Things that Left from Kota Kinabalu [Bagian 4]

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Hari keempat, saya benar-benar santai mengingat beban berat yang jauh-jauh dibawa dari Padang (baca: presentasi hasil penelitian) telah dituntaskan hari sebelumnya. Setelah shalat Subuh, saya menyempatkan diri untuk mengecek jadwal agar tidak ketinggalan presentasi dan simposium yang penting. Saya sudah menandai simposium bertema Farmasi Sosial untuk diikuti nantinya.

Rutinitas pagi itu tidak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya: sarapan (dengan nasi goreng lagi.. dan lauk pelengkap lain). Bu If dan putranya yang ikut sarapan dengan kami memutuskan untuk stay di hotel selepas sarapan. Beliau akan kembali ke Padang siang itu dan kami menyempatkan diri untuk berfoto sebelum perpisahan.

                                   DSCF1983 DSCF1984

Lobi Zara’s Boutique Hotel

Sesampainya di Magellan Sutera Hotel, saya segera menuju Meeting Room 7 untuk meminta sertifikat kehadiran dan sertifikat apresiasi. Ternyata, selain sertifikat, ada semacam kenang-kenangan khas Sabah juga yang diberikan kepada peserta (maaf, fotonya menyusul). Setelah mengambil sertifikat, saya segera menuju Ballroom untuk mengikuti Plenary session. Topik yang disampaikan oleh pembicara waktu itu (beliau berasal dari Thailand) adalah mengenai pendidikan farmasi. Ternyata, lama waktu yang ditempuh untuk menjadi seorang farmasis di berbagai negara sangat bervariasi. Indonesia, misalnya, memerlukan 4 tahun kuliah strata 1 ditambah 1 tahun untuk jenjang profesi apoteker. Beberapa negara lainnya memiliki kebijakan berbeda mengenai pendidikan profesi. Kebetulan materi mengenai hal ini ada di buku 50 tahun hari jadi FAPA. Bila ada kesempatan, insya Allah akan saya tuliskan dalam postingan lain.

DSCF1987 slide dari pemateri pertama: alasan mengapa memilih profesi farmasi

Setelah sesi beliau selesai, pemateri selanjutnya dari Australia ambil posisi di hadapan hadirin. Beliau memaparkan perkembangan teknologi dalam pengemasan sediaan obat di apotek. Di sini, pengemasan secara manual adalah yang paling umum dijumpai, kalaupun menggunakan alat, biasanya itu untuk membungkus puyer. Untuk tablet atau kapsul yang tidak diserahkan dalam kemasan strip atau blister, biasanya digunakan kemasan plastik embalase. Dalam pengerjaannya, tentu saja diperlukan tenaga manual dari farmasis atau teknisi farmasi. Namun, di sana, telah dikembangkan kemasan khusus untuk mengingatkan pasien meminum obat sesuai jadwal (apakah pagi, siang, atau malam), lengkap dengan data si pasien. Selain itu, untuk melakukan proses pengemasan, telah tersedia robot yang mampu memasukkan masing-masing obat ke dalam slot yang tersedia dengan cepat, efektif, dan higienis. Tantangan besar untuk farmasis di Indonesia ;).

                                       DSCF1989 DSCF1992 

kiri: kemasan obat yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien

kanan: robot pengemas obat

Begitu Plenary Session berakhir, saya bergabung dengan peserta lain untuk mencari kudapan. Saya mengambil kopi (serius, kopinya enak 🙂 ),  kwetiaw goreng, dan kue-kue. Saat mencicipi kwetiaw yang telah saya siram dengan kuah kecap, saya baru menyadari kesalahan besar: rasanya begitu asin. Rupanya, kuah kecap yang menggoda dengan irisan cabai pada permukaannya itu adalah kuah kecap asin, bukan kecap manis). Untunglah kuah itu tidak saya tambahkan secara royal, sehingga saya bisa memakannya tanpa mubadzir.

