[Pharmonday] Lebih Dekat dengan Si Penurun Panas

cats

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Apa yang biasanya pembaca lakukan saat suhu tubuh beranjak naik? Cari obat? Istirahat? Atau mencari kompres? Kalau saya biasanya minum air putih dan memperbanyak istirahat. Bila panasnya tinggi, baru minum obat penurun panas. Alhamdulillah belum pernah sakit demam yang serius sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Demam biasanya terjadi sebagai pertanda tubuh sedang melawan kuman penyebab infeksi. Adakalanya butuh pengobatan segera, adakalanya bisa ditangani dengan istirahat saja. Saat praktik kerja profesi di rumah sakit dulu, saya mempelajari bahwa biasanya obat penurun panas (antipiretik) diresepkan dokter bila suhu tubuh pasiennya 39°C ke atas. Namun, bagi kita yang memiliki tuntutan pekerjaan dan kesibukan lain, walaupun panasnya naik sedikit, tetap cari obat. Iya atau nggak?

Oke, saya bukannya mau menyalahkan para pembaca yang minum obat penurun panas dan membuat kampanye anti obat kimia di sini. Namun, alangkah lebih bijak bila kita mengetahui obat yang akan digunakan, bukan? Soalnya, meskipun obat penurun panas bisa dikatakan sangat aman dan dijual bebas, tetap saja ada risiko yang ditimbulkan dari obat-obat tersebut, apalagi bila digunakan sembarangan.

Jadi, apa saja obat yang sering digunakan untuk menurunkan panas? Let’s check it out!

  1. Asam asetilsalisilat (asetosal/aspirin)

Asam asetilsalisilat yang dikenal sekarang merupakan hasil pengembangan para ilmuwan Jerman yang bekerja di suatu industri obat ternama, Bayer. Senyawa itu masih merupakan turunan dari asam salisilat yang telah lebih dahulu dikenal sebagai obat pereda nyeri. Bedanya sedikit saja, yang satu memiliki gugus asetil pada senyawanya, sementara pendahulunya tidak. Asam asetilsalisilat pun dikenal sebagai salah satu ‘tetua’ obat penurun panas yang masih digunakan sampai sekarang.

Obat ini diberikan dengan rentang dosis 325-650 mg setiap 4 jam bila demam (atau sesuai keterangan pada kemasan obat), maksimal 4 g/hari. Seperti pendahulunya, asam asetilsalisilat masih memiliki efek samping berupa gangguan pada lambung (mulai dari keluhan seperti penyakit maag, sampai perdarahan lambung), tetapi pada intensitas yang lebih sedikit. Untuk meminimalkan efek tersebut, obat ini diberikan setelah makan, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan lapisan mukosa yang melindungi lambung.

Perhatian bagi ibu hamil dan menyusui

Asam asetilsalisilat termasuk kategori D, yang tidak dianjurkan untuk digunakan selama masa kehamilan kecuali bila manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya. Obat ini dapat membahayakan janin bila digunakan selama trimester terakhir kehamilan. Obat ini dapat memasuki ASI sehingga dapat memberikan efek yang signifikan pada bayi yang disusui (terutama pada dosis besar) sehingga perlu digunakan secara hati-hati. Bagi ibu menyusui, perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.

Jangan gunakan asam asetilsalisilat bila alergi terhadap obat ini, menderita asma, memiliki riwayat tukak/perdarahan lambung, atau mengalami gangguan pembekuan darah seperti hemofilia.

Cek dulu obat ini sebelum digunakan. Meskipun tanggal kadaluwarsanya masih lama, jangan gunakan obat ini bila sudah berbau seperti cuka karena itu menandakan obat ini sudah terurai.

  1. Ibuprofen

Obat ini masih satu keluarga besar dengan asam asetilsalisilat, yaitu tergolong obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Sama-sama memiliki efek penurun panas dan pereda nyeri. Biasanya diberikan dengan dosis 200-400 mg setiap 4-6 jam bila perlu (atau sesuai keterangan pada kemasan obat). Maksimal diberikan dengan dosis 3200 mg/hari (atau 4 kali sehari). Namun, karena hubungan kekerabatannya itu pulalah obat ini memiliki efek samping yang mirip pula, yakni sama-sama dapat menyebabkan gangguan pada lambung (mulai dari perdarahan hingga merusak lapisan terdalam lambung). Untuk itu, obat ini harus diberikan setelah makan dan digunakan hanya ketika demam saja. Bila suhu tubuh sudah kembali normal, obat ini dapat dihentikan.

Perhatian bagi ibu hamil dan menyusui

Ibuprofen termasuk kategori D, yang tidak dianjurkan untuk digunakan selama masa kehamilan kecuali bila manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya. Obat ini dapat membahayakan janin bila digunakan selama trimester terakhir kehamilan. Bagi ibu menyusui, perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan ibuprofen.

Jangan gunakan ibuprofen bila alergi terhadap ibuprofen, atau sedang menggunakan asam asetilsalisilat untuk pencegahan stroke atau serangan jantung.

