Farmasi: dari Menara Gading untuk Masyarakat

image2

Terlepas dari berubahnya tren Program Studi (prodi) favorit dari waktu ke waktu, Farmasi tampaknya masih menjadi salah satu prodi favorit bagi calon mahasiswa di tahun ini. Terbukti dari data statistik yang dirilis oleh Kemendikbud pertengahan Juli lalu yang menyatakan bahwa Farmasi menjadi prodi dengan jumlah peminat terbanyak kelima di bidang Sains dan Teknologi setelah Teknologi Informasi, Pendidikan Dokter, Teknik Sipil, dan Psikologi1.

Farmasi, sebagai disiplin ilmu yang mempelajari obat-obatan, memungkinkan mahasiswa yang menekuninya mampu menjadi tempat bertanya bagi orangtua, keluarga, maupun masyarakat sekitar terkait dengan masalah pengobatan. Sehingga, mahasiswa Farmasi pun tak jarang diasosiasikan dengan calon penjual obat atau calon pemilik apotek yang nantinya bisa menjawab pertanyaan pasien tentang obat yang akan dibelinya. Dengan seluruh harapan dan anggapan tersebut, mahasiswa Farmasi memikul beban yang berat di pundak mereka. Mereka pun bertekad untuk menjadi profesional Farmasi yang baik dan membanggakan orangtua serta berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa.

Namun, kenyataannya, tidak semudah itu untuk menjawab harapan masyarakat terhadap para mahasiswa. Mengingat Farmasi merupakan salah satu ilmu terapan dengan berbagai mata kuliah yang berasal dari cabang ilmu Kimia, Fisika, Matematika, maupun Biologi, belum lagi yang bersinggungan dengan ilmu sosial seperti Manajemen, tak jarang mahasiswa bingung dengan keahlian apa yang harus dikuasainya. Terlebih bila Fakultas atau Departemen Farmasi tempat para mahasiswa ini menuntut ilmu belum mengenal spesialisasi, seperti Farmasi Industri atau Farmasi Klinis, maka mereka mau tidak mau harus menguasai semua mata kuliah yang diberikan, tak peduli jika mereka kurang mampu di salah satu bidang atau lebih.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat strata 1 atau menyelesaikan pendidikan profesi sekalipun, tidak ada yang mampu menjamin bahwa mereka mampu memenuhi ekspektasi masyarakat dengan sempurna. Mereka yang lebih berminat di industri, mungkin akan melupakan Farmakologi (ilmu yang mempelajari obat dan efek yang ditimbulkannya di dalam tubuh). Hal serupa juga mungkin dihadapi oleh mereka yang lebih menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan analisis bahan obat dan makanan. Mereka yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan agaknya lebih menguasai jawaban terkait masalah pengobatan, indikator yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menilai kebermanfaatan seorang mahasiswa maupun profesional muda Farmasi. Namun, jika benar demikian kenyataannya, apakah pendidikan farmasi di Indonesia bisa dikatakan gagal mencapai tujuannya?

Rasanya terlalu kejam bila pertanyaan di atas dijawab dengan ‘ya’. Bagaimanapun, kurikulum Farmasi telah disusun sedemikian rupa untuk menghasilkan profesional Farmasi yang kompeten di bidangnya, di institusi manapun mereka berada. Mungkin ekspektasi masyarakat yang harus diluruskan karena Farmasi merupakan ilmu terapan yang sangat luas cakupannya, bukan hanya mengenai obat dan khasiatnya dalam mengatasi penyakit. Misalnya saja ilmu analisis senyawa kimia, ilmu formulasi obat, ilmu isolasi senyawa kimia dari bahan alam, dan sebagainya. Kesemua ilmu tersebut diperlukan oleh mahasiswa dan profesional muda Farmasi untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Meskipun pada kenyataannya, akan ada sebagian ilmu yang tidak banyak digunakan, bergantung pada institusi tempat mereka bekerja.

Hal lain yang harus diluruskan juga mengenai lulusan farmasi yang sudah dapat dipastikan akan bekerja di apotek. Kenyataannya, lulusan farmasi bukan hanya ada di apotek, menjual obat bebas serta melayani resep dokter, seperti yang umumnya disangka oleh masyarakat. Farmasi ada di mana-mana, mulai dari industri farmasi, industri obat tradisional, laboratorium penelitian, apotek, rumah sakit, lembaga jaminan kesehatan, bahkan kampus. Farmasi bisa berada di garis depan pelayanan, maupun di balik layar sebagai penyusun kebijakan. Kesemuanya saling terkait dan saling mengisi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, meskipun perannya kadang tak terlihat.

Meskipun begitu, tak ada salahnya juga untuk mendengarkan harapan masyarakat ini lebih banyak. Hal yang mereka inginkan mungkin sederhana saja, sekadar cara meminum obat yang benar, alasan menghentikan atau meneruskan obat, perihal mencampur obat dengan jamu, teh, atau susu, dan sebagainya. Jangan-jangan, para mahasiswa atau profesional Farmasi muda kita justru gagap dalam menjawab pertanyaan tersebut, tak peduli apakah ia memperoleh IPK tinggi atau menyabet penghargaan bergengsi dalam kompetisi formulasi obat baru. Atau mungkin jawaban yang diberikan mengambang dan penuh istilah rumit sehingga tak dipahami oleh masyarakat. Bila demikian, Farmasi hanya akan menjadi ilmu yang berada di menara gading, jauh dan tak bisa dijangkau oleh sembarang orang, kecuali oleh para penghuni dan punggawanya saja.

Seperti ilmu kesehatan lain yang telah lebih dahulu merebut hati masyarakat, ilmu Farmasi pun berhak memiliki kesempatan yang sama. Sudah saatnya Farmasi menjadi go public, lebih dekat dan akrab dengan mereka, tanpa harus melepaskan identitas dan prestise yang telah dimilikinya. Dengan memulai program pengabdian masyarakat, seperti pengobatan gratis atau penyuluhan, ilmu Farmasi akan terasa lebih bermanfaat dalam menjawab pertanyaan yang seringkali timbul mengenai masalah pengobatan. Memperkuat basis ilmu dan keahlian bagi para mahasiswa pun menjadi hal yang mutlak perlu karena merekalah yang akan ikut serta mencari titik terang bagi permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Sehingga dengan demikian, jembatan antara menara gading Farmasi dengan masyarakat menjadi hal yang sangat mungkin untuk dapat diwujudkan.

Referensi:

1Kemdikbud RI. 16 Juli 2014. “Data 10 Prodi Peminat Terbanyak #SBMPTN2014 http://facebook.com/Kemdikbud.RI (Diakses pada 20 Juli 2014)

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis yang diselenggarakan oleh IYHPS beberapa bulan yang lalu. Tidak berhasil meraih 20 terbaik, sih, tetapi semoga saja bermanfaat bagi para pembaca.

Advertisements

2 thoughts on “Farmasi: dari Menara Gading untuk Masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s