Belajar: Apakah Sekadar untuk Lulus Ujian?

image

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Rasanya sudah lama sekali tidak berbagi cerita di sini. Kalau harus membuat daftar alasan, saya yakin jumlahnya akan sangat banyak, lengkap dengan segudang pembenaran. Ada hikmahnya juga beristirahat sejenak dari aktivitas blogging, tetapi terlalu lama beristirahat membuat kemalasan makin meraja. Jadi, mau tidak mau, harus dipaksakan.

Sekarang sudah tanggal 3 Mei. Kemarin tanggal 2 Mei, yang diperingati sebagai Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional).
Saya masih ingat betul tulisan yang saya buat tahun lalu terkait Hardiknas ini. Intinya tentang kecurangan massal yang menggerogoti keabsahan hasil ujian nasional, serta kualitas peserta didik yang menyusut menjadi angka-angka dalam lembaran ijazah. Tahun ini, ada perubahan besar yang diterapkan dalam pelaksanaan UN. UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Selain itu, UN tidak hanya dilaksanakan dalam model ujian berbasis kertas, tetapi juga menggunakan komputer meskipun baru dalam tahap uji coba.

Saya merasa tidak enak jika harus mengulang isu yang sama dalam tulisan kali ini, padahal pemerintah telah bersusah payah untuk meminimalkan kecurangan. Namun apa daya, pemerintah masih saja kecolongan. Soal ujian yang seharusnya rahasia ternyata bisa lolos dan terbuka untuk khalayak penghuni dunia maya. Ada yang melihat kemiripan antara soal ujian resmi dengan soal bocoran. Mungkin ada sekian siswa pula yang memanfaatkan kesempatan untuk mencari jawaban berdasarkan soal yang diunduhnya di internet. Memang, angkanya bisa dikatakan kecil bila dibandingkan dengan banyaknya siswa SMA yang mengikuti UN bulan lalu, tetapi angka itu sama sekali tidak kecil bila dihitung secara individu. Nilai UN memang bukan penentu kelulusan tetapi dipertimbangkan untuk masuk perguruan tinggi. Jadi, sepertinya perubahan sistem UN saja tidak mampu mengeliminasi tindak kecurangan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka memanfaatkan ketakutan peserta UN untuk membuat ‘dagangan’ mereka, baik berupa kunci jawaban maupun bocoran soal, laris manis ‘dibeli’ para siswa. Selagi ketakutan itu ada, tumbuh, berbuah, dan lebih buruknya lagi, diwariskan kepada angkatan peserta ujian berikutnya, agaknya kecurangan akan terus ada dalam berbagai bentuk.

Terpikir oleh saya, mengapa UN menjadi momok bagi siswa, termasuk bagi saya dulunya? Mengapa belajar ditujukan agar lepas dari hantu kasat mata bernama standar kelulusan? Bukankah belajar harusnya dimaknai sebagai proses pencarian jawaban atas pertanyaan yang melintas di benak kita sebagai manusia? Belajar jauh lebih mulia dari sekadar petualangan memburu nilai. Bagi umat Islam, penting sekali untuk memerhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah melalui alam, serta mengambil pelajaran dari kisah-kisah kaum terdahulu. Bagi masyarakat Minangkabau, ada ungkapan, “alam takambang jadi guru”, yang berarti segala sesuatj yang terdapat di alam dapat dijadikan pelajaran. Dalam kehidupan profesional, terdapat istilah lifelong learning atau belajar sepanjang hayat, agar mereka selalu meningkatkan kualitas diri melalui ilmu-ilmu terbaru, dan mungkin masih banyak lagi istilah maupun ungkapan lain yang mendorong kita untuk terus belajar.

Dengan mengubah pola pikir kita terhadap proses pembelajaran, saya yakin bahwa proses belajar bukan hanya menyenangkan, tetapi juga lebih bermakna. Belajar bukan lagi dijadikan sebagai kegiatan yang dilakukan secara terpaksa untuk mendapat nilai yang asa lapeh makan atau asal lulus saja. Hasil pembelajaran akan lebih tahan lama di dalam ingatan, bukannya menguap habis begitu ujian selesai. Untuk mengubah pola pikir itu, dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, terutama orangtua di rumah dan guru di sekolah atau sarana pendidikan lainnya.

Saya pun acap salah memaknai hakikat proses pembelajaran, jadi tulisan ini bukan ditujukan untuk menceramahi Anda, melainkan juga untuk pengingat bagi diri saya sendiri. Semoga catatan sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Advertisements

13 thoughts on “Belajar: Apakah Sekadar untuk Lulus Ujian?