Seperti yang telah saya rencanakan, saya bergegas menuju Meeting Room 3, tempat simposium mengenai Farmasi Sosial dilaksanakan. Entah karena topik penelitian saya berada dalam ruang lingkup Farmasi Sosial atau apa, rasanya saya begitu antusias. Rasa haus saya akan ilmu tersebut mampu dijawab dengan penjelasan dari pemateri. Beliau merupakan pengajar di Universiti Sains Malaysia dan menempuh program doktoralnya di Australia. Begitu pemaparan dari beliau berakhir, pemateri selanjutnya memaparkan peran farmasi dalam penanganan bencana. Sangat menarik untuk mengetahui hal-hal teknis yang harus dikuasai para farmasis yang bergelut di bidang penanganan bencana dan saya angkat topi buat mereka.

Dan, setelah itu, mulailah presentasi oral. Saya sebenarnya ingin menanyakan beberapa hal pada pemateri pertama, tetapi situasinya kurang memungkinkan. Begitu beliau keluar ruangan, saya langsung ikut keluar. Beliau sempat berbicara dengan salah seorang dosen dari Indonesia, dan saat pembicaraan mereka selesai, saya langsung mencegat beliau dan menyampaikan ketertarikan saya pada bidang Farmasi Sosial serta keinginan saya untuk melanjutkan studi di bidang tersebut. Beliau tampak senang dan menyerahkan kartu nama beliau kepada saya seandainya saya ingin melanjutkan studi di USM. (Yah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bukan?).

Saya langsung bergegas ke Ballroom karena presentasi yang saya incar ada di sana. Ya, karena Bu Dyah, dosen dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, yang sempat saya kontak untuk menanyakan instrumen SF-36 versi bahasa Indonesia akan mempresentasikan hasil penelitian beliau di sana. Saya sempat menanyakan sebuah pertanyaan mengenai metode time trade-off yang masih asing di telinga (maklum, masih pemula di bidang penelitian kualitas hidup). Rencananya saya ingin berbincang sebentar dengan beliau, tetapi karena tidak memungkinkan, saya menuju ruang Rose Garden untuk makan siang.

Di Rose Garden, semua peserta kategori Student berkumpul (dan saya jadi serba salah karena kemarin mengambil makanan di tempat yang salah, karena tidak ada pengumuman dan saya tidak bertanya, makanya saya tidak tahu). Tentu saja, sesuai harga yang kami bayarkan, makan siang untuk Student jauh lebih sederhana dibandingkan untuk delegasi. Namun, tidak masalah, karena kami tidak terlalu banyak, kami mengadakan acara keakraban waktu itu. Hanya perkenalan singkat dari masing-masing peserta dan foto bersama. Saya sempat berkenalan dengan seorang mahasiswa dari Filipina. Namanya Angel dan dia ramah sekali. Kemudian, saya berkenalan dengan beberapa mahasiswa dari Malaysia, juga dari Jepang. Namanya Higuchi dan tahu tidak, dia adalah orang yang saya lihat waktu registrasi ulang pada hari pertama :D.

DSCF1999Saya dan Angel. Nice to meet you 🙂

Setelah acara berakhir, saya menuju ruang shalat (sendirian) dan bertemu lagi dengan beberapa orang delegasi dari Indonesia (yang saya temui kemarin). Saya juga bertemu dengan seorang mahasiswi Malaysia, namanya Hajar dan dia menanyakan umur saya. Huaah, tolong jangan tanyakan umur kepada saya karena rentetan pertanyaan berikutnya akan panjang. Perbincangan itu mengundang rasa penasaran dari seorang mahasiswi Master asal Malaysia (duh, maaf, Kak, saya agak lemah dalam mengingat nama). Dan, yah, begitulah. Saya tidak ingin berbicara panjang soal itu.

Saat saya kembali ke area pameran, saya bertemu lagi dengan Higuchi. Haha, what a coincidence. Dia berbahasa Inggris dengan baik (dan lebih baik daripada saya), juga mengerti bahasa Indonesia. Higuchi berasal dari Universitas Daiichi, Fukuoka. Itu, kan terletak di Pulau Kyushuu, dan tiba-tiba saya ingat YUI yang berasal dari Fukuoka. Ternyata, dia tidak begitu tahu tentang YUI. Ternyata asumsi saya salah 😀 dengan menganggap semua orang Jepang mengetahui artis-artis dan penyanyi terkenal. Ah, ya sudahlah, yang penting saya bisa mencapai target untuk berkenalan dengan peserta dari luar negeri di acara ini.

