Pendidikan: Tanggung Jawab Kita Bersama

edu (gambar dari www.ppitaiwan.org )

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Tidak tahu entah sejak kapan, saya memiliki ketertarikan untuk berkecimpung di dunia pendidikan. Menurut saya, dengan mengajar dan mendidik, saya akan memiliki kesempatan untuk terus belajar dan berbagi kepada mereka yang belum tahu. Menjadi akademisi juga memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan pendidikan karakter. Saat ini, saya masih berada dalam periode training dan mengelola satu mata kuliah selama setengah semester.Tentu saja masih banyak yang harus saya pelajari untuk menjadi pengajar dan pendidik yang baik.

Inspirasi dari Ibu Ai Dewi

Pagi ini, saya berkesempatan menonton program Tupperware She CAN! di Trans 7. Beliau menggerakkan roda pendidikan di wilayah tanah adat Baduy, Provinsi Banten. Suku Baduy (Kanekes) sendiri terdiri dari tiga suku: suku Baduy Dalam yang masih memegang teguh adat istiadat dan tidak membuka diri terhadap dunia luar yang modern, suku Baduy Luar yang lebih terbuka terhadap dunia luar, dan suku Baduy Muslim yang beragama Islam dan tidak mengikuti hukum adat [1].

Pertama kali menjejakkan kaki di sana, Ibu Ai berusaha meyakinkan para pemuka adat mengenai pentingnya pendidikan. Ternyata, usaha itu tidak mudah, apalagi dengan anggapan bahwa pendidikan akan membuat manusia semakin pintar, sehingga nantinya ia akan mudah membodohi orang lain. Padahal, kenyataannya bukan demikian. Pendidikan justru membuat manusia berilmu sehingga tidak mudah dibodohi oleh orang lain. Akhirnya, Ibu Ai diizinkan untuk mendidik masyarakat Kampung Baduy Luar, tetapi tidak diizinkan untuk melewati batas wilayah Kampung Baduy Dalam. Izin itu pun keluar dengan syarat tambahan: beliau tidak boleh memberatkan masyarakat setempat, dengan kata lain, semua alat tulis harus disediakan oleh beliau sendiri.

Perlahan tapi pasti, usaha beliau membuahkan hasil. Bukan hanya anak-anak yang menjadi sasaran pendidikan, melainkan juga orang dewasa. Cakupan masyarakat yang melek aksara di Kampung Baduy meningkat dari 15% menjadi 40%. Suatu pencapaian yang perlu diapresiasi.

Ibu Ai Dewi juga menjadi relawan pengajar di Kampung Baduy Muslim. Di sana, tidak ada pengajar yang bertahan, sehingga anak-anak usia sekolah terpaksa tidak menerima pendidikan. Beliau mengajar tanpa digaji, dan setelah menikah, sang suami juga ikut mengajar sebagai bentuk dukungan. Sekarang, tempat beliau mengajar telah menjadi Madrasah Ibtidaiyah yang berada di bawah Kementerian Agama dan memiliki dua belas tenaga pengajar. Salah seorang murid beliau pun telah menempuh pendidikan tinggi dan bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah menengah.

Kini, setelah perjuangan Ibu Ai Dewi berbuah manis, masih ada satu hal yang mengganjal pikiran beliau, yaitu para anak muda dari wilayah tanah adat Baduy yang telah sukses, tetapi enggan kembali untuk membangun tanah kelahiran mereka. Beliau khawatir perjuangan yang telah beliau rintis menjadi terhenti dan masyarakat Baduy kembali terpuruk dalam hal pendidikan. Karena menurut beliau, kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan meneruskan?

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Pernah mendengar istilah Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI)? Indeks ini merupakan pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf dan pendidikan, serta standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. Klasifikasi negara maju dan negara berkembang didasarkan dari nilai IPM ini [2].