  1. Hhhm.. Dr yang kurasain pas SMA emang begitu adanya belajar untuk lulus.. Beda sama pas kuliah, belajar karena butuh belajar.. Beda jg dgn belajar agama, juga karena butuh..

    Yang aku rasain pas SMA, mata pelajarannya emang kebanyakan dan gak aplikatif (atau gurunya yang kurang bisa membuatnya terlihat aplikatif).. Sehingga murid pun belajar tanpa tau fungsinya apa selain untuk lulus ujian..

    Pas kuliah aku pakai sistem blok yang bikin dalam jangka waktu 2 bulan hanya 1 atau 2 topik (yang masih berhubungan) krn itu aku jd salut lho sama anak SMA dgn waktu yang singkat harus bisa belajar banyak materi yang berbeda. Kalau itu kuhadapi skrg, kayaknya emang bikin stress, yang kurang kuat iman milih nyontek aja.. Haha..

    Liked by 1 person

    1. Sama, Kak Nita. Apalagi untuk mapel Mtk, fisika, yang nggak begitu kusukai, jadi belajarnya sekadar untuk memenuhi tandar kelulusan. Kalau aku kuliahnha sistem sks, pas semster2 awal rasanya menyiksa karena aku nggak tahu belajar kimia secara terus menerus itu gunanya apa. Tapi pelan-pelan mulai mengerti apa manfaat setiap matkul yang dipelajari.

      Iya, salut sama anak SMA yang bisa belajar aneka mapel dalam sehari, belum lagi pr, latihan, ulangan, kuis, dan sebagainya.

      Like

  2. seandainya pola pendidikan sejak kecil lebih diarahkan ke pembekalan karakter, mungkin anak-anak indonesia akan kecanduan belajar.. Sayang pendidikan kita masih berkutat di masalah nilai dan ranking, belum ke esensialnya, tahu guna dan manfaatnya, wallahu’alam, hanya opini. hehe

    Selamat hari Pendidikan Nasional *udah telat ngucapin ya? ckck

    Like

    1. Biarpun cuma opini, tapi benar juga, An. Semoga generasi berikutnya bisa menikmati pendidikan, bukan terpaksa supaya dapat nilai bagus πŸ™‚

      Ini tulisannya juga telat, so…you are not alone πŸ˜€

      Like

  3. Pas UN tuh rasanya terlalu banyak mata pelajaran yang harus lulus ya, Mi.. Apalagi standar nilainya tinggi.. Pun pelajaran di sekolah daerah ngga sama dengan yang di kota.. Wajar kalok banyak kecurangan karena UN masih aja dijadikan sebagai tolok ukur kelulusan siswa 😦

    Liked by 1 person

    1. Iya, seakan-akan materi yang diterima siswa sekolah daerah sama dengan yang di kota besar. Syukurlah sekarang nggak jadi tolok ukur kelulusan lagi πŸ™‚

      Like

  4. Karakter menjadi isu paling besar bangsa ini. Seperti penyakit turun menurun yang menular. Siswa melihat bagaimana temannya atau kakak kelasnya melakukan kecurangan saat ujian. Saya berpikir, dari mana seorang siswa tahu cara menyontek kalau tidak melihatnya langsung saat masih belia?

    Liked by 1 person

  5. Suka dengan falsafah-falsafah Minangkabau yang diselipkan di tulisan ini!
    UN memang masih banyak (sekali) kekurangannya. Tapi kalau saya lihat, opsi menghapus UN juga tidak sepenuhnya benar, ya, soalnya exit exam itu menurut saya mutlak, jadi semacam pemetaan bagi kemampuan anak didik, dan keberhasilan pendidik juga. Kalau anak didiknya bisa tidak memandang exit exam sebagai momok, ya kemampuan sesungguhnya dari mereka-mereka pasti bisa keluar. Tapi itu susah, saya akui :haha.
    Cuma memang sistemnya sih yang masih harus diperbaiki. Yah, orang-orang di Senayan sana tentunya lebih tahu apa yang mesti diperbaiki. Mari kita dampingi pekerjaan mereka dari luar :)).
    Great writing!

    Liked by 1 person

    1. Waah, terima kasih sudah komen sepanjang ini, Bli. Exit exam memang perlu ya, semoga pelaksanaannya lebih jujur dan mewakili kemampuan peserta didik yang sebenarnya πŸ™‚

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s