  1. Parasetamol (asetaminofen)

Obat ini bisa dikatakan primadonanya obat panas. Sejak banyak penelitian membuktikan berbagai efek samping aspirin, salah satunya perdarahan lambung, parasetamol semakin banyak digunakan untuk meredakan demam karena tidak atau sedikit sekali menyebabkan gangguan pada saluran cerna. Selain itu, obat ini tidak mengganggu fungsi ginjal seperti halnya aspirin.

 Parasetamol biasanya diberikan dengan rentang dosis 325-650 mg setiap 4-6 jam bila demam (atau sesuai keterangan pada kemasan obat). Bila demamnya sudah turun, obat ini tidak perlu dilanjutkan.  Namun, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai lebih dari 4 g sehari (setara dengan 8 tablet/kaplet 500 mg). Pasalnya, obat ini dimetabolisme di hati sebelum dikeluarkan dari dalam tubuh. Bila diberikan lebih dari 4 g, hati tidak mampu memetabolisme parasetamol menjadi senyawa yang tidak beracun. Akibatnya, parasetamol akan menumpuk dan bersifat racun yang dapat merusak hati.

Perhatian bagi ibu hamil dan menyusui

Parasetamol termasuk kategori C, yang berarti efek merugikannya pada ibu hamil masih belum diketahui karena belum ada bukti dari studi terhadap manusia. Karena itu, ibu hamil yang hendak menggunakan obat ini perlu berkonsultasi kepada dokter. Obat ini dapat memasuki ASI sehingga dapat diteruskan kepada bayi yang disusui. American Academy of Pediatrician menyatakan bahwa obat ini cukup aman untuk digunakan pada ibu menyusui. Namun demikian, ibu menyusui yang hendak menggunakan obat ini sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter.

Jangan gunakan parasetamol bila alergi terhadap parasetamol, menderita sirosis/pengerasan hati, atau memiliki riwayat alkoholisme.

Semoga bermanfaat.

Referensi

Informasi seputar aspirin. http://www.drugs.com/aspirin.html

Sejarah aspirin. http://en.wikipedia.org/wiki/Aspirin

Informasi seputar ibuprofen. http://www.drugs.com/ibuprofen.html

Informasi seputar parasetamol. http://www.drugs.com/acetaminophen.html

Catatan: Dosis yang tertera di atas merupakan dosis untuk orang dewasa. Untuk penggunaan obat penurun panas ini bagi anak, sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter terlebih dahulu untuk menentukan dosis yang tepat.

Advertisements

25 thoughts on “[Pharmonday] Lebih Dekat dengan Si Penurun Panas

  1. Saya selalu mencari paracetamol kalau demam. Biasanya ambil yang 500mg. Kalau parah banget baru 1.000.

    Dulu saya pikir mah 1000 mg dah over. Trnyata max 4 g ya? Thx for the info Ami.

    Gimana kalau konsumsi vit c Ami? Berapa dosis yang wajar?

    Liked by 1 person

    1. Sama-sama, Mas.
      Kebutuhan per hari vitamin C untuk laki-laki dewasa 90 mg, Mas Ryan. Kalau merokok, ditambahkan 35 mg, jadi 125 mg. Dosis maksimalnya 2000 mg 🙂

      Liked by 1 person

    1. Aku pernah coba produk kompres juga, entah apa mereknya. Mungkin Byebye Fever. Enak sih, berasa dingin pas ditempelkan ke kening. 🙂

      Like

  2. Parasetamol kalo dah gak tahan banget haha Aspirin kayaknya terkenal banget ya kalo di film2 suka pada ambilnya aspirin tp trnyata keras banget ya…I see..
    Berarti obat penurun panas anak yg digadang-gadang ibuprofen itu mesti sesuai resep dokter ya? Or else, berpotensi merusak lambung dan muntah, iya gak sih?

    Like

    1. Iya, Mbak, soalnya dosis untuk anak itu disesuaikan dengan berat badannya, juga mungkin ada pertimbangan lain juga dari dokter. Benar, aspirin terkenal sekali di film2 🙂

      Like

  3. Ami, dulu kalau disuruah bali asam silatsilat, salah taruih manyabuiknyo, untuang apotekernyo elok, tiok salah nyo batuan taruih tapi sampai kini masih lun apa namonyo lai 😀

    Like

  4. Saya juga berkecimpung di dunia kesehatan, ya saudaraan jauh lah sama bidangnya Ami 🙂
    Kadang itu pasien kalau datang cuma panas sama pilek dikit setelah diperiksa dikonseling buat istirahat, makan, minum aja nggak mau pasti maunya obat.

    Liked by 1 person

  5. Saya udah lupa kapan terakhir kali minum obat. Tapi kalo menurunkan panasa dari dulu saya mentoknya Paracetamol, ga pernah pake ibuprofen apalagi aspirin.
    Sekarang sih kalo demam tinggal minum air putih sampe kembung lalu meringkuk di bawah selimut, bobok yang nyenyak.
    btw, thank you infonya, Ami. Mmmuah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s