Dilihat dari Laporan Pembangunan Manusia tahun 2014 yang dirilis oleh United Nations Development Programme (UNDP), nilai IPM Indonesia masih tergolong rendah. Indonesia berada di peringkat 108 dari 187 negara bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain, seperti Singapura (peringkat 9), Brunei Darussalam (peringkat 30), dan Malaysia (peringkat 62). [3]. Mengingat IPM juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, maka pendidikan di Indonesia harus terus diusahakan agar merata ke seluruh negeri. Miris rasanya bila sekolah favorit yang para siswanya berprestasi di kancah internasional menumpuk di wilayah-wilayah tertentu, sementara di wilayah lainnya, sulit sekali menemukan sekolah yang layak dengan jumlah guru yang memadai.

Untuk menggerakkan perubahan di dunia pendidikan, kita tidak harus berpangku tangan, menunggu instruksi dari pemerintah untuk mengajar di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Sebagai orang yang berkesempatan untuk menuntut ilmu, sudah sepatutnya kita membagikan ilmu yang kita miliki kepada orang-orang terdekat atau masyarakat sekitar. Menulis di blog ini pun, menurut saya, adalah salah satu cara yang efektif untuk menyebarluaskan pendidikan. Bila semua narablog Indonesia konsisten menulis tentang suatu bidang ilmu yang mereka kuasai, maka akan terbentuk jejaring pengetahuan di dunia maya yang bisa diakses oleh masyarakat. Alangkah indahnya bila hal itu terjadi.

So, stop daydreaming, let’s act!

Advertisements

18 thoughts on “Pendidikan: Tanggung Jawab Kita Bersama

  1. Subhanallah kagum dengan orang-orang sepert bu Ai Dewi itu. Oh ya mbak Ami, idenya bagus sekali mbak, membentuk jejaring pengetahuan di dunia maya. saya jadi teringa dengan link yg dishare kawan FB saya yaitu belajar dengan gratis di FutureLearn. satu website yg memberikan akses ke berbagai macam bidang studi. Ini linknya : https://www.futurelearn.com/

    Liked by 1 person

  2. Nice journal.
    Dan sungguh ibu Ai Dewi yang inspiratif.
    Semoga admin TupperwareSheCAN bisa segera mengunggah episode Ibu Ai Dewi di sini: https://www.youtube.com/user/TupperwareSheCAN
    Sehingga orang-orang yang terlewat menonton seperti saya ini bisa menyimaknya juga.

    Nilai IPM Indonesia tergolong rendah, 108 dari 187 negara,
    Data lainnya, Indonesia menempati peringkat ke-119 dalam Indeks Negara Baik atau Good Country Index.
    Berdasarkan World Happiness Report 2014, kebahagiaan orang-orang Indonesia ada diperingkat ke-76.

    Saya setuju dg mbak Ami, ini semua adalah tanggung jawab kita bersama untuk bisa membuat Indonesia masuk dalam 10 besar.
    Yuk, tetap semangat menularkan semangat kebaikan, membangun dan menginspirasi.

    Like

    1. Siap, Pak Iwan 🙂
      Terima kasih sudah berbagi tanggapan di tulisan ini. Baru tahu ada Indeks Negara Baik dan Negara Bahagia, sayang sekali Indonesia pun tidak masuk peringkat atas untuk kedua parameter itu :(.

      Like

  3. Ayo terus berbagi!
    Wah, IPM. Saya agak sensitif kalau soal IPM soalnya saya berasal dari provinsi yang peringkat IPM-nya terendah nomor 2 di seluruh Indonesia :huhu. Doh, banyak masalah tentang IPM di daerah saya! Mudah-mudahan dengan menulis di sini saya bisa urun bantu meski sedikit :hehe.

    Like

    1. Aku nggak tahu IPM daerahku berapa, Bang Gara. Tapi topik ini sensitif buatku karena alasan yang berbeda: ketua penguji ujian profesi apoteker di kampus menanyakan masalah HDI & peringkat HDI Indonesia dan aku nggak ngeh sama sekali waktu itu 😐

      Yap, mari terus menulis 🙂

      Like

      1. Sudah, tidak apa-apa :hehe, bagaimana ujiannya?
        Btw, apoteker ada ujian profesinya juga ya Mi…
        Ada pernah cerita soal itu di blog? Bagi link-nya dong :hehe, terima kasih!

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s