Menonton Novel, Membaca Film

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Sekilas, judul di atas  terkesan sumbang. Bukankah yang biasanya ditonton adalah film, sedangkan yang biasa dibaca adalah novel. Namun, saya menulis judul tersebut bukan karena mengantuk, bukan pula karena kehilangan konsentrasi.

Jadi, apa maksudnya menonton novel dan membaca film?

Saya teringat dengan salah satu foto di akun instagram Kak Andhyta Firshelly Utami, yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Foto itu memuat kalimat berikut:

A movie is a novel turned inside out.

atau

Sebuah film adalah sebuah novel yang dibalik ke luar.

Agak berbelit, ya? Namun, yang saya tangkap dari kalimat itu adalah bahwa film memperlihatkan hal-hal yang tidak terlihat kala membaca, sementara novel melakukan hal sebaliknya. Film menyajikan gambaran latar, penampilan tokoh, beraneka bunyi dan suara, serta hal-hal lain yang hanya bisa kita khayalkan ketika membaca novel, tetapi tidak menggambarkan pikiran tokoh secara eksplisit. Kita harus menebaknya sendiri. Lain halnya dengan novel, yang tidak menawarkan pengalaman audiovisual, tetapi mampu membuat kita menyelami isi pikiran para tokohnya.

Lalu, apa kaitannya dengan judul tulisan ini?

Dengan keterbatasan masing-masing, novel dan film menantang kita untuk melakukan hal-hal yang tidak disajikan oleh keduanya. Novel yang baik, menurut saya, adalah buku yang sangat visual dan sangat audio; di mana segala deskripsi penampilan dan latar tempat begitu gamblang, serta deskripsi bunyi dan nada suara tokoh terkesan begitu nyata. Sementara itu, film yang baik, menurut saya, setidaknya mampu membuat kita menyelami hal-hal yang tersirat (yang dalam hal ini, juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan akting para pemainnya). Hanya dengan membaca sorot mata dan gerak-gerik seorang tokoh, misalnya, kita bisa membayangkan bahwa ia merasa kecewa dan marah karena dikhianati orang lain, sehingga ia berencana untuk balas dendam.

Bandingkan dengan beberapa sinetron yang ‘mengizinkan’ para pemainnya untuk memperdengarkan suara hati mereka masing-masing, sehingga dengan bahasa nonverbal yang minim, para penonton pun akan mengetahui pikiran dan perasaan mereka yang sebenarnya. Padahal, kenyataannya, kita tidak pernah bisa mengetahui isi pikiran dan isi hati lawan bicara, kecuali yang bersangkutan mau memberitahukannya kepada kita (dengan cara curhat, misalnya).

Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

10 thoughts on “Menonton Novel, Membaca Film

  1. Aku suka film yg berpikir tapi aku juga tahu bahwa banyak orang klo nonton itu pengennya rekreasi jadi hiburan dan malas mikir ato menyelami arti yang tersirat makanya mungkin selalu ada marketnya sinetrom ya?! 😊

    Liked by 1 person

  2. Paling bagus adalah kalau ada novel saya yang diangkat jadi film, terus dua-duanya meledak di pasaran :hihi. Hei, mari mengkhayal setinggi mungkin dan mengusahakannya, siapa tahu kesampaian, ada cerita cinta di balik arca museum nasional :hihi.

    Setuju banget denganmu, Mi. Novel yang bagus menurut saya adalah yang ketika saya membaca, saya merasa menonton setiap adegannya, film yang bagus menurut saya, adalah ketika saya menontonnya, saya merasa sama kalau saya membaca novelnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s