kinabalu [Bagian 3]

Bismillahirrahmanirrahiim…

Setelah hampir sebulan ditinggalkan (karena urusan lain), catatan ini saya lanjutkan kembali. Jadi, apa yang terjadi pada hari ketiga?

Oh, sebelumnya maafkan saya karena ada sedikit informasi yang tertinggal. Jadi, malam hari tanggal 9 Oktober, kami kedatangan teman menginap dari Padang, yaitu Bu Ifmaily dengan putra beliau. Setidaknya kamar dengan twin bed yang dipesan tidak terbuang percuma :D.

Hari ketiga, saya tidak terlalu kagok lagi. Sudah tahu waktu Subuh, sudah tahu kegiatan yang akan dilakukan. Hari itu adalah hari presentasi, jadi suasana hati saya tidak bisa dibilang sesantai hari sebelumnya. Padahal, gayanya…cuma baca tulisan yang ada pada slide.

Saat saya ke luar kamar, bersiap turun ke lobi untuk sarapan, ada bencana kecil yang terjadi! Kunci kamar yang seharusnya dibawa keluar malah tertinggal di dekat pintu…aduh, saya merasa bodoh sekali waktu itu. Sebenarnya sudah bersiap untuk mengambilnya sesaat sebelum keluar kamar, tetapi kalah sigap oleh pintu yang lumayan berat, jadi yah, begitulah. Untung Bu If mau turun ke lobi untuk meminta bantuan. Kami menunggu beberapa saat sebelum petugas hotel datang dengan kunci cadangan. Fiuh, syukurlah.

Menu sarapan hari itu adalah nasi goreng (lagi), kwetiauw goreng, telur, dan menu lain yang hampir sama dengan hari sebelumnya.  Saya mengambil nasi goreng, kwetiauw, dan lauk pelengkap, serta segelas air putih. Semoga cukup untuk mengganjal perut sampai waktu Tea Break tiba.

Setelah menyelesaikan sarapan, kami menunggu shuttle bus untuk tujuan Magellan Sutera Hotel. Sesampainya di hotel, saya segera menuju Meeting Room 2, tempat untuk mengedit presentasi. Yah, sebenarnya bukan masalah yang besar, tetapi bagi saya tetap saja harus diperbaiki. Pasalnya, nama author di buku prosiding dengan yang ada pada slide pembimbing saya berbeda. Hanya itu, untungnya, dan saya bergegas ke ballroom untuk menyimak diskusi pleno. Topiknya mengenai peran farmasis di Malaysia, yang lebih luas dibandingkan yang pernah saya lihat di Sumatera Barat, antara lain pemantauan terapi warfarin (salah satu obat pengencer darah/antikoagulan), pemantauan terapi diabetes mellitus, klinik berhenti merokok. Yang berkesan bagi saya waktu itu adalah saat sang pemateri menyerukan frase “Pharmacist boleh (Farmasis bisa)!” di akhir presentasi. Jujur saja, itu keren sekali dan memacu semangat :).

Saat sesi Tea Break tiba, para peserta langsung berhamburan ke luar (dengan tertib, tentunya). Di sepanjang arena pameran dari berbagai institusi, para peserta menyebar. Ada yang mendatangi stan pameran, ada yang berbincang sambil melihat-lihat, ada yang makan dan minum. Dan tahukah Anda bahwa hidangan yang disajikan adalah nasi goreng (lagi), sandwich ukuran kecil, cupcake vanila dan cokelat, serta teh dan kopi. Untuk penambah rasa minuman, disediakan susu dalam teko beserta gula pasir dalam sachet (ada gula pasir putih dan cokelat). Saya akhirnya memilih kopi supaya tidak ngantuk sampai waktu presentasi tiba. Padahal sudah lama sekali saya tidak minum kopi, bahkan kopi instan dengan berbagai campuran dan rasa sekalipun. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti.

Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi simposium di ruangan yang berbeda-beda, bergantung pada cabang ilmu Farmasi yang dibahas. Saya menuju Meeting Room 4 karena selain membahas Farmasi Klinis dan Rumah Sakit, juga karena di sanalah presentasi yang akan saya lakukan. Pemaparan dari pemateri sudah setengah jalan, saya baru memasuki ruangan. Beliau berasal dari Hongkong dan mempresentasikan bagaimana pendidikan farmasi di Chinese University Hong Kong (CUHK), institusi tempat beliau mengajar. Banyak sekali hal menarik yang saya peroleh dari presentasi beliau. Seperti misalnya metode pembelajaran yang dibalik: rumah sebagai tempat memahami konsep dan kampus sebagai tempat berlatih. Mahasiswa di sana membuat video mengenai kefarmasian yang mudah dipahami, sehingga mereka tidak hanya tahu teori, melainkan juga mampu memeragakannya dan menjelaskan kepada masyarakat. Di CUHK, juga ada semacam program bakti sosial yang diikuti oleh mahasiswa Farmasi, Kedokteran, Keperawatan, dan Ilmu Pengobatan Tradisional. Mereka akan menggunakan pengetahuan dan keahlian masing-masing untuk membantu masyarakat selama program tersebut berlangsung. Keren, ya?