Hmm, apa lagi, ya?

Setelah Tea Break kedua, kami memutuskan untuk pulang (dan tidak ikut acara penutupan. padahal saya ingin ikut). Dan, pulangnya bukan dengan bus, melainkan jalan kaki. Tidak jauh, sih, tetapi karena sempat salah arah dan kebingungan saat hendak melintasi jalan raya, waktu yang dihabiskan jadi cukup lama juga. Da Yori mengambil uang untuk jaga-jaga kalau ada keperluan mendesak dan setelah itu, kami pergi ke 7 Eleven, membeli penganan untuk perjalanan pulang besok harinya.

Setelah shalat Maghrib di kamar, kami ke luar untuk menunggu bus yang akan mengantar ke Magellan Sutera Hotel. Malam itu ada acara Gala Banquet. Dan tidak seperti malam sebelumnya, meja-meja yang ada telah disusun untuk delegasi dari negara yang sama. Saya bergabung dengan meja yang seluruhnya ditempati oleh delegasi perempuan dari Indonesia. Kami sempat berkenalan singkat, dan saya semeja dengan delegasi dari Kupang yang kemarin bertemu dengan saya di Meeting Room 4. Selain itu, saya juga bertemu dengan delegasi dari Universitas Brawijaya yang seruangan dengan saya saat hendak memperbaiki slide presentasi. Ada saja cara Allah untuk mempertemukan kita dengan orang lain :D.

Sebelum makan malam, kami ditanya-tanyai oleh delegasi Korea dan kami berfoto bersama. Wah, tidak disangka mereka akan seterbuka itu dengan orang Indonesia. Apalagi beberapa di antaranya berkata bahwa kakak-kakak yang berada di dekat saya berwajah cantik. Padahal, orang Indonesia mungkin ada yang ingin secantik orang Korea :).

Makan malam waktu itu benar-benar di luar dugaan saya. Semuanya hidangan khas Barat dan saya yang masih ndeso ini cuma bisa berteriak dalam hati karena akhirnya bisa mencicipi makanan yang biasanya hanya bisa dilihat dari televisi atau internet. Hidangan pembuka yang disajikan adalah sup jamur dengan udang dan krim, serta ditemani roti. Hidangan utamanya adalah beef and salmon steak dengan wortel dan asparagus, beserta kentang tumbuk berlapis kacang almond iris yang dibentuk bulat dan (sepertinya) digoreng, serta vinaigrette dressing. Waktu itu saya tidak tahu mana yang vinaigrette, ternyata, kata itu merujuk pada campuran cuka dan minyak. Dan, sebagai penutupnya adalah panna cotta dengan saus stroberi dan potongan cokelat. Bentuknya mirip puding jeli berwarna putih dengan rasa krim dan manis bercampur sedikit asam. Alhamdulillah :). Sayang sekali tidak bisa menghadirkan fotonya karena saya tidak membawa kamera ke acara makan malam.

Pada malam itu, juga diumumkan pengurus FAPA untuk periode selanjutnya. Presiden FAPA berasal dari Taiwan (dan delegasi Taiwan melakukan selebrasi khusus untuk itu). Dan yang lebih penting, acara FAPA selanjutnya pada 2016 akan dilaksanakan di Bangkok. Hmm, kira-kira ada rezeki, nggak, ya, untuk itu? 🙂

Begitu acara usai, para peserta bergegas ke luar untuk menunggu shuttle bus. Dan, berbeda dari hari-hari sebelumnya, di mana satu bus disediakan untuk satu hotel tujuan, bus yang kami tumpangi kali ini berbeda. Kami dibawa berkeliling karena mengantarkan peserta ke semua hotel, termasuk hotel yang berada di pusat kota. Lumayan, ‘kan, menikmati pemandangan Kota Kinabalu pada malam hari? Kami diantarkan terakhir karena berada di sisi ruas jalan yang berlawanan dan terdekat dari komplek Sutera Harbour Resort.

Dan dengan ini, berakhirlah perjalanan kami di Kota Kinabalu.

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Semoga ada kesempatan lagi suatu saat untuk menjelajah tempat-tempat baru sembari mereguk ilmu :).

 

 

 

such a late post. gomennasai >.<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s