Mari Memberi

tangan di atas (gambar dari www.ilawati-apt.com)

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Jumat lalu, saya berkesempatan (lagi) untuk mengikuti ceramah Subuh dari seorang ustadz. Tema yang disampaikan masih sama, kelanjutan dari postingan saya yang ini.

Sebagai orang yang beriman, maka kita harus memiliki salah satu pilar keimanan: bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, kita seyogianya membiasakan diri untuk memberi. Orang yang beriman yakin bahwa apapun perniagaan yang dilakukannya di jalan Allah tidak akan sia-sia. Allah akan memberi balasannya. Balasan itu tidak harus berupa materi sebanyak yang telah diberikannya, tetapi bisa saja dalam bentuk lain.

Beliau menyampaikan bahwa ada beberapa istilah dalam sedekah, antara lain:

  • Sedekah diam-diam

Sedekah diam-diam ini lebih baik karena menghindarkan diri dari rasa ingin dipuji, selain itu dapat menghindarkan si penerima dari perasaan rendah diri dan terhina.

  • Sedekah terang-terangan

Meskipun demikian, sedekah terang-terangan bukannya tidak baik, hanya saja lebih baik lagi bila pemberian kita tidak diketahui orang lain. Salah satu manfaatnya adalah, sedekah terang-terangan dapat memotivasi orang lain untuk juga ikut bersedekah.

  • Sedekah orang yang sehat

Waktu memaparkan bagian ini, beliau mengatakan bahwa sedekah orang yang kaya lebih baik. Maksudnya, dengan niat ikhlas yang sama, orang yang pemberiannya lebih banyak akan mendapatkan balasan yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang pemberiannya lebih sedikit.

  • Sedekah kepada keluarga

Sedekah kepada keluarga ini yang paling diutamakan. Misalnya seorang ayah sebagai kepala keluarga, hendaknya menafkahi keluarganya terlebih dahulu, sebelum memberi kepada orang lain.

  • Sedekah kepada karib kerabat

Setelah keluarga, barulah karib kerabat yang diprioritaskan untuk menerima sedekah dibandingkan orang lain.

  • Sedekah kepada tetangga

Bila karib kerabat sudah terbantu kebutuhannya, lanjutkan kepada tetangga. Misalnya, kalau memasak hidangan berkuah, lebihkan kuahnya untuk diberikan kepada tetangga. Tidak harus tok kuahnya juga, tetapi maksudnya di sini agar kita membiarkan tetangga untuk ikut merasakan sebagian dari rezeki yang ada pada kita.

  • Sedekah kepada kawan seperjuangan

  • Sedekah jariyah

Sedekah jariyah ini adalah sedekah yang pahalanya mengalir, bahkan bila sang pemberi sudah meninggal sekalipun. Misalnya, seseorang yang menyumbang untuk masjid. Selama masjid itu digunakan untuk beribadah, maka pahalanya akan terus mengalir.

Untuk dalil mengenai sedekah dalam Al-Qur’an, bisa dilihat dalam surah Al-Baqarah ayat 261-281. Berikut ini merupakan terjemahan dari ayat-ayat tersebut.

( 261 )   Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

( 262 )   Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

( 263 )   Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

( 264 )   Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

( 265 )   Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

( 266 )   Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.

( 267 )   Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

( 268 )   Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

( 269 )   Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

( 270 )   Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya.

( 271 )   Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

( 272 )   Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).

( 273 )   (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

( 274 )   Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

( 275 )   Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

( 276 )   Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

( 277 )   Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

( 278 )   Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

( 279 )   Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

( 280 )   Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

( 281 )   Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Catatan ini adalah pengingat bagi diri saya sendiri dan semoga bermanfaat pula bagi para pembaca. Kepada pembaca yang lebih memahami Islam, terutama mengenai sedekah, tolong ingatkan saya bila ada yang salah atau kurang dari tulisan ini.

Advertisements

7 thoughts on “Mari Memberi

    1. Kalau menurutku, yang namanya memberi nggak akan pernah merugikan diri sendiri, sekalipun itu memberi ilmu pengetahuan. Mungkin kesannya seperti kita berbagi ilmu kepada orang lain, sehingga orang itu jadi sama-sama tahu dan bahkan mungkin lebih tahu daripada kita, sehingga ilmu kita seakan-akan berkurang.

      Padahal sebenarnya, dengan memberi ilmu, kita juga diuntungkan. Ilmunya akan lebih menempel di otak dan bukannya nggak mungkin akan bertambah (seperti yang dilakukan oleh para pengajar) karena mereka dituntut untuk harus bisa memberikan ilmu. Mau nggak mau, harus terus belajar, ‘kan? 🙂

      (jawabannya kira-kira nyambung, nggak, ya? hehe)

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s