Setelah sesi simposium berakhir, selanjutnya adalah sesi presentasi lisan. Ada beberapa peserta dari Indonesia juga. Saya mulai tegang, sih, tetapi tidak terlalu, karena jadwalnya masih lama –_-. Saat sesi presentasi pertama berakhir, saya segera menghampiri salah seorang presentan untuk kenalan (daripada nggak ada teman dan keliling-keliling sendirian). Kami makan siang di ballroom sambil sesekali mengobrol. Makan siangnya lengkap, mulai nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan kue. Tidak seperti makanan saat Tea Break yang disajikan secara prasmanan, makan siang dikemas dalam kotak dan dibungkus plastik, mungkin untuk efisiensi dan kebersihan :). Sayang sekali, untuk pertama kalinya saya harus mengakui bahwa lambung saya tidak cocok dengan kari ayam yang disajikan. Atau pengaruh kopi? Atau karena stres? Saya tidak tahu juga, tetapi yang jelas lauknya tidak habis.

Setelah selesai makan siang, saya pergi ke ruang shalat, kemudian berbincang-bincang dengan delegasi Indonesia. Sekitar pukul setengah tiga siang, saya turun, kembali ke ruang presentasi. Mulailah rasanya badan ini panas dingin, takut gagap, takut tidak bisa menyampaikan presentasi dengan baik. Sebagai pemanasan, saya mengajukan pertanyaan kepada salah seorang presentan. Namun, tetap saja gugupnya tidak hilang. Huwaa…apa yang harus saya lakukan?

Dan, kacaunya, hampir saja nama pembimbing saya tidak terpanggil. Saat saya bersiap untuk mempertanyakan hal itu, sang co-moderator mengingatkan rekannya dan jadilah nama pembimbing saya dipanggil. Saya maju dan berkata bahwa saya berdiri untuk menggantikan beliau. Dan setelah itu, semuanya berlalu dengan cepat. Ada satu orang yang bertanya, dan alhamdulilah saya bisa menjawabnya (meskipun tidak dengan begitu baik). Sesi itupun berakhir dan para peserta dipersilakan untuk Tea Break kedua.

Setelah Tea Break, saya kembali ke ruangan untuk menunggu giliran. Anehnya, saat itu saya tidak gugup lagi, malahan cukup percaya diri untuk bertanya lagi. Saat saya maju untuk kedua kalinya, sang moderator heran dan saya jelaskan lagi bahwa kali ini adalah presentasi saya yang masih berkaitan dengan presentasi sebelumnya. Tidak ada peserta yang bertanya, hanya moderator yang mengajukan pertanyaan dan berkata bahwa hasil yang saya sajikan menarik. Rasanya senang sekali. Dan entah karena efek stimulasi kafein atau apa, saya mengajukan pertanyaan lagi kepada presentan berikutnya, juga menyampaikan komentar. Entahlah, rasanya seperti bukan diri saya saja.

 

Saat sesi presentasi ditutup, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan sang moderator, Mrs. Leyesa dari Filipina. Saya juga bertemu dengan dua orang delegasi asal NTT yang bertanya mengenai penelitian yang saya lakukan. Kami berfoto bersama sebelum saya ke luar untuk menunggu shuttle bus.

20141010_173732 bersama Mrs. Leyesa

Ada insiden lagi waktu itu, yang menyebabkan saya hampir saja tidak bisa ikut acara Friendship Night di Restoran Hakka. Untungnya ada panitia yang baik hati memberikan saya tiket untuk masuk (untunglah Da Yori berdiplomasi dengan baik kala itu) dan saya bisa ikut acaranya :). Tempatnya cukup jauh dari hotel, ke arah pusat kota, kalau saya tidak salah. Di sana, kami duduk semeja dengan delegasi Malaysia dan dijamu dengan beberapa ronde hidangan seafood. Ada semacam bakso ikan (mirip pempek), acar dari campuran rumput laut dan sayuran entah apa, ikan berukuran besar, nasi goreng (lagi), gurita, udang, kentang, dan hidangan penutupnya adalah semacam puding dari susu kedelai. Sementara kami mencicipi berbagai hidangan, para delegasi menampilkan kesenian tradisional di panggung. Delegasi Indonesia malah joget poco-poco :D.

20141010_205819 suasana acara Friendship Night

Setelah acaranya selesai, kami kembali ke hotel :). Pikiran saya sudah bebas dari stres karena telah menyelesaikan presentasi. Saya sudah tidak sabar dengan rentetan acara pada hari terakhir :).

Sampai jumpa di episode selanjutnya :). Maaf kalau minim foto karena waktu itu saya sama sekali tidak kepikiran untuk mendokumentasikan hal-hal yang penting. Kepikiran presentasi terus, sih *alibi*.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s